Purgatorio Ramadan dan Aku-Autentik

Purgatorio Ramadan dan Aku-Autentik

SHARE

Oleh Mohd. Sabri AR

Agama selalu bermula pada yang numinous, Yang Tak Tercakapkan: dimulai dari senyap dan saat yang dahsyat dan berakhir dengan konstuksi. Agama juga diawali dengan gigil cinta yang ganjil, ada harapan, ada ketakutan—ada amor dan horor—yang bertaut. Ada momen tak lazim, unik, tapi juga terpuncak, ketika seseorang mengalami “kehadiran” sesuatu Yang Maha Lain, yang numinous,  yang dilukiskan Rudolf Otto sebagai mysterium—treemendum, fascinosum.

Di Abad 5 M, Santo Agustinus dikerkah pengalaman yang mirip: “Dan aku gemetar dengan kasih dan ngeri”. Di lekukan sejarah yang dingin, di Abad Pertengahan, pun penyair Dante mengeja kembali pesan-senyap itu dalam Divine Comedy, sebuah karya sastra-mistik yang dianyamnya dalam semesta kode yang sublim, yang mengandaikan seseorang mengalami “ketercelupan ontologis” ke yang numinous melalui fase: inferno-purgatorio-paradiso.

Ramadan identik  dengan purgatorio, semakna “pembakaran” atau “penempaan”. Ibarat  emas, terpisah dari logam yang merengkuhnya justru ketika dibakar dengan titik didih tertentu. Atau, sebilah keris menampakkan tuahnya, setelah ditempa ketelitian dan kesabaran yang agung. Di  bulan semesta-cahaya ini, Allah melimpahkan kasih-Nya agar manusia segera membersihkan diri dari selubung kegelapan dosa (zhulmâni) atau inferno:  fase dimana manusia tercerabut dari kebahagiaan sejati (paradiso) dan kesucian primordialnya (fitrah). Itu sebabnya, alegorisme Alquran mengandaikan manusia-tercerahkan adalah mereka yang bergegas bangkit meluruhkan selubung “aku-inferno” yang kelam-pekat menuju “aku-paradiso” yang cahaya: min al-zhulumâti ila al-nûr.

Alam purgatorio-ramadan, sebab itu, mengandaikan ide latihan (riyâdhah), yaitu latihan sang-aku dalam menyelami “pusat” dirinya yang tuah dan autentik agar tidak terjatuh ke lembah inferno. Dalam tradisi Abrahamic Religions—Yahudi, Nasrani, dan Islam—simbol  “kejatuhan” manusia primordial dan terusir dari paradiso, mengalir dalam narasi tentang Adam dan Hawa. Meski kedua insan pertama—kakek dan nenek buyut seluruh manusia—itu pada urutannya mendapatkan magfirah Allah swt. karena teguh menjalankan “Kalimat-kalimat-Nya” (Qs. 2: 37), namun mereka mewariskan anak cucu yang kesucian primordialnya selalu terancam jatuh perdetik. Sebab itu, setiap orang berpotensi jatuh martabat kemuliannya dan tersandera pada aku-tak-autentik alias aku-nisbi.

Latihan menahan diri (shiyâm) di alam purgatorio-ramadan bersumbu pada latihan untuk “membakar” aku-nisbi agar menemukan aku-autentik yang sepenuhnya merasakan “Kemahahadiran Allah” dalam segenap detak hidup: sebuah episentrum cahaya yang membawa aku-puasa menemukan kesucian asalnya dan kembali ke fitrah (‘îd al-fithr). Pada momen ini aku-puasa berada pada “puncak-terdalam” kebahagiaan sejati paradiso atau dalam tradisi Budhisme disebut sunyata, karena sukses menemukan dirinya yang tuah, asli, dan autentik.

Penemuan kembali aku-autentik menjadi sesuatu yang penting, karena kehidupan kita kini tengah dikepung oleh jejaring simulakrum, arena dimana simulasi diri-tak-autentik menemukan pijakannya. Akibatnya, pencarian sungguh-sungguh terhadap autentisitas diri pun, dengan sendirinya, termangsa oleh  imperium citra, galaksi kode, jagat lambang, dan semesta imajinasi. Hal itu senafas dengan apa yang digelisahkan Adorno dalam The Jargon of Authenticity (1983) sebagai  “suasana penuh jebakan dan perangkap yang menyesatkan, karena dunia citra dan simulakrum dipenuhi oleh jargon-jargon semu, termasuk jargon keautentikan”. Realitas kontemporer kita kini tengah tersedot ke dalam “lorong gelap” post-realitas: sebuah realitas palsu yang tidak lagi setia terhadap ada-sejati dan autentik.

Di titik ini, purgatorio ramadan hadir sebagai pelecut aku-puasa agar kian menemukan aku-autentiknya yang tuah dan selalu dihimpit rasa rindu dan cinta kepada yang infinitum. Resapilah  Kalam-Nya yang kudus: “Dia (Allah) bersama kamu di manapun kamu berada, dan Allah Maha Awas akan segala sesuatu yang kamu perbuat” (Qs. 57:4). Aku-puasa, sebab itu, selalu merasa dalam rengkuhan cinta-Nya yang muthmainnah, karena “Kemanapun kamu menghadap di sanalah Wajah Allah”. “Kami (Allah) lebih dekat dari urat lehernya sendiri (Qs. 50:16). Cinta yang menautkan kesatuan ontologis antara Allah swt. dan hamba-Nya.

Diriwayatkan bahwa Allah mewahyukan kepada nabi Dawud a.s.: Wahai Dawud ketahuilah bahwa dzikir-Ku/Kuperuntukkan para pendzikir/surga-Ku buat orang-orang yang taat/cinta-Ku buat orang yang merindukan-Ku/sedangkan diri-Ku/Kuistimewakan buat mereka yang mencintai-Ku.

Dalam shahifah nabi Idris a.s. juga disebutkan: “Sungguh beruntung suatu kaum yang menyembah-Ku karena cinta kepada-Ku/menjadikan-Ku Tuhan mereka/menghabiskan malam dan siangnya untuk berbakti kepada-Ku/semata karena cinta kepada-Ku/dan penyerahan diri mutlak untuk-Ku/dan menihilkan segala sesuatu selain-Ku.

Pengalaman  sublim “Kemahahadiran Allah” yang numinous, dalam detak-detik jantung para perindu dan pecinta, pada urutannya menyalakan spirit ketakwaan aku-puasa dalam aktus pencerahan dan ikhtiar pemeliharaan kesucian primordialnya. Di sini pula inti mengapa “puasa” dan “takwa” terpaut dalam buhul yang erat. Kualitas aku-takwa, sebab itu, adalah aku- tuah yang tercerahkan visun sosiokultural, moral, intelektual, dan spiritualnya: lokus kesadaran aku-autentik yang sejauh ini justru terbungkam sorak-sorai kehidupan hedonistik yang “menuhankan” materi.

Comment