Revitalisasi Peran Masjid bagi Masyarakat Sekitar

Revitalisasi Peran Masjid bagi Masyarakat Sekitar

SHARE
https://masbadar.com/

Oleh Ahmad Fauzan Baihaqi*

Keberadaan Masjid penting bagi umat Islam, fungsinya tidak hanya terbatas sebagai tempat beribadah namun juga mempunyai fungsi sosial. Dari sejak berdirinya (abad ke-7 M), masjid dalam Islam, salah satunya berfungsi kalau bukan sebagai fungsi utama untuk pembentukan kohesi sosial (horizontal), baik untuk internal umat Islam maupun untuk eksternal (antara umat Islam dan non Islam). Di masjidlah, Nabi Muhammad pada abad ke-7 mempersatukan umat Islam antara kaum Muhajirin (masyarakat Arab yang hijrah dari Mekah ke Madinah) dengan kaum Anshar (para penolong Arab Muslim yang berasal dari Madinah), terutama lewat pengajaran dan praktik ritual Islam semisal salat berjamaah dan salat Jum’at. Nabi juga di Masjid Madinah mempersatukan kaum Arab Muslim Anshar, yaitu antara suku Aus dan Khazraj yang sebelum Islam datang ke Madinah mereka tidak bersatu. Akibatnya, dalam kontestasi sosial, politik, dan ekonomi, bahkan kultural, kalah oleh komunitas Yahudi yang juga menetap di Madinah.

Upaya pembentukan kohesi sosial internal Islam yang dilakukan Nabi itu sering disebut sebagai upaya membentuk ukhuwwah Islamlyah,  atau dikenal juga dengan pembentukan  ummah, sebuah komunitas sosial  yang didasarkan pada solidaritas sesama Muslim dan kesetiaan kepada wahyu. Persaudaraan berdasarkan agama ini mengganti persaudaraan sebelumnya yang berdasarkan darah yang telah membuat bangsa Arab tercerai berai. Solidaritas komunal Muslim yang dibentuk di masjid ini, menurut Watt, menunjukan bahwa Islam memiliki relevansi yang kuat dengan organisasi politik dan kemasyarakatan. Islam tidak mengenal pemisahan agama dengan politik secara mutlak seperti yang terjadi di Barat. Dengan pembentukan ummat yang dilakukan terutama di masjid ini, Nabi bahkan telah mengintegrasikan kekuatan bangsa Arab di bawah landasan dan motivasi keimanan. Hasilnya, dalam waktu yang relatif singkat (10 tahun) berkat pembaharuan/pembentukan kohesi sosialnya yang revolutif di masjid tersebut, Nabi menjadikan mereka terhormat dalam sejarah.  Padahal, sebelumnya mereka sebagai bangsa yang paling terbelakang di dunia.

Di masjid juga bahkan Nabi Muhammad melakukan upaya kohesi sosial antara kaum Muslimin dengan non Muslim. Sebagaimana diceritakan Ibn Hisyam, saat Nabi tengah melaksanakan shalat Asar, datanglah  rombongan tokoh Nasrani yang berjumlah 60 orang. Mengetahui Nabi sedang berada di masjid, mereka langsung menuju masjid. Ada kisah bahwa Nabi memang sempat menolak menerima mereka di masjid. Namun, hal itu karena alasan mereka memakai jubah dengan perhiasan mewah. Setelah mereka melepaskan perhiasannya, Nabi menerima mereka dengan baik. Usai berdialog dengan Nabi, dan waktu kebaktian telah tiba, mereka pun diizinkan oleh Nabi untuk melakukannya di dalam masjid dengan menghadap ke arah timur. Nabi pun bersabda kepada mereka: ”Tempat ini disucikan untuk memuliakan Tuhan”.

Sikap Nabi di masjid ini sama dengan upayanya membentuk kohesi sosial antara Muslim dan non Muslim di Madinah sebelumnya lewat “Perjanjian Madinah” (Mitsaq Madinah). Mitsaq Madinah adalah sebuah kontrak politik di mana non Muslim mengakuai kepemimpinan temporal Nabi di Madinah dengan pemberian hak-hak dasar Non Muslim. Melalui perjanjian yang menurut sebagain ahli seperti Nurcholish Madjid merupakan konstitusi pertama di dunia itu, golongan Yahudi dan suku Arab yang masih menganut agama nenek moyangnya diberi bukan saja jaminan kebebasan memeluk dan mengamalkan agama (pasal 25), tetapi juga hak-hak politik bagi seluruh warga, termasuk non Muslim, seperti dalam mempertahankan kota dari serangan musuh luar (antara lain pasal 37). Negara Madinah –yang dibangun dengan berbasis masjid dan aturan bersama (Perjanjia Madinah) yang menanamkan dan membangun  kohesi sosial itu sesungguhnya adalah negara multi agama dan etnis.

Kohesi sosial di masjid juga bisa dilihat dari tradisi kaum Muslimin sejak abad ke-7 hingga saat ini dimana mereka secara bersama-sama memanjatkan doa perdamaian setiap selesai salat wajib. Doa itu berbunyi: “Allahumma antas salam, waminkas salam, … fahayyina rabana bissalam, waadkhilnal janta daras salam (Ya Allah, Engkaulah Yang Maha damai, Dari Engkaulah berasal kedamaian,… maka hidupkanlah kami dalam damai, dan masukkanlah kami kedalam negeri penuh damai)”.

Dalam Islam masjid adalah milik semua Muslim. Muslim mana pun boleh beribadah di masjid manapun, tanpa harus terikat oleh masjid tertentu. Dengan begitu, silaturrahmi dan kohesi sosial di kalangan Muslim dimungkinkan terjadi, bukan saja kohesi sosial antara sesama Muslim di tempat mereka tinggal, melainkan juga di tempat lain dimana mereka tidak tinggal di sekitar masjid.  Bahkan, kerjasama kegiatan semisal pengajian dan juga pemberdayaan sosial lainnya dimungkinkan. Lewat masjid, Islam ingin membentuk ummah, sebagai kekuatan sosial. Karenanya, masjid yang dibangun Nabi Muhammad di Madinah juga menjadi center of activities, tidak hanya untuk ibadah murni (ritual).

Namun, perkembangan belakangan membuat masjid tidak seperti di atas.  Masjid tidak lagi menjadi center of activities, melainkan hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ibadah murni (ibadah yang terkait langsung dengn Tuhan). Dialog dengan non Muslim, bahkan kedatangan non Muslim di masjid oleh sebagian Muslim dilarang.Namun, Masjid dalam batas-batas tertentu turut berperan dalam perdamaian, terutama saat terjadi konflik social, sepertisaat terjadinya konflik sosial berlangsung di Maluku pasca runtuhnya Orde Baru. Selain itu, di Indonesia sendiri, secara ekslusif ada juga masjid yang khusus untuk jamaah tertentu saja. Misalnya masjid-masjid LDII (Lembaga Daklwah Islam Indonesia) atau yang sering disebut masjid kalangan Islam Bugis. Di sebagian negara dimana Muslim menjadi minoritas bahkan masjid juga bersifat etnisitas. Warga Australia yang berasal dari Banglades umpamanya memiliki masjid sendiri, sebagaimana warganegara Australia asal Pakistan dan juga Indonesia.

Untuk itu perlu kiranya kita meningkatkatkan kembali kualitas Masjid, bicara soal kualitas Masjid dapat dapat dilihat dari dua hal, yaitu kualitas fisik dan kualitas kemakmuran. Masjid dapat terlihat baik juga dari tiga hal yaitu, pengelolaan Masjid, pemberdayaan umat, dan keorganisasiannya. Masjid akan menjadi baik jika ketiga unsur ini ada. Pengurusnya berkualitas, programnya berjalan, dan secara fisik Masjid juga layak dari berbagai sisi.

 

Comment