Home Opini Stop Menghubungkan Muslim Sebagai Teroris

Stop Menghubungkan Muslim Sebagai Teroris

Stigma muslim sebagai teroris yang mendominasi media mainstream, adalah desain sistemik untuk mengalihkan problem utama dunia yang justru dilakukan oleh non-muslim.

Stigma muslim sebagai teroris berdasarkan segelintir fakta teror berdarah atas nama Al Qaidah dan ISIS mengabaikan fakta bahwa aksi perlawanan sebagian orang beragama Islam bukanlah tindakan yang tiba-tiba, mandiri, tanpa sebab. Faktor-faktor ketidakadilan dan kesenjangan akibat sistem global punya saham atas aksi-aksi perlawanan yang tentu saja tidak didominasi gerakan Islam semata.

Stigma, menurut KBBI, adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Sejak Perang Salib hingga saat ini, propaganda negatif soal Islam direproduksi untuk menunjukkan perlawanan terhadap dominasi ajaran Islam, yang didalamnya memuat secara utuh keteladanan hidup Nabi Muhammad SAW dan nilai-nilai luhur Al Quran.

Dengan demikian, stigma negatif Islam juga melekat secara otomatis terhadap imigran Muslim di Eropa dan Amerika Serikat, dan interaksi sosial budaya yang ditimbulkan. Tidak disadari bahwa budaya dan perilaku orang-orang Arab tidak otomatis sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.

Sehingga, kita tidak pula spontan menyebutkan tragedi kemanusiaan abad ke-20, seperti Perang Dunia Pertama yang menewaskan 17 juta orang, Perang Dunia Kedua menewaskan 50-55 Juta orang mati, genosida Hitler dan Nazi-nya terhadap jutaan kaum Yahudi di Eropa, pembunuhan 20 juta manusia termasuk 14,5 juta yang mati kelaparan oleh Josef Stalin, bom atom Amerika Serikat terhadap Hiroshima dan Nagasaki yang menewaskan ratusan ribu rakyat Jepang, pembunuhan 400 ribu manusia oleh Benito Mussolini.

Belum lagi krisis kemanusiaan pasca Perang Dunia II, seperti embargo George Bush atas Iraq sehingga menewaskan 1/2 juta anak-anak, agresi Serbia dan Kosovo pada terhadap Bosnia-Herzegovina menyebabkan lebih dari 500 ribu orang tewas. Semua itu tidak kita katakan sebagai perbuatan Katolik/Kristen.

Belum lagi tragedi kemanusiaan lainnya, jutaan rakyat China tewas pada masa Mao Zedong, perang Vietnam, perang Korea, kekejaman Khmer Merah di Kamboja, yang kita tidak katakan sebagai aksi umat Budha atau Konghucu.

Standar ganda atau stigma teroris terhadap umat Islam hakikatnya adalah bentuk lain dari rasisme, perilaku primitif atas nama superioritas ras dan golongan. Perilaku ini pertama kali dicontohkan oleh Iblis saat menolak sujud di hadapan Nabi Adam AS dengan alasan Iblis diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah.

Media massa seharusnya menjadi jendela kemanusiaan, memberitakan masalah umat manusia secara terbuka, transparan, dan objektif. Sehingga problem kemanusiaan di berbagai belahan dunia dapat dipecahkan.

Eksploitasi manusia atas manusia, kesenjangan ekonomi-pendidikan-kesehatan, dan penghisapan energi dan pangan, merupakan masalah utama dunia yang disebabkan oleh kerakusan korporasi multinasional dan sistem riba perbankan dunia. Sama sekali bukan disebabkan oleh umat Islam.

Memang ada sebagian aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Islam seperti Al Qaidah atau ISIS. Tapi aksi tersebut punya dasar, sebagai balasan atas kekerasan yang dilakukan negara-negara Barat. Harus pula diingat bahwa tindakan Al Qaidah dan ISIS tersebut tidak disetujui oleh mayoritas masyarakat muslim dunia, bahkan dianggap tidak merepresentasikan ajaran Islam, sebab kelompok tersebut juga mengafirkan umat Islam lain yang berbeda pandangan dengan mereka.

Sudah saatnya media massa melihat umat Islam dan ajaran Islam dengan lebih jernih, sebagaimana mereka bisa membedakan perilaku Hitler, Stalin, Bush, dan Trump dengan ajaran Katolik/Kristen.

Oleh: Andito Suwignyo
(Penulis adalah Peneliti di Wisdom Institute)

Comment