Stephen Hawking and a Nutshell

Stephen Hawking and a Nutshell

SHARE

Mengambil frasa dari idiom populer bahasa Inggris, yang arti kiasannya adalah “ terlalu singkat”, Salah satu buku yang ditulis mendiang Stephen Hawking berjudul “ The Universe in a Nutshell”.

Seperti bukunya yang lain, sudut pandang Hawking selalu bergerak dari luar ke dalam. Maka frasa itu digunakannya sesuai arti harfiahnya.

Bahwa universe (semesta) itu terletak dalam (cangkang) kacang.

Setiap buku Stephen Hawking selalu menjelaskan adanya dunia di balik dunia, kata di balik kata. Hidup yang terfiksir dalam raga tak bergerak membuat pikiran Hawking menjadi begitu berkembang secara infinite.
Pada hari ini sebentuk kematian telah membatasi perjalanannya. Sesuatu yang sudah dia prediksi ketika dia katakan bahwa, bila dia menemukan semua yang diketahuinya sudah dia ketahui, maka tak ada lagi yang namanya Tuhan.

Sebagaimana yang dia tulis dalam “a Brief History of Time”. karena, andai waktu itu ada, tentu Tuhan telah dia temukan dalam semuanya.

Tak banyak yang memahami bahwa maksud Hawking menyampaikan itu adalah justru representasi ketakjubannya akan keberadaan Sesuatu yang lebih besar dari semua yang bisa ditulis oleh teori, konsep dan ilmu pengetahuan paling tinggi.
Ada Sesuatu yang lebih besar dari nalar yang terbesar.

Dan sesuatu yang melebihi batas khayali yang lebih tinggi dari yang lebih tinggi.
Sesungguhnya hanya ada dua cara bertemu Tuhan.

Pertama, mengejar ilmu pengetahuan dengan segala cara hingga memahami Kalam yang Dia tulis, Dia buat, dan Dia cipta.
Atau menemuinya melalui kematian.
Melalui ilmu pengetahuan, Tuhan memberi kesempatan kepada setiap manusia yang mau berpikir untuk menemuiNya selagi hidup.

Karena Dia telah memberi petunjuk demi petunjuk keberadaanNya dalam semua isi biji-bijian sebagai tempat yang hidup dari yang mati, dan yang mati dari yang hidup (QS 6:95).

Karena dia telah memberi petunjuk dalam gelap dalam terang dalam matahari dalam bulan, dengan Waktu sebagai penanda keberadaanNya. Waktu adalah Pembeda Jelas antara Sang Pencipta dan yang diciptakan. Dia yang Exalted the Power, Dia Sang Omniscient (QS 6:96).

Karena Dia telah memberi petunjuk melalui miliaran bintang-bintang dan berbagai bentuk galaksi dan semesta dengan kegelapan penuh yang akan menjadi misteri abadi. dan itu adalah tanda bagi yang mengetahui. (QS 6:97).

Karena Dia telah memberi petunjuk keberadaaNya melalui penciptaan manusia yang berasal dari satu; bahwa manusia adalah tempat berasal dan nantinya menjadi tempat kembali (a place of sojourn and a place of departure). Dan itu adalah tanda bagi yang memahami (QS 6:98).

Karena Dia telah memberi petunjuk melalui berbagai ragam tetumbuhan dengan tetumbuhan dan buah-buahan berbiji banyak, jagung, padi-padian, anggur, zaitun, delima, kurma yang menjurai. Itu adalah caraNya memberi tanda, bagi siapa yang percaya (QS 6:99).

Perjalanan yang dilalui setengah hidup melalui mesin beroda menghasilkan karya-karya besar penutup Abad 20 dan pembuka Abad 21, adalah perjalanan seseorang yang menjadi salah satu ciptaan Tuhan yang begitu istimewa.

Manusia yang dimatikan raganya jauh sebelum habis nyawanya, tetapi dengan keadaan itu jiwa dan pikirannya dimerdekakan olehNya, hingga mampu menjangkau banyak hal yang tak mampu dijangkau manusia berfisik sempurna.
Termasuk ketidakmampuan manusia memahami bahwa Ilmuwan Besar ini adalah alat penerjemahNya memberi sedikit pengertian kepada manusia rata-rata bahwa, keberadaan Tuhan itu terletak pada setiap jengkal, setiap sudut, setiap siku, setiap pengertian, setiap jejak, setiap bentuk, setiap wujud, yang mampu dilihat mata biasa, atau harus dengan mata batin. yang mampu diindera dengan penglihatan atau harus dengan mata pikiran. atau dibaca dengan jelas dengan kalimat jelas dengan bahasa dunia, atau berupa kalimat semesta dalam bahasa angkasa.

A Nutshell adalah Otak Manusia.
Stephen Hawking. Yang fisik tak bergeraknya menjadikannya tahu, bahwa, a Nutshell, tempat bersemayamnya Semesta ini, sesungguhnya ada pada Otak Manusia.
Kehidupannya yang panjang berhenti pada kematiannya yang singkat.
May he rest in peace.

Oleh: Tifauzia Tyassuma

(Dokter, Penulis buku “Body Revolution”)

SHARE
Comment