Sekilas Tentang Pemikiran Karl R Popper

Sekilas Tentang Pemikiran Karl R Popper

SHARE

Karl R. Popper meninggal Sabtu, 17 September 1994, dalam usia 94 tahun. Professor bidang logika dan metode saintifik ini pernah memimpin London School of Economics dan mengetuai Aristotelian Society di London pada dekade 50-an. Karya tulisnya dalam bentuk buku ada selusin.

Beberapa di antaranya: The Two Fundamental Problems of Epistemology, (terbit 46 tahun setelah ditulis), Realism and the Aim of Science, The Open Universe; An Argument for Indeterminism, dan Quantum Theory and the Schism in Physics (ini ditulis pada masa puncak karirnya). The Logic of Scientific Discovery adalah karya monumentalnya di bidang epistemologi sains. The Open Society and the Poverty of Historicism, adalah kritik dia atas Plato dan Marx.

Inti filsafatnya adalah klaim bahwa kritik bisa memunculkan pertumbuhan dan perkembangan, termasuk pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan kita. Setelah mengkritik habis bangunan filsafat Plato hingga Marx, mengkritik teori Kant, ia juga menyempurnakan teori Kant. Popper juga melakukan kritik terhadap teori, Hume, Locke dan Einstein dalam hal empirisisme.

Dia menggulung habis paradigma positivisme logis dari Witgenstein, meski popper sendiri tidak mau memasuki aspek neumenal dan fenomenal yang dibahas tuntas oleh Schopehouer. Seperti yang lainnya, Popper juga mengakui dan membangun kerangka pikirnya dengan teori relativisme Einstein.

Berdasarkan filsafat kritis (begitu ia menamai filsafatnya) Popper mengajukan prinsip umum bahwa pemikir haruslah mengarahkan perhatiannya bukan kepada sebuah topik, tapi pada sebuah masalah. Problem dipilih karena makna pentingnya secara praktis atau karena kepentingan intrinsiknya, dan kemudian sang pemikir berupaya merumuskannya sejelas mungkin dan sedapat mungkin bisa menciptakan konsekuensi. Kemudian tugasnya yang utama adalah memecahkan problem itu atau paling tidak memberikan konstribusi untuk memahaminya secara lebih baik.

Hal demikian, akan memberikan kriteria tentang relevansi yang menyingkirkan sebagian hal yang mngkin dibahas mengenai suatu topik. Kriteria ini juga akan menghasilkan penilaian, apakah diakhir pembahasan, kita telah mencapai sesuatu. Tugas pemikir adalah mengindentifikasi sebuah problem yang bernilai, kemudian mengusulkan sebuah kemungkinan solusi atas problem tersebut, dan memahami implikasi-implikasi terjauh dari usulan solusinya itu. Dia juga harus bersedia menerima keberatan keberatan terhadap usulannya, dan mengajukan jawaban jawaban atas keberatan tersebut.

Hal fundamental dari filsafat politiknya sebagaimana juga epistemologi sainsnya, adalah ide-idenya yang mengatakan bahwa sungguh mudah untuk berbuat kekeliruan tetapi sebaliknya kita tidak mungkin untuk benar-benar merasa pasti apakah kita sudah benar. Dalam hal ini kritik adalah merupakan agen dari kemajuan.

Sebelum Popper muncul hampir setiap orang percaya bahwa demokrasi tidak efisien dan lamban, meski demokrasi juga memiliki keunggulan dalam hal kebebasan dan kelebihan kelebihan moral lainnya, dan bahwa bentuk pemerintahan yang paling efisien secara teoritik adalah kediktatoran bijaksana (enlightened dictatorship). Popper mengatakan pendapat seperti itu keliru.

Menurut Popper, sebagian besar masyarakat yang sukses secara materi adalah masyarakat di negara demokrasi liberal.Jadi menurut Popper, masyarakat yang makmur karena demokrasi yang dijalankan, bukan sebaliknya bahwa masyarakat makmur dulu baru demokrasi bisa dijalankan.

Popper menyadari bahwa isu-isu filosofis terpenting berada di antara idealisme dan realisme. Popper selalu berdiri pada posisi realis. Seperti Kant, rasionalitas juga adalah rationale (dasar pemikiran dari etika). Hal ini bukan berarti Popper dan Kant persis sama dalam semua isu penting. Jika Kant itu realis empiris dan sekaligus idealis transendental, sementara Popper, realis empiris dan realis transendental.

Epistemologi Popper terpusat pada hubungan antara apa yang dia anggap sebagai suatu yang real dan transenden, tetapi tidak termasuk dunia materi yang bisa diakses secara langsung.

Argumen ini yang membuat Popper disebut sukses menyajikan suatu analisis yang original mengenai hakikat pengetahuan empiris, tanpa menyadari posisi sebenarnya dari pengetahuan empiris, yaitu dalam sebuah kerangka rujukan realisme/empiris/idealisme transendental yang lebih besar, yang merupakan keniscayaan yang dia sendiri tidak akui.

Argumen Popper itu menuntaskan apa yang tidak tuntas dalam positivisme logis Wittgenstein, yang oleh Wittgenstein secara sarat mengambilnya dari Schopenhauer cara pandang realisme empiris/idealisme transendental Kantinian terhadap realitas total dan mengakui bahwa hampir semua yang bernilai buat kita berada dalam wilayah ideal transendental, dan dalam wilayah itu tidak ada yang bisa kita ketahui, karena itu tidak ada proposisi-proposisi faktual yang bisa dinyatakan dalam wilayah itu.

Mengapa epistemologi Popper dianggap bisa berhasil, di luar metafisikanya yang tidak adekuat dan keliru? Sebabnya adalah fakta bahwa dia, seperti halnya Kant dan Schopenhauer memahami bahwa realitas hakiki itu tersembunyi dan tidak mungkin diketahui. Popper dianggap mampu mengombinasikan sebuah pandangan yang secara fundamental bersifat empiris dengan sebuah pandangan yang secara fundamental bersifat rasionalis terhadap pengetahuan, jadi merupakan kombinasi antara ontologi empiris dgn epistemologi rasionalis.

Oleh karena itu Popper percaya bahwa pengetahuan merupakan produk dari pikiran-pikiran manusia yang berhasil bertahan dan melewati semua tes berupa konfrontasi dengan sebuah realitas empiris yang eksis secara independen dari diri manusia, karena itu ia menamakan filsafatnya sebagai Rasionalisme Kritis.

Popper bersikap agnostik atas pertanyaan di mana batas-batas intelijibilitas manusia. Meski pertanyaan ini begitu penting pasca Kant, dan menjadi perhatian utama Wittgenstein, Schopehauer, maupuh Heiddegger, tapi Popper tidak mau membicarakan hal itu. Menurutnya tidak ada yang bisa dijadikan dasar argumentasi untuk dikritik dari kata “batas di luar intelijibilitas”.

Dengan begitu Popper itu adalah seorang yang tidak punya konsepsi tentang Tuhan. Mungkin saja dia percaya adanya Tuhan, seperti halnya mungkin dia tidak percaya, tapi dia tidak ingin membahas hal itu. Pembahasan tentang hal itu, dilakukan Edmund Russel dalam “Human Knowledge: Its Scope and Limits”.

Menurut Popper kemungkinan adanya hal di luar batas pengetahuan, kita tidak mungkin mengetahuinya, tidak ada gunanya membicarakannya. Bahwa mungkin ada sesuatu di luar jangkauan pengetahuan, hal itu sudah jelas, dan siapapun yang hendak menolak kemungkinan itu berarti telah berbuat kekeliruan.

Hanya siapa yang memastikan adanya, tapi tidak punya pengetahuan tentang itu, juga telah berbuat kekeliruan, demikian kata Popper. Para atheis, agnostik, suka dengan kerangka pikir Popper ini karena membawa kita pada realitivisme absolut. Padahal relativist itu tidak ada yang absolute.

Oleh: Oleh Hasanudin Ibrahim
(Penulis adalah Pemerhati Filsafat, Penggiat di The Wisdom Institute Jakarta)

SHARE
Comment