RUU Pemilu Disahkan, Jokowi Dinilai Takut Berhadapan Dengan Prabowo

RUU Pemilu Disahkan, Jokowi Dinilai Takut Berhadapan Dengan Prabowo

SHARE
DEBAT CAPRES 2014

Publik-News.com – Partai Gerindra menilai dengan disahkannya RUU Pemilu tidak lebih mengejar ambisi kekuasaan agar Presiden Jokowi kembali terpilih menjadi Presiden pada 2019.

Menurutnya, ambisi kekuasaan itu dipaksakan karena Jokowi dihawatirkan akan kalah jika berhadapan dengan Prabowo Subianto. Makanya, kata dia, syarat pengajuan calon Presiden dipersulit dengan disepakatinya ambang batas sebesar 20 persen kursi DPR dan 25 persen suara nasional.

“Apa yang tersaji dalam paripurna semalam itu bukti bahwa rezim pemerintahan Jokowi takut. Dari kekalahan Ahok di Pilkada DKI, rezim ini kemudian menggunakan berbagai cara agar syarat pencapresan 2019 dikuasai rezim Jokowi,” terang Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Andre Rosiade dalam keterangannya, Jumat (21/7/2017).

Andre menambahkan, keputusan ambang batas itu tidak lain pemerintahan Jokowi dan pendukunganya belajar dari pengalaman Pilkada DKI yang tidak bisa memenangakan Ahok. Dari realitas politik itu, Rezim Jokowi ini berani mengesahkan RUU Pemilu meski mengabaikan putusan MK soal Pemilu 2019.

“RUU Pemilu jadi alat untuk memastikan Pilpres 2019 hanya diikuti calon tunggal, agar Jokowi tidak bertemu atau head to head dengan Prabowo Subianto. Sebenarnya sudah sangat jelas jika partai pemerintah panik,” jelas Andre.

Selain itu, lanjut Ander, Jokowi melupakan janji-janjinya saat Pilpres 2014 yang akan mengupayakan berjalannya demokrasi yang sehat. Namun, dari penegakan hukum saja jauh dari harapan.

Ia mencontohkan dengan diterbitkannya Perppu ormas menunjukkan pemerintah bertindak sewenang-wenang. Belum lagi, Jokowi mempertontokan rezim otoriter dengan membubarkan  Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

“Janji tinggal janji, jauh panggang dari api. Tidak heran jika banyak pihak menyebut rezim sekarang menuju pemerintahan yang otoriter,” ucapnya.

 

 

 

SHARE
Comment