“Saya Pikir, PDIP Juga Di Kemudian Hari Akan Dikhianati”

“Saya Pikir, PDIP Juga Di Kemudian Hari Akan Dikhianati”

SHARE
INDONESIA MEGAWATI JAKARTA RALLY BULL

Publik-News.com – Kedatangan Cagub petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ke kediaman ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri melahirkan tafsir adanya kunjungan permohonan dukungan politik. Sejak itu berkembang spekulasi bahwa hampir pasti PDIP mendukung Ahok.

Namun pada kenyataannya, PDIP tak kunjung mempertegas dukungannya. Partai berlambang moncong putih ini belum mengambil sikap untuk siapa dukungannya akan ditumpahkan pada Pilkada DKI 2017 nanti.

Pengamat politik Pangi Sarwi Chaniago (Ipang) mengungkapkan kehadiran Ahok ke rumah Megawati tak akan memberi nilai tambahan dukungan. Ia percaya PDIP tak akan mendukung Ahok di Pilkada DKI nanti.

Menurut Ipang, gaya politik Ahok memberi beban berat bagi PDIP untuk mendukungnya. PDIP gamang dan dipenuhi rasa was-was akan dikhianati Ahok diujung cerita nanti mengingat berbagai kemungkinan politik dapat terjadi.

“Kalau kita perhatikan, saya pikir PDIP juga bisa dikemudian hari dikhianati. Tentu PDIP tidak mau akhir ceritanya tragis, pikiran ekstream bagaimana kalau kemudian PDIP ditinggal presiden Jokowi, sekarang saja sudah ada sinyal presiden main mata dengan Golkar, gubernur  Ahok sudah pernah merecoki Golkar dan Gerindra. Kalau tidak terbendungnya popularitas dan elektibilitas gubernur Ahok, maka skema presiden Jokowi berpasangan dengan Ahok pada pilpres 2019, itu alasan yang cukup logis,” ujar Ipang dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (25/8/2016).

Ipang mengungkapkan PDIP menyadari betul tipologi Ahok. Sehingga, kata dia, faktor ketidakcocokan tersebut yang juga membuat PDIP tak akan mendukung Ahok.

Lebih dari itu, Ipang menyatakan derasnya tensi penolakan terhadap gubernur Ahok dari kader akar rumput PDIP bukan membalikkan realitas dan alasan yang mengada-ngada. Dilihat secara luas, kata dia, parpol sebagai suprastruktur politik sudah selayaknya merepresentasikan kehendak publik.

“Berangkat dari konteks tersebut, parpol tidak boleh mengangkangi dan menakut-nakuti kader kader yang menolak pencalonan gubernur Ahok, akan diberi sangsi keras. Megawati sebagai elite penentu ( the rulling party) tidak mungkin tertutup, feodal apalagi otoriter, sebab saham PDIP tidak dimiliki hanya satu orang. Kemudian  Bukankah tradisi politik PDIP bahwa kader itu ‘petugas partai’, sehingga prasyarat kader PDIP ialah kader intelektual ideologis, menuntut sebuah loyalitas tingkat tinggi, kader yang bukan mencla mencle, berani beda karena prinsip, nurani dan logika,” ucapnya.

Ipang menyebutkan bahwa PDIP memiliki banyak kader seperti Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo, Djarot Saiful, Boy Sadikin yang punya potensi membuat gubernur incumbent tersungkur dalam iklim politik yang normal.

“Partai berlambang Banteng Moncong Putih, memiliki  kader yang sudah jelas-jelas tak diragukan lagi kesetian, kapabilitas dan all out habis membela PDIP dan rakyat, tinggal partai mempertahankan adat istiadat politik terkait pembacaan logika meritokrasi di tubuh partai. Mengapa PDIP  harus mengusung Ahok, padahal saat yang sama PDIP jelas-jelas punya kader terbaik? Itu pertanyaan retoris yang logis,” pungkasnya.(Ahmad)

SHARE
Comment