Sel-Sel ISIS di Asia Tenggara

Sel-Sel ISIS di Asia Tenggara

SHARE

Dalam beberapa hari belakangan ini, di medsos beredar ajakan salah seorang komandan ISIS di Malaysia agar rakyat Indonesia, Malaysia, Brunai, dan Filipina bergabung mendirikan negara Islam di Asia Tenggara. Ia mengajak umat Islam di kawasan untuk berjihad dengan harta benda dan jiwanya dalam rangka mendirikan negara Islam.

Ajakan “pimpinan ISIS” Malaysia yang viral di medsos setelah peledakan bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur (24/5/017) tersebut makin “meyakinkan” kita bahwa ISIS memang telah menyusup di Asia Tenggara, tidak hanya di Filipna, tapi juga di Indonesia, Malaysia, dan Brunai. Kasus invasi ISIS di Kota Marawi, Mindanau, Filipina Selatan menunjukkan bahwa ISIS ternyata punya “sel-sel” yang hidup di Asia Tenggara.

Ini terbukti karena “pasukan Islam” yang menginvasi Filipina tersebut tidak hanya berasal dari kelompok Abu Sayyaf pimipinan Isnilon Hapilon yang berafiliasi dengan ISIS, tapi juga kelompok jihadis lain dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Suria dan Afghanistan. Para pemberontak Filipina mengaku bahwa gerakan mereka (berjihad di Asia Tenggara untuk mendirikan negara Islam di bawah naungan ISIS pusat di Raqqah, Suria), mendapat support dari masyarakat Islam di wilayah tersebut.

Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo menyatakan saat ini terdapat 16 titik yang diduga menjadi tempat kelompok ISIS di Indonesia. Menurut Gatot, tidak tertutup kemungkinan kelompok teroris yang berafiliasi dengan ISIS di Marawi, Mindanao, Filipina Selatan bergerak ke Indonesia untuk menyatukan kekuatan dengan kelompok radikal yang ada di nusantara. Oleh karenanya, perang terhadap teroris tidak bisa hanya dilakukan oleh aparat keamanan, baik Polri maupun TNI, tetapi juga oleh seluruh rakyat ndonesia.

Salah satu upaya mereka (kelompok radikal) melemahkan bangsa ini dengan cara memecah belah rakyat. Isu-isu yang belakangan mencuat di tanah air yang dampaknya disintegratif terhadap kesatuan NKRI menunjukkan bahwa ISIS mulai bergerak. Gerakan ini sudah mulai tercium sehingga Presiden RI Joko Widodo mengintruksikan kepada seluruh jajarannya untuk selalu mewaspadai aksi teror ISIS yang kapan saja bisa terjadi.

Kewaspadaan Presiden Jokowi terhadap invasi ISIS di Marawi yang bisa berdampak besar terhadap Indonesia patut mendapat perhatian kita bersama. Seorang presiden dari negeri besar berpenduduk 250 juta dan mayoritas beragama Islam, tentu, sudah mendapat laporan komprehensif tentang “kemungkinan hadirnya” ISIS di Indonesia.

Dalam sebuah diskusi di Ciputat School, bertema “Indonesia, Terorisme, an Kembalinya Ideologi” Jumat (9/6) lalu, Dr. Denny JA – Pembina Lingkaran Survei Indonesia – menyatakan, kehadiran ISIS di Indonesia sudah begitu nyata ketika Kota Marawi di Filipina Selatan “dikuasai ISIS”.

Dulu kita membayangkan ISIS hanya hadir di Timur Tengah (Irak dan Suriah), tapi kini di Mindanau, Filipina Selatan yang sangat dekat dengan Sulawesi Utara. Migrasi masyarakat dari Sulawesi Utara ke Mindanau dan sebaliknya sudah berlangsung ratusan tahun dan antara keduanya – antara masyarakat Mindanau Selatan dan Sulawesi Utara — sudah terjalin hubungan budaya yang lama. Dengan demikian, kehadiran ISIS di Marawi, jika tidak diantisipasi, akan cepat “menular” ke Indonesia, khususnya ke masyarakat Sulawesi Utara.

Pew Research Center (PRC), lembaga riset paling berengaruh di AS, merilis penelitiannya Marte 2017 lalu tentang keberadaan ISIS di Indonesia dan Malaysia. Menurut PRC, jumlah simpatisan ISIS di Indonesia adalah 4 persen dan di Malaysia 11 persen. Meski secara prosentase relatif sedikit, tapi secara kuantitas, jumlah tersebut sangat besar. Ingat, 4% dari 250 juta populasi Inonesia, berarti 10 juta orang. Sedangkan 11 persen dari 31,6 juta populasi Malaysia, berarti sekitar 3,5 juta orang. Dengan demikian, simpatisan ISIS di Indonesia dan Malaysia jumlahnya mencapai 13,5 juta. Ini sebuah jumlah yang sangat besar jika mereka kita andaikan – pinjam istilah Panglima TNI Gatot Nurmantyo – sebagai sel-sel ISIS yang masih tidur.

Sel-sel ISIS yang kini masih “simpatisan” tersebut, jika ISIS hadir dan kuat, akan segera menjadi partisan fanatik ISIS yang aktif seperti di Marawi. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dari “tentara” ISIS di Irak dan Suriah yang bejumlah 30.000 orang.
Sekali lagi, 13,5 juta simpatisan ISIS di Malaysia dan Indonesia ini, artinya, jauh lebih besar darri jumlah penduduk gabungan antara Singapura (5,6 juta), Kamboja (6,8 juta), dan Brunai (0,5 juta). Yang membuat kita miris, ada ribuan pulau “kecil tak berpenghuni” yang tersebar di sekitar Indonesia dan Filipina yang potensial menjadi tempat persembunyian ISIS jika mereka menginvasi Indonesia.

Pinjam istilah Dennyy JA, pulau-pulau tersebut menjadi tempat romantik untuk pekarian ISIS dalam modus perang gerilya ata hit and run. Dengan demikian, bukan sesuatu yang mustahil, jika ISIS yang mendapat simpati 13,5 juta orang di Malaysia dan Indonesia itu bisa membentuk negara Islamic State in Indonesia and Philippines (ISIP).

Yang menjadi persoalan, bagaimana kita bisa mengantisipasi dan membendung penyebaran benih-benih ISIP tersebut. Jawabnya: bangsa Indonesia harus mmperkuat pendalaman ideologi Pancasila dan mengembangkan kehidupan yang bhinneka tunggal ika dengan mengedepankan toleransi dalam kehidupan beragama.

Kenapa? Benih-benih ISIS itu berkecambah mulai dai fanatisme, ekstrimisme, kemudian intoleransi, dan mengafirkan orang yang berbeda agama denganya. Pandangan terkahir ini kemudian berkembang menjadi sebuah fikih terorisme jihadis: bahwa membunuh orang yang berbeda pandangan agama dan paham adalah halal. Dan hal itulah yang dilakukan ISIS di mana-mana. Mereka menghalalkan membunuh siapa pun yang berbeda dengannya – tidak hanya agama, tapi juga paham – demi menegakkan daulah islamiyah.

Dari prspektif inilah, kehadiran ISIF di Indonesia buka sesuatu yang mustahil. Apalagi posisi Indonesia dan Filipina yang berada di sebuah kawasan yang menjadi “rebutan” dua negara besar, Amerika dan Cina. Milton Friedman, seorang kolumnis di New York Time menyatakan, meski pun AS, Cina, dan Eropa Barat di depan publik bersikap anti-ISIS, dalam praktek mereka bisa bekerjasama dengan ISIS untuk mencapai tujuannya.

Faktanya, di Timur Tengah, Amerika – tulis Milton – membantu ISIS untuk menghancurkan Hizbullah dan Iran. Hal yang sama, bisa saja terjadi di Asia Tenggara. Negara-negara besar membantu ISIS (ISIP) untuk menguasai Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Dari perspektif itulah, kita jangan mengecilkan kasus Marawi. Invasi ISIS di Marawi adalah sebuah inisiasi untuk menghadirkan ISIP. Waspadalah!

Oleh: M Bambang Pranowo
(Penulis adalah Guru Besar UIN Ciputat/Rektor Universitas MathlaulAnwar, Banten)

Comment