Seberapa Besar Dampak “Brexit” terhadap Ekonomi Indonesia?

Seberapa Besar Dampak “Brexit” terhadap Ekonomi Indonesia?

SHARE
http://bsmedia.business-standard.com/_media/bs/img/article/2016-02/23/full/1456234290-31.jpg

Oleh M Fajar Marta

 

Masyarakat Inggris telah memilih takdirnya sendiri. Mereka memutuskan meninggalkan Uni Eropa (UE) lewat referendum yang bersejarah.

Jumlah warga Inggris yang memilih keluar dari UE (Brexit/British Exit) mencapai 17.410.742 orang (52 persen) berbanding dengan memilih tetap bergabung dengan UE (Brimain/British Remain) sebanyak 16.141.241 orang (48 persen).

Hasil referendum tersebut tentu saja membawa berbagai implikasi.

Bukan hanya untuk Inggris dan UE sebagai pihak yang terlibat langsung, tetapi juga dunia internasional, mengingat UE dan Inggris merupakan salah satu kekuatan utama dalam dinamika politik dan ekonomi global.

Terbukti, keputusan Brexit langsung direspon pasar keuangan di seluruh dunia.

Kurs poundsterling, mata uang Inggris, langsung terjun bebas ke level 1,33 dollar AS atau melemah sekitar 10 persen dibandingkan level sehari sebelumnya.

Posisi tersebut tercatat sebagai yang terendah dalam 31 tahun terakhir.

Pasar global ramai-ramai melepas pound dan mengalihkan dananya ke mata uang dollar AS, yen Jepang, dan emas yang dianggap lebih aman dalam situasi penuh ketidakpastian seperti saat ini.

Pasar keuangan Indonesia sudah pasti juga terkena dampak Brexit. Maklum, pemain asing masih sangat dominan dalam pasar keuangan Indonesia.

Pada penutupan Jumat (24/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 39,74 poin atau 0,82 persen ke posisi 4.834,57.

Nilai tukar rupiah juga melorot. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, perdagangan rupiah ditutup melemah ke level Rp 13.296 per dollar AS dari sehari sebelumnya di posisi 13.265 perdollar AS.

Pertanyaannya, apakah Brexit benar-benar akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia memburuk?

Jawabannya : belum tentu atau tidak.

Gejolak di pasar modal dan pasar uang tersebut belum jadi indikator kuat bahwa Brexit akan berpengaruh signifikan terhadap perekonomian Indonesia.

Sebab, gejolak tersebut lebih digerakkan oleh faktor sentimen ketimbang faktor fundamental.

Seperti diungkapkan Gubernur BI Agus Martowardojo, merupakan kewajaran jika kurs rupiah bergejolak akibat Brexit.

Namun, gejolak tersebut bersifat temporer dan akan reda dalam beberapa waktu ke depan.

Menko Perekonomian Darmin Nasution pun mengungkapkan hal serupa.

Karena ketidakpastian yang meningkat akibat Brexit, investor cenderung melepas asetnya dalam rupiah dan mengalihkannya ke aset yang lebih aman dalam dollar AS atau emas.

Ketika ketidakpastian mulai mereda dan investor sudah bisa mengalkulasi risiko yang timbul, dana yang keluar akan kembali ke Indonesia.

Perdagangan

Lalu, bagaimana mengukur pengaruh fundamental Brexit terhadap perekonomian Indonesia?

Faktor fundamental yang harus dilihat tentulah perdagangan antara Inggris dan Indonesia serta investasi langsung (Penanaman Modal Asing/PMA) Inggris di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata porsi nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Inggris hanya 1,2 persen dari total nilai ekspor nonmigas Indonesia ke seluruh dunia.

Pada tahun 2015 misalnya, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Inggris sebesar 1,53 miliar dollar AS atau 1,16 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia yang sebesar  131,73 miliar dollar AS.

Pada tahun 2015, Inggris berada di urutan ke-21 negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia.

Ekspor Indonesia ke Inggris kalah jauh dibandingkan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat, China, Jepang, India, dan Singapura

Dibandingkan negara-negara yang tergabung dalam UE, ekspor Indonesia ke Inggris juga masih kalah dibandingkan ekspor Indonesia ke Belanda, Jerman, dan Italia.

Pada triwulan I 2016, ekspor nonmigas Indonesia ke Inggris sebesar 364 juta dollar AS atau 1,2 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia ke seluruh dunia.

Sementara itu, rata-rata porsi ekspor Indonesia ke UE terhadap total ekspor adalah 10 persen.

Artinya, ekspor Indonesia ke negara-negara UE jauh lebih besar dibandingkan ke Ingris.

Neraca perdagangan Indonesia terhadap Inggris selalu surplus. Artinya nilai ekspor Indonesia ke Inggris lebih besar ketimbang impor Indonesia dari Inggris.

Maka itu, dilihat dari sisi perdagangan, Brexit kemungkinan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. [lihat gambar 1]

pic 1 ekspor-impor-inggris780x390 

Investasi

Bagaimana dari sisi investasi?

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),  investasi langsung (foreign direct investment) Inggris di Indonesia tahun 2015 sebesar 503 juta dollar AS atau 1,71 persen dari total PMA senilai 29,27 miliar dollar AS.

Inggris merupakan negara kesepuluh terbesar dalam jumlah investasi di Indonesia. Nilai investasi Inggris masih di bawah Singapura, Malaysia, Jepang, dan Belanda.

Namun, dibandingkan negara-negara UE, investasi Inggris merupakan kedua terbesar setelah Belanda.

Jadi, dari sisi investasi, pengaruh Inggris relatif lebih besar ketimbang pengaruhnya dari sisi perdagangan.

Kendati demikian, dilihat dari nilainya, investasi Inggris juga tidak berpengaruh signifikan terhadap PDB Indonesia.

Dengan kata lain, jika ekonomi Inggris ambruk gara-gara Brexit, pengaruhnya relatif kecil terhadap fundamental perekonomian Indonesia. [lihat gambar 2]

Pic 2 negara investor

Lalu, bagaimana jika perekonomian Inggris maju pesat setelah Brexit.

Nah, inilah yang menjadi tantangan Indonesia.

Menurut ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Dzulfian Syafrian, Indonesia bisa mengambil keuntungan dari Brexit jika pemerintah Indonesia proaktif melobi pemerintah Inggris.

Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah membuat bilateral Free Trade Agreement (FTA) dengan Inggris.

Kesimpulannya, dalam jangka pendek, pasar keuangan Indonesia mungkin agak bergejolak gara-gara Brexit.

Namun dalam jangka panjang, Brexit justru bisa menguntungkan Indonesia secara fundamental. [kompas.com, 25 Juni 2016]

 

 

SHARE
Comment