Pribadi Sukses Fondasi Sukses Bangsa

Pribadi Sukses Fondasi Sukses Bangsa

SHARE

Oleh Dr. Marwah Daud Ibrahim

Mengapa ada negara maju, ada negara terbelakang. Mengapa ada daerah kaya, ada daerah miskin. Kenapa ada orang sukses, ada orang gagal.

Pertanyaan ini sudah diajukan lama dan dicoba cari jawabannya melalui berbagai methode. Ada yang melalui kontemplasi dan perenungan, ada dengan studi perbandingan, ada melalui penelitian.

Hasilnya pun beragam. Yang memakai pendekatan makro, umumnya menyimpulkan bahwa negara maju karena pilihan ideologi dan sistem politik yang dipilih dan dijalankan tepat. Kalau ideologi yang dipilih tepat, sistem politik ekonomi benar maka negara akan maju.

Sebaliknya yang memakai pendekatan mikro meyakini bahwa kemajuan suatu negara ditentukan oleh sikap, prilaku, pola pikir, kebiasaan manusia yang hidup di negara tersebut. Walaupun sistem negara baik tapi manusia di dalamnya tidak amanah, tidak kompeten tidak tekun dan tidak mampu bekerjasama tetap saja manusianya tidak sukses dan negaranya tidak maju.

Definisi tentang negara maju, sejahtera, bahagia pun masih terus dibahas dan diperdebatkan.

**
Kemajuan suatu negara adalah kombinasi dari banyak faktor.

Untuk wujudkan kemajuan suatu bangsa, penguatan ideologi sebagai tata nilai yang dipegang bersama semua warga sangat menentukan, agar semua tetap dan terus melangkah ke jalan yang benar.

Penyempurnaan sistem dan tatakelola pemerintahan, perusahaan dan masyarakat di semua tingkatan juga suatu keniscayaan. Agar segenap sub sistem bisa berjalan dan bisa saling bersinergi positif.

Tapi tidak kurang pentingnya adalah kualitas sumber daya insaniah, sumber daya manusianya. Sehingga perlu terus menerus dilakukan pengembangan pribadi (Personal development).

***
Sejak tahun 2003, ketika gagasan Nusantara Jaya 2045 digulirkan. Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa terlalu lama. Mengapa menunggu tiga dekade.

Jawabannya adalah karena kita perlu penyempurnaan sistem politik ekonomi dan sosial budaya. Ternyata belajar dari Buthan dengan penduduk 800 ribu, perubahan paradigma politik ekonomi dan sosial budayanya membutuhkan tiga dekade. Dan ini perlu didukung oleh perubahan di tataran individu dan masyarakat.

Menyiapkan sumber daya manusia ini membutuhkan waktu yang panjang. Anak yang lahir tahun ini insya Allah akan berusia 27 tahun pada tahun 2045. Yang usia 10 tahun dan sekarang di SD akan berusia 37 tahun. Yang usia mahasiswa, atau saat ini berusia 20-an tahun akan berusia 47 tahun.
Pola asuh, pendidikan, lingkungan sosial budaya yang generasi muda sekarang hidup sangat menentukan kualitas hidup mereka, dan sekaligus menentukan masa depan negeri.

****
Proses persiapan kader masa depan ini ibarat penguatan akar yang akan memperkuat pohon peradaban tegak berdiri.

Orang sering luput melihat proses kaderisasi yang sangat intensif untuk generasi muda melalui antara lain YMCA (Young Men Christiani Assosiation) di *Amerika Serikat*. YMCA melatih anak muda untuk menjaga iman, tetap berprestasi, peduli dan mampu bisa bekerjasama dan tidak larut dalam
kehidupan individualistik hedonistik.

Juga banyak dari kita tidak mencermati Proses pengembangan diri dan masyarakat melalui Community Center yang dibangun oleh Lee Kuan Yew di Singapura. Tempat di mana masyarakat dari beragam latar belakang saling berinteraksi untuk mencapai target bersama. Misalnya, bagaimana membuat lingkungan bersih, seni budaya berimbang, anak-anak berprestasi di berbagai bidang dll.

Kita juga banyak yang terpesona melihat kemajuan Turki saat ini tanpa mengetahui bagaimana peran ribuan madrasah dan khalaqah yang dipelopori Badiuzzaman Said Nursi menebarkan benih dan menanamkan nilai kepada generasi muda Turki agar “unggul secara intelektual, kaya dalam amal dan anggun dalam moral dan kebijakan.” Bagaimana proses yang dilakukan dengan tekun untuk menyeimbangkan rasionalitas dan spiritualitas bisa mengubah sistem pemerintahan sekuler Kemal Attaturk menjadikan Turki seperti saat ini.

Kitab suci dan kisah para Rasul sendiri juga memperlihatkan betapa kita perlu peningkatan kualitas dan kapasitas diri dengan meneladani jalan hidup tokoh pilihan.

Bagaimana Rasulullah Muhammad SAW, di usia muda menjadi peternak, lalu menjadi pedagang, kemudian menjadi pemimpin agama, dan sampai saat ini menjadi pemimpin peradaban.

*****
Sahabat tercinta se-Bangsa dan se-Tanah Air, jika saat ini sedang terjadi pertarungan ideologi dan sistem bernegara di negeri ini, tidak ada salahnya kita ikut bahas atau bahkan ikut serta berperan di dalamnya. Yang salah adalah jika semua atau sebagian besar energi kita tumpahkan ke sana.

Kita tetap harus investikan waktu, fikiran, tenaga, dana dan sumberdaya kita untuk pengembangan diri. Untuk personal development.

Kita bersyukur atas kekayaan alam yang Allah SWT anugrahi bangsa besar ini. Sesungguhnya anugrah besar yang kita miliki di negeri ini bukanlah Sumber Daya Alam (SDA) tapi Sumber Daya Manusia (SDM).

Jika 260 juta penduduk Indonesia sadar tujuan penciptaannya, kenal potensi dirinya lalu mengembangkan dan mengaktualisasikannya, maka yakinlah Nusantara akan bangkit memimpin peradaban. –

Salam NJ45.

Desa Wangkal, 1 Oktober 2017/11 Muharram 1439H.

#NasiRawonNJ45
#NusantaraJaya2045
#PengembanganPribadiNJ45

SHARE
Comment