Studi Al-Qur’an: Teks dan Konteks

Studi Al-Qur’an: Teks dan Konteks

SHARE

DUA karya intelektual di bidang studi Al-Qur’an kali ini adalah _Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an_ karya Taufik Adnan Amal (2013) dan _Reading The Qur’an : The Contemporary Relevance of The Sacred Text of Islam_ yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul populer, _Ngaji Qur’an di Zaman Edan_ (rada kocak judul ini), karya Ziauddin Sardar (2014). Kedua buku ini saya sandingkan karena kandungan dan penguraiannya memunculkan hal-hal baru dan saling mengisi dan yang mempertemukan keduanya dalam studi Al-Qur’an ini adalah Fazlur Rahman, tokoh Neo-Modernisme Islam itu. Saya memulai dari Amal dan mengakirinya dengan Sardar.

Beruntung sekali bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad S.a.w (sekaligus penutup risalah kenabian) setelah peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah umat manusia. Tak terbayangkan kalau bukan Muhammad dan Al-Qur’an yang dibawanya sebagai _khataman al-nabiyyîn_, sudah pasti pembangunan Tembok Cina, Revolusi Inggris, Revolusi Perancis, Revolusi Industri, Perang Salib I, II, II, dan III, penaklukan benua _(Reconquistadores)_ PD I dan Tragedi Holocaust, PD II, runtuhnya Uni Sovyet dan Kekacauan global akibat _double standard politics_ Amerika Serikat serta bangkitnya _Neo-Sinic Capitalism_ menjadi bagian dari firman-firman Tuhan yang dibawa oleh beberapa utusan Tuhan pasca Nabi Muhammad S.a.w. Tapi ternyata pengandaian itu tidak terjadi. Al-Qur’an cuma mengajak manusia yang hidup di era turunnya hingga zaman kita sekarang agar “berjalan di muka bumi” (metaforis : mengembangkan wawasan pengetahuan ke segenap penjuru horizon) dan memperhatikan bangsa-bangsa dahulu kala yang binasa akibat perbuatan mereka sendiri.

Pun, kalau pasca Nabi Muhammad S.a.w masih ada lagi utusan Tuhan berkapasitas Nabi, maka apakah agama baru yang dibawanya bersifat melegitimasi agama-agama sebelumnya _( *musaddiqa limâ bayna yadaihi min al-tawrâti wa al-injîli wa al-qurãni,* misalnya?)_ ataukah me-mansukh-kan (membatalkan secara total) ajaran agama sebelumnya? Lalu datang lagi utusan Tuhan yang lain membatalkan ajaran agama yang dibawa utusan Tuhan sebelumnya dan seterusnya, maka begitu ribetnya hukum-hukum Tuhan itu membingungkan umat manusia. Seandainya pada zaman Nabi S.a.w, Musailamah Al-Kadzdzab dan orang-orang yang sefaham dengannya berhasil membuat Kitab Suci yang sama dengan Al-Qur’an atau sedikit saja tingkat kualitasnya di bawah Al-Qur’an, saya kira Nabi-Nabi palsu itu membanjiri jagad kiwari, karena mereka akan terbantukan dengan teknologi informasi yang makin _sophisticated._ Namun karena Allah Maha Kuasa dan Maha Pembuat Skenario (jalan sejarah), maka Dia mencukupkannya sampai pada zaman Nabi Muhammad S.a.w, sementara kemajuan atau kebangkrutan setiap peradaban hanyalah efek dari kepatuhan atau ketidakpatuhan yang digariskan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an yang tak lain adalah _verbum dei_ _(kalâmullâh)_ itu sendiri.

Yang menarik dari buku rekonstruksi sejarah AL-Qur’ini adalah pertalian antara teks dan konteks sejarahnya sangat gamblang. Di dalam teks, misalnya di beberapa kelompok ayat di surat Al-Taubah, Al-Qur’an mengisahkan respon sebagian umat Islam menyikapi perintah untuk pergi ke medan perang. Juga sikap orang-orang munafik yang enggan ikut berperang. Peperangan yang dimaksud adalah perang Tabuk, salah satu perang yang terbesar di masa Rasulullah. Tetapi sejauhmana jumlah pasukan yang ikut berperang, dinamika dari peperangan itu, wilayah-wilayah yang ditaklukkan dari perang Tabuk itu, tak kita ketahui. Tetapi ketika mencampurkan studi Al-Qur’an dengan penjelajahan sejarah yang rinci, kita dapat mengetahui bahwa pada perang Tabuk itu, Rasulullah memimpin 30.000 prajurit Muslim. Ekspedisi militer ini menginvasi kantong-kantong Romawi Kristen di jalur Transyordania yang membuka jalan dakwah Islam ke Syria. Beberapa kantong Kristen dan Yahudi di bagian utara Arabia – seperti Raja Kristen Yuhanna di Aila, orang-orang Adzruh dan kaum Yahudi di kota pelabuhan Makna – menyatakan ketundukannya pada otoritas kaum Muslimin. Sementara kota penting Dumat al-Jandal (salah satu jantung logistik yang menghubungkan Saudi dan Yordania saat ini) berhasil ditaklukkan pasukan Muslim dibawah pimpinan Khalid bin Walid (h. 40).

Al-Qur’an yang kita gunakan sekarang adalah mushaf utsmani dengan jumlah ayat 6666, surat 114 dan bagian (juz) 30, akan tetapi jumlah kandungan Al-Qur’an pada mushaf sahabat yang lain, mushaf Abu Musa Al-Asy’ari atau mushaf Ibnu Abbas, terutama mushaf ‘ali yang beredar di sebagian penganut Syiah. Pada masing-masing mushaf terdapat perbedaan isi kandungan, disamping faktor ketelitian, perbedaan persepsi dan perspektif sahabat dalam menangkap pesan ucapan, tindakan dan takrir Nabi, dinamika sosial, kecakapan dan kemampuan literasi mengakibatkan ada penilaian para ahli tafsir, bahwa sebagian ayat Al-Qur’an bercampur dengan hadits Qudsi atau sama sekali tak terlacak.

Juga dengan mempelajari sejarah Al-Qur’an, kita diperkenalkan dengan terminilogi _furqân_ sebagai nama lain dari Al-Qur’an. _Furqân_ yang berasal dari kata kerja _faraqa,_ biasa diartikan oleh banyak mufasir sebagai diskriminasi, memisahkan, membedakan. Padahal di dalam sejumlah konteks yang terdapat kata _furqân,_ dikaitkan dengan sesuatu yang diturunkan Tuhan kepada Muhammad (Qs. 8:29, 41; 2:185). Kata itu lebih bermakna “pertolongan” atau “salvasi” yang biasa disamakan dengan _nashr,_ mengingat signifikansi dalam perang Badar yang merupakan konteks sebagian dari ayat-ayat itu. Jadi penggunaan kata _furqân_ disini mengespreksikan kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar atas “pertolongan” _(furqân)_ Tuhan (h. 52).

Ada yang menarik dari kajian ini adalah tentang pengalaman kenabian Muhammad saat menerima wahyu dalam dua kesempatan yang berbeda. Disebutkan bahwa satu ketika Nabi melihat agen wahyu (Jibril) di ufuk yang tertinggi _(ufuq al-a’lâ)_ dan di kesempatan yang lain ia melihatnya di _sidratul-muntahâ._ Al-Qur’an mengonfirmasinya di dua bagian yang lain (Qs. 17:1; 81:19-24) yang menyinggung titik terjauh _(masjid al-aqshâ)_ dan ufuk paling nyata _(ufuq al-mubîn)_. “Berdasarkan berbagai rujukan Al-Qur’an itu, dapat disimpulkan bahwa pengalaman “kenaikan” yang lazim disebut _mi’raj,_ terjadi lebih dari dua kali” (h. 73).

Al-Qur’an menyatakan ia diwahyukan secara verbal. Tetapi di sisi lain, ia juga menekankan kaitan intimnya dengan kepribadian terdalam – hati dan pikiran – Nabi. Dengan kata lain, kalâm Allâh itu lahir di dalam hati dan pikiran Nabi (Qs. 26:193; 2:97; 42:24), karena itu dapat dikembalikan kepadanya. “Jadi, ide dan kata lahir di dalam – dan dapat dikembalikan kepada – pikiran Nabi, sementara sumbernya dari Allah. Karena itu, sebagimana disimpulkan Fazlur Rahman, al-Qur’an itu secara keseluruhan adalah _kalâm Allâh_ dan dalam pengertian biasa juga merupakan _kalâm_ Muhammad.” (h. 73).

Hal paling serius dalam studi Al-Qur’an adalah masalah _nasikh-mansukh_ (yang dihapus dan yang menghapuskan). Ada 3 kategori utama dalam bahasan _nasikh-mansukh_ :

1) wahyu yang terhapus, baik hukum maupun bacaannya di dalam mushaf _(naskh al-hukm wa al-tilâwah)_; 2) wahyu yang hanya terhapus hukumnya, sementara teks atau bacaannya masih terdapat di dalam mushaf _(naskh al-hukm dûna al-tilâwah)_; dan 3) wahyu yang terhapus teks atau bacaannya, tetapi hukumnya masih berlaku _(naskh al-tilâwah dûna al-hukm)._ Dari ketiga kategori itu, kategori 1 dan 3 yang relevan serta berkaitan secara langsung dengan masalah otentitas dan integritas mushaf yang ada di tangan kita sekarang (mushaf utsmani), karena keduanya sama-sama menyiratkan tidak direkamnya sejumlah wahyu secara tertulis ke dalam mushaf tersebut. (h. 251-252).

Itu soal rekonstruksi sejarah Al-Qur’an dari Taufik Adnan Amal yang diantar oleh Prof. Quraish Shihab. Buku ini memberikan gambaran pada kita bahwa Al-Qur’an menjadi satu-satunya Kitab Suci yang menantang semua disiplin keilmuan untuk mengupas pelbagai seginya meskipun mata airnya terus menyemburkan air makrifat yang tak habis-habisnya diseduh oleh para pengkajinya. Mengapa? Karena Al-Qur’an adalah nikmat sehingga sekuat tenaga kamu berupaya menghitung nikmat Tuhan, kamu tak akan sanggup (Qs. 16 : 18). Pemanfaatan referensi yang kaya di dalam buku ini, terutama dari kalangan orientalis seperti Richard Bell, H.A.R. Gibb, Ignaz Goldziher, Arthur, Jeffrey, T. Noeldeke dan lain-lain diluar kitab-kitab hadits dan uraian para ulama Islam, menjadikan buku ini sangat menggairahkan kuriositas pembaca. Pola pewacanaan kajian kesejarahan Al-Qur’an ini tak lepas dari pengaruh Neo-Modernisme Islam Fazlur Rahman, tokoh yang menjadi idola sang penulis sejak masa awal pertumbuhan intelektualnya.

Kini kita masuk dengan Sardar. Seolah menelanjangi saya dan mungkin juga saudara, kita mengaku Muslim tetapi membaca Al-Qur’an atau menengok sejenak Kitab Suci ini begitu jarang kita lakukan. Meskipun Al-Qur’an merupakan salah satu kitab yang paling sering dibaca sepanjang sejarah manusia, pesan-pesan yang tekandung di dalamnya masih saja diselubungi tabir prasangka dan pendapat apriori. Cara baca orang lain terhadap Al-Qur’an memunculkan rintangan antara teks Kitab Suci itu dan pembacanya di zaman sekarang, baik muslim maupun nonmuslim. Para pembaca dewasa ini sama-sama menghadapi banyak persoalan seputar bagaimana mendekati dan memaknai Al-Qur’an. Seringkali muncul penafsiran yang justru melampaui makna Al-Qur’an secara harfiah. Jangankan bagi kalangan nonmuslim, kalangan muslim pun banyak yang menilai (seolah-olah) ayat-ayat Al-Qur’an saling tumpang-tindih. Sebagian menafsirkan sebagai kitab yang menawarkan kedamaian, tetapi sebagian menggunakannya untuk menghakimi bahkan menjadikannya sebagai dalil penumpahan darah.
Ziauddin Sardar, intelektual Muslim Inggris asal Pakistan ini mengajak kaum muslim dan nonmuslim untuk “mendekati” Al-Qur’an dengan sudut pandang baru yang segar (h. 14).

“Saya bukanlah pembaca istimewa. Saya tidak segan berterus-terang bahwa saya tidak piawai membahas Alqur’an, apalagi menawarkan cara pembacaan saya terhadap Alquran. Saya juga bukan _hafidz_ (penghafal Alqur’an), imam atau ulama — orang yang bertahun-tahun mempelajari Islam. Memang, pernah terlintas khayalan untuk menjadi pemikir muslim yang cukup ternama, tetapi khayalan itu tampaknya tidak akan pernah terwujud. Dan, yang lebih buruk lagi, saya bahlan tidak paham bahasa Arab. Tetapi saya berbesar hati, karena kebanyakan pembaca Alquran juga seperti saya. Tak semua muslim dapat kesempatan untuk belajar bahasa Arab klasik atau menjadi mufasir. Namun, kekurangan itu tidak menghapus hak kita untuk membaca Alquran sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman kita. Saya, seperti kebanyakan pembaca — muslim maupun nonmuslim — berhubungan dengan Alquran melalui terjemahan. Tentu saja ada perbedaan besar antara pemahaman melalui kata-kata Arab dan pemahaman melalui terjemahan. Pemahaman melalui bahasa kedua atau bahasa terjemahan, tentu bukan cara yang ideal, tetapi cara itu pun bukan keanehan atau kelemahan. Bahkan, orang yang menguasai bahasa Arab modern — yang jumlahnya kurang dari 4/5 penduduk muslim dunia — tetap kesulitan memahami makna ayat-ayat Alquran. Orang Arab asli mungkin saja piawai melafalkan ayat-ayat Alquran, tetapi mereka pun kesulitan menarik makna ayat-ayat Alquran dan relevansinya dengan isu-isu aktual. Mereka harus bertumpu pada tafsir klasik dan modern. Bagi kaum muslim Arab maupun non-Arab, upaya memahami Alquran dan memaknainya di zaman kiwari merupakan tantangan yang sangat berat dan sulit. Apalagi bagi non-muslim. Jelasnya, kita semua, dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman yang berbeda-beda, harus berjuang keras untuk memahami kitab suci itu” (h. 16).

Membaca kalimat-kalimat Sardar ini benar-benar menyayat dan memilukan hati tetapi juga membanggakan saya. Karena orang sekaliber Sardar saja mau berterus-terang atas keterbatasannya dalam memahami kitab suci yang kita imani ini.

Menurut Sardar, yang menakjubkan, dari ribuan ayat Al-Qur’an, sedikit sekali yang bersifat perintah. Ayat-ayatnya tidak tersusun secara kronologis mengikuti pewahyuannya membuat kian sulit dibaca dalam bahasa Inggris atau bahasa terjemahan lainnya. Kehebatan Al-Qur’an ada pada aspek semantik dan gramatikalnya. Ia menggunakan bentuk bahasa Arab yang tinggi _(fushha),_ sangat indah dengan daya gugah bagi pendengarnya.

*”Bahasa Alquran ini memiliki struktur yang khas. Gaya bahasa itu mengunci satu kata dengan kata lainnua pada satu bagian teks dan kemudian diletakkan di tempat yang tepat dalam keseluruhan teks Alquran. Bahasa yang saling mengunci ini dipandang oleh kaum muslim sebagai keistimewaan _(ijaz)_ Alquran. Aspek ini pula yang membuat Alquran mudah dihafal. Ada jutaan _hafidz_ di seluruh dunia yang hafal seluruh Alquran. Namun, ada ironi yang menohok disini: menghafal Alquran tidak sama dengan membaca, menafsirkan, atau memahami. Sebab, membaca dan memahami meniscayakan pergumulan dengan kata dan makna.”*

Untuk memahami kata dan makna yang terkandung di setiap ayat, kita membutuhkan lebih banyak kecakapan (multidisiplin ilmu). Membaca dan menghafal berfungsi memelihara keberlangsungan teks Alquran agar tidak “ngelantur” kemana-mana. Agar hubungan antara baca dan hafal lebih bermakna, kata-kata yang dihafalkan harus dipahami sesuai dengan tingkat pemahaman setiap orang.

*”Hanya melalui bahasa orang itu sendirilah akan muncul keterlibatan kritis terhadap teks sehingga makna yang terungkap berjalin kelindan dengan lingkup kesehariannya. Terjemahan mungkin saja baik atau buruk; mungkin menyibakkan atau malah menyembunyikan.”*

Diakui Sardar bahwa melalui terjemahan ia berusaha memecahkan beragam makna pada sebagian frasa dan istilah kunci Al-Qur’an. Mana ayat-ayat yang relevan dengan situasi mutakhir. Apa yang sebenarnya dikatakan Al-Qur’an untuk situasi “zaman now”, tuntutan apa yang diberikannya bagi isu-isu kontemporer, bagaimana upayanya memperbaiki kehidupan manusia moderen.

Menurut Sardar, baik muslim maupun nonmuslim dapat memperoleh pemaknaan dasar terhadap Al-Qur’an dan pesan yang dikandungnya meskipun tidak punya pengetahuan khusus. *”Untuk memperoleh pemaknaan mendasar itu, seseorang hanya butuh tekad untuk mengetahui dan belajar, dibantu sumber-sumber yang ada, disertai sikap rendah hati dan sabar. Dengan cara-cara itu, akhirnya pesan Alquran akan terungkap. Tentu saja setiap pembaca akan menelaah ayat-ayat Alquran melalui pengalamannya sendiri, seraya mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengannya. Saya yakin, dalam proses pembacaan, bertanya sangatlah penting. Alquran akan merespons setiap pertanyaan.”*

Buku Sardar ini diangkat dari blog rubrik diskusi Al-Qur’an di harian Inggris _The Guardian_, sehingga pengkajian terhadap Al-Qur’an juga ia lakukan atas pertanyaan “ini-itu” dari kolega-koleganya yang nonmuslim dan ia berusaha memberi pemahaman kepada mereka sejauh apa yang dibacanya dari kitab-kitab tafsir yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tentunya. Menurutnya, metodologi yang digunakan para mufasir klasik adalah penafsiran ayat demi ayat. Mereka yang mengikuti pola ini adalah al-Razi, Ibnu Arabi dan Ibnu Katsir. Juga mufasir mutakhir seperti Sayid Qutb dan Abul A’la Maududi. Namun penafsiran ayat per ayat memiliki keterbataaan kata Sardar seraya mengutip Fazlur Rahman dalam _Major Themes of the Qur’an_, *”Metode semacam itu tidak dapat mencakup pandangan kohesif Alquran tentang alam semesta dan kehidupan”* Cara penafsiran semacam itu terkesan parsial, membenarkan satu pendapat atau pendirian dan mengesampingkan keterkaitan ayat itu dengan ayat lainnya bahkan dengan ruh seluruh isi Alquran. Kesannya seperti pasukan pemadam kebakaran yang mereduksi Al-Qur’an sebatas perintah dan larangan.

Membaca buku Sardar ini secara keseluruhan kita mendapat gambaran tentang sisi lain cara mendekati Al-Qur’an dengan titik berat “pergumulan teks dan konteks” dengan melibatkan banyak audien dengan pelbagai disiplin ilmu. Saya kira para mufasir klasik dan mutakhir belum melakukan teknik penafsiran Al-Qur’an dengan pola ini. Hemat saya, para mufasir itu hanya berdialog satu arah antara dia dan Al-Qur’an, sementara tidak semua orang memiliki kemampuan multidisiplin pengetahuan. Dan dari isi buku Sardar yang berhasil menemukan tema dan konsep kunci di dalam Al-Qur’an. Tema dan konsep kuncinya diurai secara sederhana dan masuk akal. Saya kira apa yang dilakukannya sangat efektif dan bisa diterima oleh semua komunitas.

Oleh: Mochsen Idris Sirfefa

SHARE
Comment