Rasional, Cerdas dan Pilihan Dalam Pilkada

Rasional, Cerdas dan Pilihan Dalam Pilkada

SHARE

Ada kelompok pendukung pasangan calon tertentu yang sangat percaya diri alias pede sebagai kelompok rasional dan cerdas.Pasalnya, katanya mereka mendukung tokohnya itu karena prestasi kerja, program, atau istilah kerennya kinerja yang sudah terbukti. Sementara kelompok lain yang tidak setuju dengan mereka, atau memilih calon lain, mereka tuding sebaliknya: tidak rasional dan tidak cerdas. Bahkan tak jarang dituduh lebih jauh: SARA, fundamentalis, pendukung teroris, Arabis (loh, kok malah dia yang rasis), anti kebhinnekaan, bahkan anti NKRI.

Klaim dan tudingan itu menguasai jagad media sosial dan media mainsteam sehingga sempat menguasai opini publikdalam waktu cukup lama. Konon di medsos mereka punya pasukan yang dibayar mahal, dan media mainstream sudah mereka beli. Penguasaan itu terhenti setelah seluruh parpol mengumumkan pasangan calon mereka.

Pertanyaan dalam tulisan ini adalah: Apakah benar mereka rasional dan cerdas sekaligus? Mari kita bahas soal rasional terlebih dahulu.Rasional menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah menurut pikiran dan pertimbangan yang logis; menurut pikiran yang sehat; cocok dengan akal.Merasionalkan berarti membuat jadi rasional, sementara kerasionalan diartikan sebagai pendapat yang berdasarkan pemikiran yang bersistem dan logis; hal dan keadaan rasional. (http://kbbi.web.id/rasional.html).

Jika kita aplikasikan dalam pilihan terhadap paslon dalam pilkada, contoh seseorang memilih paslon tertentu karena selama dia tinggal di daerah tempat tinggalnya sekarang baru gubernur sekarang yang mampu membuat daerahnya tidak banjir.Ini adalah pemilih rasionalkarena alasan itu pikiran yang sehat, cocok dengan akal dan logis; ada pemikiran bersistem yang dipakainya yaitu manfaat untuk diri dan lingkungan tempat tinggalnya.

Tetapi bila dia kemudian mengatakan orang yang tidak memilih sama dengan pilihan dia sebagai tidak rasional, maka dia menjadi tidak rasional. Pilihannya rasional, tapi sikapnya terhadap pemilih lain tidak rasional. Mengapa? Bukankan pemilih lain itu punya pengalaman dan kebutuhan berbeda dengannya? Bisa saja yang lain tidak memilih gubernur itu karena baru kali ini (selama dipimpin oleh sang gubernur) daerahnya banjir, sebelumnya tidak pernah. Atau, dia tinggal tidak di daerah banjir tapi macet dan dia merasa perihal kemacetan itu tidak ada kemajuan. Rasional juga kan.

Lalu, apakah orang yang memilih karena alasan agama bisa disebut tidak rasional?Menurut saya agama itu memiliki konstruksi berpikir yang sistematis dan logis.Jadi, ketika orang memilih pemimpin dengan alasan agama ya sangat logis. Pemahaman atau tafsir terhadap Surat Almaidah 51 (dan ayat-ayat lain yang terkait) umpanya, kan berdasarkan sistematika tertentu dari teks Al Quran, hadist dan historis dikompilasi dalam sistem pikiran tertentu. Sesuau keyakinan juga tidak selalu ujug-ujug, tetapi bisa juga hasil pemikiran mendalam dan panjang.

Lain soal kalau tidak mengerti apa-apa tentang agama lalu memilih karena ikut-ikutan kawan saja, itu bisa disebut tidak rasional. Masalahnya, bukankah hal yang sama bisa juga terjadi pada siapa saja, termasuk pemilih actor di atas. Begitu pula orang yang beragama Kristen, pasti mereka punya sistem berpikir tertentu sesuai dengan agamanya sehingga mereka memilih tokoh yang seiman dengan mereka.Coba perhatikan dengan seksama dalam kasus DKI Jakarta, bukankah hampir 100% yang beraga Kristen pilihannya jatuh pada tokoh yang seiman dengan mereka?

Rasionalitas pilihan berdasarkan agama itu juga makin tampak bila mereka memilih berdasarkan fakta yang mereka lihat dan informasi yang mereka terima, umpamanya rumah ibadah mereka banyak yang dihancurkan, sejak petahana memimpin banyak aparat yang tidak sekeyakinan dengannya disingkirkan dan diganti dengan yang seagama dan dari etnisnya sendiri, maka wajar saja orang kemudian menjatuhkan pilihan pada yang seiman.

Atau, sebagai kelompok agama minoritas ada keinginan untuk meluaskan pengaruhnya pada pengambil kebiajakan publik sehingga mereka lebih marasa aman dari segi bisnis dan segi kehidupan lainnya bila dipimpin oleh yang siman dengannya.Alasan kedua kelompok agama itu rasional.

Bila rasionalitas dikaitkan dengan penilaian kinerja, maka pilihan berdasarkan indikator-indikator parsial seperti mengatasi banjir di daerahnya saja, kemacetan saja, membersihkan kali saja, dsj.justru menunjukkan ketidak rasionalan. Sebab, penilaian kinerja organisasi apapun, apalagi kinerja organisasi besar seperti pemerintah sangatlah rumit.Butuh pemahaman mendalam dan komprehensif untuk memahaminya.

Di perusahaan saja, yang organisasinya relatif lebih sederhana dibandingkan organisasi pemerintah, sangatlah berbahaya bila menilai kinerja secara parsial. Fokus pada efisiensi sepintas terdengar baik karena biaya perusahaan akan berkurang sehingga keuntungan perusahaan meningkat. Tapi upaya efisiensi biasanya memberi tekanan berlebih pada karyawan dan dengan alasan efsiensi kesejahteraan karyawan biasanya juga diabaikan.

Akibatnya karyawan bisa frustrasi dalam jangka panjang sehingga bisa mendorong masalah lain seperti pemogokan, pengunduran diri, dsb. karenaada ketidakpuasan pada perusahan. Ujungnya bisa diduga perusahaan tidak berjalan seperti yang diharapkan, produksi menurun, permintaan konsumen tidak bisa dipenuhi, dst. sehingga dalam jangka panjang perusahaan justru merugi. Begitu juga bila fokus pada marketing belaka tanpa memperhatikan peningkatan produksi umpamanya, bisa terjadi saat permintaan meningkat justru suplai barang terganggu sehingga konsumen kecewa, sehingga bisnis menurun, dst.

Di pemerintahan, karena mengelola wilayah yang luas dan masyarakat yang beragam dan dinamis, dimensinya lebih banyak dan lebih rumit.Program, kebijakan, aksi, bahkan omongan pejabat pemerintah, bila tidak dikendalikan dengan baik, bisa menjadi pisau bermata dua.Program pengentasan kemiskinan bisa malah menambah kemiskinan, kebijakan (apalagi represif) yang ditujukan untuk meredakan gejolak sosial justru bisa memperluas gejolak tersebut, begitu pula omongan pejabat yang tidak terkontrol bisa menimbulkan gelombang protes yang tidak terduga.

Di kampung saya, dana desa yang ditujukan untuk pengentasan kemiskinan dengan membangun infrastruktur, justru menjadi proses pemiskinan. Karena infrastruktur jalan dibangun di lokasi kampung yang tadinya tidak ada akses jalan sama sekali tanpa ada program peningkatan produksi di kampung tersebut. Akibatnya, begitu ada jalan mereka langsung kredit motor sehingga timbul biaya cicilan motor setiap bulan, sementara penghasilan mereka tetap.

Omongan Gubernur DKI yang menista agama telah memperluas gerakan anti terhadapnya; aksi represif kepolisian untuk meredam gerakan protes justru semakin memperluas basis dukungan kelompok pemrotes, yang tadinya hanya datang dari kelompok garis keras justru kini meluas ke kelompok kelas menengah Islam, termasuk kaum sosialita dan kelompok intelektual idealis.

Tujuan bernegara adalah untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.Untuk itu pemerintah bertugas meningkatkan pendapatan negara kemudian meredistribusikan kepada rakyat dalam bentuk program-program melalui mekanisme anggaran.Salah satu fungsi utama angaran pemerintah adalah memberikan stimuli pada pertumbuhan ekonomi sehingga tercipta lapangan kerja lebih banyak.

Nah bagaimana sebuah pemerintah dikatakan berkinerja baik bila penyerapan anggarannya rendah pada saat kemiskinan dan pengangguran meningkat.Bagaimana sebuah pemerintah dikatakan berhasil bila rumah rakyatnya digusur, lalu mereka dipindahkan ke lokasi yang jauh dari mata pencaharian mereka?Lalu dimana letak tidak rasionalnya orang-orang yang tidak mau memilih pemerintahan seperti itu?

Sementara cerdas menurut KBBI adalah 1) sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dan sebagainya); tajam pikiran; 2) sempurna pertumbuhan tubuhnya. Kecerdasan diartikan 1)perihal cerdas; 2) perbuatan mencerdaskan; kesempurnaan perkembangan akal budi (seperti kepandaian, ketajaman pikiran). Kecerdasan seringkali disambungkan dengan kata emosional (kecerdasan emosional) yang berbari kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar. Atau dengan kata intelektual (kecerdasan intelektual), yaitu kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi dengan yang lain. Sedangkan dengan kata spiritual (kecerdasan spiritual) dia bermakna kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesame manusia, makhluk lain, dan alam sekitar berdasarkan keyakinan akan adanya Tuhan YME. (http://kbbi.web.id/cerdas.html).

Dari definisi di atas jelas terlihatcerdas punya makna luas dan mendalam. Dia tidak semata soal kemampuan berpikir (akal budi), tetapi juga soal tubuh, hati, bahkan terkait dengan kepedulian – bukan hanya – pada sesama manusia, lebih dari itu kepedulian terhadap lingkungan, alam sekitar dan – bahkan –  makhluk lain berdasarkan ketuhanan.

Maka, berdasarkan definisi di atas, cerdas manakah antara orang yang memilih pemimpin yang hanya berhasil di sebagian kecil aspek kebutuhan masyarakat, kasar, tidak peduli dengan ketersinggungan kelompok mayoritas, tidak peduli pada keharmonisan interaksi sosial, dan perusak lingkungan; dengan kelompok orang yang tidak suka dengan pemimpin seperti itu, yang menginginkan keberhasilan yang lebih komprehensif dan lebih mendalam?

Oleh: Medrial Alamsyah

(Direktur Eksekutif SIGI Indonesia/Pengamat Kebijakan Publik)

 

SHARE