Home Agama Semangat Paskah: Kita Bhinneka, Kita Indonesia

Semangat Paskah: Kita Bhinneka, Kita Indonesia

Publik-News.com – Pekan ini, umat Katolik mempersiapkan hati menyambut Paskah, Perayaan Kebangkitan Yesus. Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi mengucapkan selamat Paskah kepada umat Nasrani. Menurutnya, “Amalkan Pancasila: Kita Bhinneka, Kita Indonesia” menjadi tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2018 Keuskupan Agung Jakarta. Slogan ini selaras dengan Arah Dasar KAJ 2016-2020 yang menetapkan tahun 2018 sebagai Tahun Persatuan.

“APP melibatkan seluruh umat Katolik selama masa Prapaskah untuk mewujudkan secara nyata puasa dan derma dalam berbagai kegiatan membangun masyarakat. Gerakan ini mempunyai makna sosial dan liturgis, misalnya: bersama membersihkan lingkungan, membangun rumah keluarga miskin, menghibur narapidana atau orang sakit,” ujar Eusabius, Jumat (30/3/2018).

Mengutip Surat Gembala Prapaskah Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo, Eusabius mengajak umat Katolik untuk semakin peduli kepada sesama, khususnya yang menderita sebagaimana dicontohkan Yesus. “Membuka hati menjadi amat penting dalam hidup kita sehingga kita dapat semakin memahami sapaan-Nya dalam peristiwa dan pengalaman yang melintas dalam hidup kita. Sikap peduli pun menjadi semakin penting agar iman kita tidak mati. Itulah sebenarnya makna pertobatan kita,” pesannya.

“Kita ingin memaknai pengalaman hidup kita, khususnya dalam konteks kesatuan dan kebhinnekaan bangsa kita, sebagai karya Allah. Kita bersyukur karena Tuhan menyapa kita juga melalui pengalaman keragaman berbangsa,” sambungnya.

Sambut Paskah 2018, Eusabius mengajak umat untuk terus menjaga lisan dan kedamaian hati. “Paskah tahun ini, kita serukan untuk jaga lisan damai di hati,” ajaknya.

Prosesi Paskah

Eusabius menjelaskan, Pekan Suci dalam Gereja Katolik tahun ini dibuka dengan perayaan Minggu Palma pada 25 Maret 2018. Dalam pekan ini, Gereja merayakan misteri penyelamatan yang dilaksanakan Yesus pada hari-hari terakhir hidup-Nya di dunia.

Menurutnya, Perayaan Minggu Palma mengenangkan peristiwa Yesus masuk kota Yerusalem secara meriah, dan juga mengenangkan sengsara-Nya. Penyambutan Yesus sebagai raja dilaksanakan lewat pemberkatan dan perarakan palma. “Misteri kesengsaraan Yesus dikenangkan lewat perayaan Ekaristi yang secara mencolok menampilkan sengsara Yesus,” ujarnya.

Setelah merayakan Minggu Palma, lanjut Eusabius, umat memasuki Trihari Paskah atau Trihari Suci. Trihari Paskah berlangsung selama tiga hari penuh. Dimulai dengan Ekaristi petang pada Kamis Putih, memuncak pada perayaan Malam Paskah, dan berakhir pada Ibadat Sore Minggu Paskah.

“Selama tiga hari tersuci ini, Gereja merayakan misteri terbesar karya penebusan: sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus,” tuturnya.

Menurut Eusabius, pada Kamis Putih, umat Katolik mengenangkan perjamuan Paskah yang diadakan Yesus bersama murid-mrid-Nya. Kamis Putih, mengenangkan penetapan Ekaristi, wujud pengurbanan Yesus. Di dalamnya, Ia menyerahkan tubuh dan darah-Nya, yakni seluruh diri-Nya, demi keselamatan umat manusia.

“Maka, perayaan Ekaristi yang dirayakan umat Katolik setiap hari Minggu adalah perayaan kenangan akan perjamuan Paskah dan pengurbanan Yesus,” terangnya.

“Dalam perjamuan Kamis Putih, Yesus memberikan teladan pelayanan dengan membasuh kaki para murid, dan memberikan perintah baru agar kita saling mengasihi,” sambungnya.

Eusabius menambahkan, Kamis Putih juga merupakan hari rekonsiliasi. Gereja menyambut para petobat yang kembali berdamai dengan Allah dan jemaat. Setelah Perayaan Ekaristi Meriah, diadakan perarakan Sakramen Mahakudus dan tuguran (malam berjaga) di hadapan Sakramen Mahakudus.

Setelah rangkaian Perayaan Kamis Putih, umat Katolik memasuki hari Jumat Agung. Pada hari ini, Yesus Kristus, Anakdomba Paskah, dikurbankan. Dalam Ibadat Sabda sesudah tengah hari (pukul 15.00) Gereja mengenangkan sengsara dan Wafat Yesus, menghormati salib, dan mengenang kembali kelahirannya dari lambung Yesus yang tergantung di salib.

“Pada hari ini, tidak ada perayaan Ekaristi; Gereja menjalani puasa Paskah yang harus dipandang keramat,” tuturnya.

Trihari Suci ketiga, adalah Malam Paskah. Malam Paskah adalah malam suci kebangkitan Yesus, yang merupakan puncak perayaan Trihari Suci. Pada Malam Paskah, Gereja berjaga, menantikan kebangkitan Yesus dan merayakannya dalam ibadat suci. Pada Malam Paskah ini, Gereja juga membaptis para katekumen (orang-orang yang dibimbing secara khusus sebelum dibaptis menjadi Katolik-red).

“Kebiasaan ini didasarkan pada keyakinan bahwa dengan dibaptis, para katekumen ambil bagian dalam misteri Paskah,” jelasnya.

Eusabius menambahkan, ada kesamaan antara pembaptisan dan Paskah: sebagaimana Yesus wafat, dikubur, lalu bangkit, demikian pula para baptisan mati terhadap dosa, dikuburkan (ditenggelamkan dalam air), dan bangkit (keluar dari air) untuk hidup baru sebagai anak Allah. Dalam hubungan ini pula kaum beriman diajak membarui janji baptis dalam perayaan Malam Paskah.

“Maka Perayaan (Malam) Paskah juga selalu menjadi perayaan kebangkitan umat sebagai orang beriman: mati terhadap dosa dan hidup baru sebagai anak Allah,” ucapnya.

Akhirnya, segala yang sudah dan akan kita rencanakan dan lakukan untuk merawat dan menjaga kebhinnekaan dan kesatuan, adalah demi kemuliaan Tuhan (1 Kor 10:31).

Comment