Sedkitnya Lima Tantangan Aktifis Perempuan Untuk Menjadi Anggota DPR

Sedkitnya Lima Tantangan Aktifis Perempuan Untuk Menjadi Anggota DPR

SHARE

Publik-News.com – Anggota Komisi X DPR RI, Reni Marlinawati menegaskan ada beberapa tantangan yang dihadapi aktifis politik perempuan untuk menjadi anggota legislatif meski Undang-undang menyebutkan bahwa keterwakilan perempuan sebanyak 30 persen diparlemen.

Pertama, adanya hambatan langsung, kurangnya kepercayaan perempuan terhadap sistem politik. Selama ini politik selalu dikesankan sebagai dunia laki-laki, karenanya kalangan perempuan tidak perlu masuk dke dalam sistem politik.

“Hal ini juga berimplikasi pada rendahnya minat perempuan terjun ke dalam dunia politik, selain juga disebabkan kurang percaya diri,” papar Reni.

Kedua, kurangnya perhatian partai politik terhadap perempuan. Kalangan kaum peremuan yang memiliki banyak keterbatasan dibiarkan bertarung dengan laki-laki. Seharusnya partai politik memberikan “keistimewaan” terhadap kalangan perempuan.

Ketiga, hambatan yang bersifat mendasar adalah pemahaman keagamaan yang terlalu patriarki, sehingga menyulitkan kalangan perempuan. Dunia politik seakan menjadi milik laki-laki dan perempuan hanya boleh di dapur, kasur dan sumur.
“Ini adalah hambatan yang sangat berat bagi kalangan perempuan yang ingin terjun ke dunia politik,” kata Wakil Ketua Umum PPP ini.

Keempat, secara kodrati perempuan diberikan keistimewaan dapat mengandung, melahirkan, dan menyusui. Keharusan ini mau tidak mau telah mengurangi keleluasaan mereka untuk aktif terus menerus dalam berbagai bidang kehidupan.

Kelima, hambatan soal budaya, terutama dalam bentuk stereo type. Padangan ini melihat perempuan sebagai mahluk yang pasif, lemah, perasa, tergantung, dan menerima keadaan. Sebaliknya, laki-laki dinilai sebagai mahluk aktif, kuat, cerdas dan sebagainya.

“Pandangan ini secara sosio-kultural menempatkan laki-laki lebih tinggi derajadnya dibanding perempuan,” tutup Reni.
(Taufik)

Comment