Soal Penolakan Gatot, “Sepertinya Ada Dualisme Komando di Gedung Putih”

Soal Penolakan Gatot, “Sepertinya Ada Dualisme Komando di Gedung Putih”

SHARE

Publik-News.com – Pengkaji Geopolitik Global Future Institute, Hendrajit menyatakan bahwa red notice yang ditujukan oleh Pemerintah AS kepada Panglima TNI memang sarat misteri. Maka jadi menarik ketika Panglima Gatot Nurmantyo, hari sabtu(21/10/2017) lalu ditolak masuk Amerika Serikat, meski kemudian larangan itu dianulir kembali.

“Apa sesungguhnya yang terjadi? Anehnya Wakil Duta Besar AS, Erin Mc Kee dalam keterangan persnya setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, mengatakan bahwa Kedubes AS sedang bekerja keras untuk memahami apa yang terjadi di sekitar insiden ini. Kedua, dalam bagian dikatakan bahwa Kedubes AS sedang berkoordinasi dengan otorita terkait di Amerika Serikat dalam insiden ini,” ujarnya.

Hendrajit memaparkan hal ini dalam acara diskusi yang diselenggarakan oleh Garuda Nusantara Center dengan Tema :” Insiden Cekal Panglima TNI, Apa Maumu Amerika ?” Di Kopi Bangi Tiam SCBD Jakarta Pusat, Jum’at(27/10/2017).

Menurut analisa Hendrajit, sepertinya ada dualisme komando di Gedung Putih, sehingga manuver US Customs and Borders Protection yang berada dalam kewenangan Kementerian Keamanan Dalam Negeri, sama sekali tidak dikoordinasikan kepada Kementerian Luar Negeri. Hasilnya, Wakil Duta Besar AS, Erin Mc Kee pun sama bingungnya dengan kita-kita yang awam ini.

Berdasarkan konstruksi kejadiannya itu sendiri, nampak jelas adanya mis-komunikasi dan tidak adanya koordinasi yang tersirat dari istilah Kedubes AS, sedang berkoordinasi dengan otoritas terkait, berarti AS sedang memainkan operasi intelijen yang rumit dan berbahaya di Indonesia.

” Gagasan di balik operasi intelijen ini nampaknya bukan untuk memompa popularitas Pak Gatot Nurmantyo, seperti yang diduga banyak orang, melainkan justru sebaliknya. Seperti logika operasi bendera palsu sedang dimainkan,” jelasnya.

Menurutnya yang masih misterius sampai sekarang, apakah kegagalan operasi ini murni akibat False Flag Operation alias Operasi Bendera Palsu? Atau jangan-jangan memang begitulah skenario kaum sosialis demokrat dan neolib di Indonesia maupun jejaring Demokrat di AS. Jika ini yang benar maka gerakan me-red notice-kan Pak Gatot, hakikinya merupakan keberhasilan operasi intelijen.

“Kepada publik, Pak Gatot dicitrakan sebagai nasionalis sehingga dimusuhi Amerika Serikat. Sementara agenda kaum sosialis-demokrat dan neolib yang sejatinya bermaksud mengusung Pak Gatot, dapat membonceng citra Pak Gatot Nurmantyo sebagai nasionalis tulen yang coba dicitrakan lewat insiden ini,” tukasnya. (HR/PN)

 

Comment