Home Opini Rasionalitas Sebagai Dasar dari Etika

Rasionalitas Sebagai Dasar dari Etika

63

Publik-News.com – Segala sesuatu yang kita pahami sebagai bukan diri kita, kita memahaminya dari luar. Kita melihat dan merasakan objek-objek fisik dalam ruang, melihat dan mendengarkan gerakan-gerakannya, dan demikianlah seterusnya. Dan jika kita tidak memiliki pengetahuan mengenai diri kita sendiri dari dalam, kita akan membangun sebuah konsepsi mengenai dunia eksternal yang secara total dilandaskan atas basis pemahaman dari luar. Ini menyebabkan pemahaman kita atas orang-orang lain diderivasikan dari tampakan-tampakan dan prilaku mereka, termasuk juga apa yang mereka katakan, kita bisa melakukan observasi atas mereka sebagaimana terhadap objek materiil yang lain.

Pengetahuan langsung yang kita miliki atas objek fisik dari dalam sedemikian berbeda sifatnya dengan pengetahuan tak langsung yang kita miliki atas semua objek lain yang kita dapatkan dari luar.

Dengan demikian, jelas bahwa jika kita memang ingin memahami hakikat bathin dan signifikansi dunia luar, kita harus melakukan investigasi kita melalui dua jalur penyelidikan tersebut. Dan tidak sekedar membangun persepsi tentang dunia luar berdasarkan pengamatan semata.

Dari pengalama kita hidup bersama orang lain, kita tahu bahwa kita bisa memahami maksud dari gerakan-gerakan mereka dalam ruang dan waktu, dan mengetahui makna dari gerakan tersebut, hanya dengan mengasumsikan bahwa orang lain tersebut memiliki–meski tidak langsung teramati oleh kita.

Sebuah kehidupan bathin yang sangat serupa modus dan bentuknya dengan kehidupan bumi kita—meski berbeda dalam isi dan detail.

Dengan cara menganalogikan dengan pengalaman bathin kita sendiri, kita bisa menarik kesimpulan bahwa sebagian prilaku mereka yang teramati oleh kita, termasul dalam apa yang kita sebut sebagai “prilaku yang disengaja”.

Demikian, kita mengamati objek, lalu memutuskan apakah sesuatu itu etis atau tidak etis.

Tentu saja kita memerlukan dukungan saintifik untuk melakukannya. Metode metode dan kriteria saintifik memiliki kewenangan yang tidak terbantahkan atas ranah realitas yang menjadi wilayah geraknya, dan sikap menyangkal hal itu akan berarti ketidaktahuan atau kebodohan, atau irasionalitas.

Sifat khas dari pengalaman bathin kita adalah setiap individu hanya bisa memiliki akses pada pengalamannya sendiri.

Jika kita menelusuri ke dalam bathin kita sendiri sejauh mungkin, hal terakhir yang kita capai ialah semacam kehendak untuk hidup, untuk bertahan hidup, untuk sekedar ada. Semakin kita menyelidiki berbagai emosi dan perasaan kita, semakin kita melihat bahwa semua itu merupakan modifikasi dari kehendak itu. Hal itu berarti, bahwa diri manusia, yang dalam observasi eksternal tampak sebagai objek-objek materiil dalam ruang dan waktu, ternyata dalam kehidupam bathinnya adalah kehendak, dan kehendak itu tidak bisa diobservasi secara eksternal.

Dalam proses saling mengobservasi antarmanusia, yang bisa manusia lihat dan dengar ialah objek-objek materiil tersebut berada dalam ruang dan waktu; karena mereka tahu dari pengalaman bathin mereka sendiri bahwa gerakan-gerakan fisik dalam ruang dan waktu merupakan tindakan-tindakan dari kehendak, maka mereka bisa menginterpretasikan gerakan-gerakan orang tersebut juga sebagai aktivitas yang digerakkan oleh kehendak, dan mereka lalu menyebutnya sebagai prilaku. Namun, perlu diketahui bahwa apa yang tertangkap oleh proses observasi secara intersubjektif dari tubuh-tubuh material yang berada dalam ruang dan waktu, tidak semuanya merupakan informasi yang relevan buat kita dan juga tidak memberikan semua informasi yang diperlukan untuk memahami apa yang menjadi makna dari gerakaj tubuh materiil tersebut.

Mengapa demikian, menurut Schopenhauer, hal seperti itu disebabkan karena pertama: perasaan batin (inner sense) kita eksis dalam dimensi waktu dan tak akan bisa dipahami tanpa waktu. Waktu merupakan bentuk dari perasaan bathin, dan hanya eksis di ranah fenomena. Oleh karenanya pengetahuan yang kita miliki tentang diri kita sendiri dalam perasaan bathin kita, termasuk dalam dunia fenomena, bukan merupakan pengetahuan tentang dunia neumena.

Kedua, pengetahuan mengenai hal apapun hanya bisa eksis didunia fenomena. Ini disebabkan karena pengetahuan yang demikian itu secara inhern bersifat dualustis dalam strukturnya: ada sesuatu yang diketahui dan mengetahuinya–sesuai yang dipahami dan sesuatu yang memahami.

Ketiga, karena merupakan atau diderivasikan dari observasi empiris. Investigasi-investigasi atas pengalaman bathin dan atas pengetahuan kita tentang diri kita sendiri dari-dalam, telah membawa kita pada kesimpulan bahwa sebagian besar dari persepsi, keinginan, harapan, serta ketakutan kita tidak tampil sebagai pengalaman sadar. Mengenai hal ini, psikoanalisis dari Sigmund Freud yang fundamentalnya disusun berdasarkan teori represi.

Lebih jauh Schopenhauer mengatakan bahwa lebih banyak kehidupan bathin kita itu tidak kita ketahui karena kita merepresinya.

Oleh: Hasanuddin

(Ketua Umum PBHMI 2003-2005)

Comment