Revitalisasi Nilai-nilai Pancasila

Revitalisasi Nilai-nilai Pancasila

SHARE
sumber gambar : wikipedia

Publik-News, Senin 30 Mei 2016.

Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latief menilai Pancasila sebagai ideologi kini nyaris pupus dari benak warga bangsa sehingga tidak tecermin dalam perilaku sehari-hari.

Sebelumnya, Rabu (25/5), Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyatakan hingga kini rancangan perpres yang mengatur hal itu ada dalam tahap penyelesaian. “Presiden tidak menginginkan 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila saja, tetapi benar-benar dijalankan dalam kehidupan sehingga nyata bagi masa depan bersama.“

Deputi Bidang Kelembagaan dan Tata Laksana Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rini Widyantini menyatakan peringatan 1 Juni masih dibahas. “Jangan hanya dianggap libur. Tetapi lebih sebagai penghargaan hari kelahiran Pancasila,“ ujar Rini sebagaimana dikutip oleh Harian Media Indonesia, Senin 30 Mei 2016.

JAJAK PENDAPAT “KOMPAS”

Orang Muda Menagih Makna Pancasila

Penerimaan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara mencapai tingkat yang sangat mapan. Kini, praktis tak lagi ada gugatan publik atas isi lima sila Pancasila. Namun, ada perbedaan cara memandang finalitas tafsir dan pemahaman Pancasila antara kelompok usia muda dan usia tua.

Dalam jajak pendapat ini, persetujuan terhadap Pancasila tecermin dari penerimaan yang secara kuantitas hampir bersifat absolut. Hampir semua responden (95,1 persen) menyatakan, Pancasila adalah dasar negara terbaik bagi Indonesia. Bahkan, hampir 100 persen responden menyatakan, keberadaan Pancasila sebagai dasar negara yang harus dipertahankan. Tak hanya itu, pengamalan Pancasila juga dipandang sebagai ”obat penawar” atas berbagai persoalan bangsa.

Jajak pendapat ini mencoba mengungkap empat dimensi, yakni persetujuan publik terhadap Pancasila, pengenalan terhadap lima sila Pancasila, pemahaman nilai-nilai Pancasila, dan tindakan yang ”Pancasilais”.

Terkait pengenalan sila Pancasila, hanya 58,5 persen responden yang masih ingat dan hafal menyebut secara relatif lengkap dan berurutan sila-sila Pancasila. Sebagian besar responden mengaku mengenal Pancasila dari masa sekolah dulu. Sayangnya, diakui responden, kini pengenalan terhadap sila dan nilai-nilai luhur Pancasila makin melemah terutama dari kelompok responden usia tua.

Sejumlah pihak menunjuk dihapuskannya Pendidikan Pancasila dalam bentuk formal menjadi hanya Pendidikan Kewarganegaraan di semua jenjang pendidikan membawa konsekuensi makin ditinggalkannya pemahaman normatif tentang Pancasila. Sementara itu, nilai-nilai Pancasila seperti musyawarah, gotong royong, kerukunan, dan toleransi beragama dalam realitas hidup sehari-hari juga dinilai semakin dipinggirkan. [Sumber:Harian Kompas, 30 Mei 2016]

SHARE
Comment