SHARE

Ibrah

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Yaitu dalam beberapa hari  yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu yang sedang sakit, atau dalam perjalanan (lalu berbuka sebelum waktunya untuk berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan diwajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamumengetahui”. [Al-Qur,an surah al-Baqaroh ayat 185].

Suka cita bagi orang beriman menyambut datangnya bulan Ramadhan, bulan penuh kemuliaan, bulan yang didalamnya permulaan al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia disertai penjelasan atas petunjuk-petunjuk tersebut agar menjadi pembeda antara yang hak dan yang batil. Sangat penting dan dianjurkan membaca dan mempelajari al-Qur,an selama bulan ramadhan. Karena dengan mempelajari al-Qur,an beserta penjelasan-penjelasannya merupakan aktifitas yang tiada lain menjadi makanan bagi batin, bagi jiwa disaat manusia menahan aktifitas makan minum bagi tubuh mereka. Dengan memberi makan kepada batin, jiwa tersebut akan memiliki kemampuan memahami petunjuk, cahaya yang Allah berikan, sehingga dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Puasa sebagai aktifitas pembersihan hati

Dengan demikian, puasa dan seluruh aktifitas selama bulan ramadhan itu adalah usaha manusia membersihkan hati, jiwa atau bathinnya, yang dengan aktifitas tersebut jiwanya akan cerah, memancarkan cahaya, pikirannya akan jernih. Jiwa seperti itu akan lebih sehat, lebih bertenaga, lebih berkilau, ibarat cermin yang bersih dari debu. Orang yang memiliki jiwa seperti itu senantiasa akan melaksanakan kebajikan dengan penuh kerelaan atau keihlasan. Sikap rela atau ihlas adalah ciri utama yang menjadi pertanda bahwa orang yang melaksanakan ibadah puasa telah melaksanakan ibadah tersebut dengan benar, mungkin belum sepenuhnya sempurna, namun telah searah kejalan menuju kesempurnaan. Sikap ihlas memerlukan kesabaran. Tidak akan muncul sikap ihlas dari seseorang yang tidak mampu bersabar. Bersabar adalah aktifitas jiwa yang awas, sadar dan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan (jihad) untuk mengindari hal-hal yang batil dan sebaliknya bersungguh-sungguh dengan penuh semangat dan kehati-hatian untuk senantiasa berjalan di jalan yang diridhoi Allah SWT. Demikian pentingnya sikap rela dan ihlas ini dalam menjalankan ibadah-ibadah, terutama di bulan ramadahan, sehingga puasa ini sepenuhnya menjadi hak Allah, milik Allah. Dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan bahwa “Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan ganjaran-Nya”, khususnya kepada yang berpuasa dan mengajurkan kepada orang yang berpuasa agar banyak memohon ampunan dan harapan kepada Allah SWT.

Bulan penuh ampunan

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. [Al-Qur,an, Surah al-Baqaroh, ayat 186]

Menurut Prof Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah Jilid 1 hal 382, kata ‘ibad, digunakan al-Qur,an untuk menunjuk kepada hamba-hamba Allah yang taat kepada-Nya atau kalaupun mereka yang penuh dosa, tetapi sadar akan dosanya serta mengharap ampun dan rahmat-Nya. Kata ibad ini berbeda dengan kata ‘abid yang juga merupakan bentuk jamak dari kata ‘abd yang menunjuk kepada hamba-hamba Allah yang bergelimang dalam dosa. Menggunakan kata ‘Ibad dengan demikian bahwa yang dimaksud mereka yang bertanya dalam hal ini adalah mereka yang punya keinginan untuk memohon ampunan kepada-Nya. Bukan sekedar bertanya. Maka kata “jawablah” dalam ayat ini diisyaratkan hanya kepada mereka yang beriman, atau sadar akan dosanya dan berharap ampunan-Nya, bukan kepada mereka yang bergelimang dalam dosa, dan tidak memiliki kesadaran untuk berhenti atau meninggalkan dosa-dosa yang senantiasa diperbuatnya. Jelaslah bahwa seseorang yang berdoa kepada Allah dan Allah mengatakan akan menerima doa mereka, adalah mereka yang beriman dan atau mereka yang punya banyak dosa namun memiliki kesadaran meninggalkan dosa-dosanya.

Oleh sebab itu yang dihimbau agar melaksanakan ibadah puasa dibulan ramadhan hanya mereka yang disebut beriman atau ‘ibad. Mereka jika melaksanakan ibadah puasa dengan penuh kerelaan dan keikhlasan akan diampuni segala dosanya yang telah lalu, dan kembali akan memperoleh fitrahnya. Yakni kecenderungannya kepada kebenaran. Mereka yang senantiasa cenderung kepada kebenaran inilah yang disebut sebagai orang-orang yang bertakwa.

Sebagaimana namanya sebagai bulan ampunan yang penuh dengan rahmat Allah SWT, dibulan ramadahan ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk banyak memberi maaf dan ampunan kepada siapa pun yang kita kenal, maupun yang tidak kita kenal. Karena boleh jadi ada saja orang yang pernah berhubungan dengan kita yang masih menyimpan dendamnya, atau sebaliknya kita masih menyimpan perasaan tidak senang, kepada orang lai, baik yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal. Singkatnya beri maaf dan ampunlah kepada siapapun, karena hanya dengan itulah Allah juga akan memberi maaf dan ampunan-Nya. Maka momentum bulan ramadhan yang penuh dengan ampunan dan rahmat ini, juga bisa disebut sebagai bulan untuk memperkuat tali silaturrahiim kepada sesama manusia.

Hal-hal yang boleh dan yang dilarang dalam bulan ramadhan  

Penting untuk mengetahui apa saja yang dilarang untuk dikerjakan dalam bulan ramadhan sebagaimana yang disampaikan dalam al-Qur,an “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagi kamu dan kamu pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kamu, dan makan minumlah hingga jelas benar bagi kamu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang), malam, (tetapi) janganlah kamu capuri mereka itu, sedang kamu dalam keadaan ber’itikaf di masjid. Itulah batas-batas larangan Allah, maka janganlah Kamu mendeaktinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. [Al-Qur,an surah al-Baqarah, 187]

Inilah batas-batas larangan yang ditetapkan Allah kepada kita yang melaksanakan ibadah puasa dibulan ramadhan. Standar ini kita pahami sebagai batas minimum yang berlaku bagi semua orang yang berpuasa. Namun bagi mereka yang memiliki kerinduan dan harapan yang besar kepada ampunan Allah SWT, beragam amalan-amalan dapat dilakukan yang tentu saja dalam melaksanakan amalan-amalan itu ada batas-batas yang tidak boleh dilanggar, hal-hal seperti itu dapat kita pelajari pada tauladan yang telah diberikan oleh pada Nabi dan Rasul Allah dalam menjalankan ibadah puasa. “Sesungguhnya pada diri Rasulullah (Muhammad SAW) ada suri tauladan yang baik bagi kalian’. Akhirnya mari kita sambut kedatangan bulan penuh berkah dan ampunan ditahun 2016 ini dengan penuh suka cita, berdoa dan berharap Allah SWT mengampuni segala dosa kesalahan kita pada masa lampau, dan memberikan taufiq, inayah dan hidayah-Nya kepada kita semua dalam menjalankan Islam sebagai rahmatan lilalamiin dalam kehidupan sehari-hari. Semoga ibadah-ibadah ramadhan yang kita laksanakan tahun ini berdampak positif secara luas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, dan mendorong terciptanya peradaban dunia yang lebih baik bagi seluruh umat manusia.

Marhaban, yaa ramadhaan[]

 

SHARE