Surat Terbuka Untuk Bupati Sumenep Yang Mempertontonkan Budaya Menjijikkan

Surat Terbuka Untuk Bupati Sumenep Yang Mempertontonkan Budaya Menjijikkan

SHARE

Publik-News.com – Sejumlah kalangan merasa tidak nyaman dengan sikap Bupati Sumenep Abuya Busyro Karim, terkait pegelaran acara bertajuk “Sumenep Batik Festival Fashion On The Street”. Tanpa mengurangi rasa hormat dan tidak menganggap acara yang digelar di Lapangan Gor A.Yani tersebut negatif, warga Sumenep tetap menilai Bupati Busyro mengotori dan merusak budaya dan adat-istiadat Sumenep.

Sikap ketidaknyamanan sebagian warga Sumenep tersebut kemudian membuat salah seorang warga yang melayangkan surat terbuka kepada Bupati Busyro, Senin (11/12/2017). Ahmad Hosaini adalah nama pengirim surat tersebut. Pemuda asal pulau Kangean yang kini mengambil Program Dotor S3 Universitas Negeri Malang ini, menilai sikap sang Bupati Busyro cukup memalukan.

Sebab, menurut dia, apa yang dipertontonkan pada acara yang dianggap Sang Bupati Bupati mendukung Program Visit Sumenep 2018 tersebut, jelas tidak bermoral, tidak beretika dan mengamcam akan menghilangkan identitas Sumenep sebagai kota yang memiliki sejuta harapan dalam menjaga budaya dan adat-istiadat. Berikut surat terbuka Hosaini yang dilayangkan kepada Bupati Busyo selengkapnya.

Kepada

Yth. Bapak Bupati Sumenep

di- Tempat

Assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh.

Salam ta’dhim dan hormat saya kepada bapak semoga bahagia, sehat dan tetap dalam lindungan Allah Yang Maha Kuasa. Sebelumnya saya mohon maaf atas kelancangan saya menulis surat ini kepada bapak. Saya tidak bermaksud untuk mengganggu dan membuat bapak gelisah serta tidak nyaman. Ini saya lakukan semata-mata karena kecintaan saya kepada bapak dan rasa bangga saya sebagai masyarakat Sumenep.
Bapak Bupati yang terhormat!

Jujur dulu saya termasuk orang yang ill fill dengan Sumenep karena saya menganggap Sumenep sebagai kota mati yang tak menjanjikan dan saya merasa ketika hidup di Sumenep tidak akan memberikan rasa aman dan nyaman pada hidup saya dan keluarga saya. Akan tetapi itu semua terbantahkan dengan sendirinya tatkala saya berada di kota ini semenjak tahun 2014 yang lalu. Ternyata dulu dugaan saya salah pada Sumenep. Saya merasakan bahwa Sumenep merupakan kota yang cukup menjanjikan sejuta harapan dan merupakan tempat yang layak untuk hidup tenang dan tentram. Hal itu disebabkan karena Sumenep bagi saya adalah kota yang indah dengan seratus lebih pulau yang ada di dalamnya, masyarakatnya yang hidup rukun dan damai, budayanya yang cukup kreatif dan menarik, masyarakatnya santun dan beradap. Bahkan dalam tutur bahasa Madura, Sumenep dikenal oleh banyak orang sebagai masyarakat yang paling beradab. Ini bagi saya merupakan kekayaan sendiri bagi Sumenep yang tidak dimiliki oleh daerah yang lain dan saya merasa bahwa itu adalah identitas Sumenep dengan masyarakat yang beradab dan beretika.

Bapak Bupati yang baik hati…!

Kekayaan Sumenep dengan budayanya saya pikir perlu dijaga dengan baik jangan sampai dikotori dengan perayaan atau acara-acara yang tidak baik yang mengundang kemarahan banyak orang.  Seperti acara kemarin hari Sabtu tanggal 09 Desember 2018 yang kalau tidak keliru acaranya Sumenep Batik Festival Fashion On The Street yang mungkin untuk mendukung Program Visit Sumenep 2018, pertontonan dalam acara itu bagi saya sungguh memalukan dan menjijikkan. Tidak sepantasnya pertontonan acara seperti itu dihelat di kota Sumenep, karena tidak hanya tidak bermoral tapi sudah berada diluar batas kewajaran. Bagaimana tidak, acaranya yang seharusnya bernuansa positif dan bisa memberikan efek yang baik bagi perkembangan wisata yang ada di Sumenep untuk menggaet wisatawan datang ke kota ini justru dijadikan sebagai ajang untuk mempromosikan POKANG (paha) dan BUJEL (pusar) di depan public yang diliput oleh media cetak dan elektronik. Ini bagi saya memalukan bapak dan sungguh memalukan. Saya rasa bapak lebih paham dari saya bahwa di Sumenep keberadaan dan pertumbuhan pesantren cukup subur dan masyarakatnya mayoritas adalah masyarakat pesantren. Kalau acaranya seperti itu, pastilah tercederai nilai-nilai pesantren yang selama ini dianut masyarakat. Kalau acara ini tujuannya untuk ajang memamerkan aurat baiknya tidak dilakukan di Sumenep. Kalau acara ini untuk memerkan POKANG dan BUJEL baiknya dihelat di luar negeri saja karena tidak pantas itu berada di Sumenep.

Bapak Bupati yang super baik..!

Saya tidak bermaksud mengatakan acara itu adalah negative. Bagi saya acara itu bertujuan mulia, namun cara dan kemasannya yang keterlaluan memalukan. Apalagi acara itu dihelat di area yang berdekatan dengan Masjid Jamik Sumenep. Semua orang paham bapak bahwa masjid itu merupakan sarana ibadah ummat Islam tapi kenapa acara seperti itu tidak dijauhkan dari area masjid. Apakah ada unsur kesengajaan dari pihak penyelenggara? Saya berharap bapak itu bukan disengaja karena kalau disengaja sebagai ummat Islam pastilah masyarakat akan marah. Tidak hanya masyarakat yang ada di Sumenep atau Madura yang akan marah tapi masyarakat muslim sedunia akan merasa terpukul karena akan merasa harga diri sebagai muslim telah dikotori dan dicemari dengan acara itu. Sekali lagi saya berharap itu bukanlah kesengajaan tapi keteledoran dari pihak panitia dan penyelenggara. Kalau itu tidak disengaja tentunya masyarakat berharap bapak bertindak secara tegas dan harus minta maaf.

Atau jangan-jangan itu merupakan great design entah dari mana karena suara yang berkembang di masyakat sebagian peserta datang ke salah satu pesantren yang ada di Sumenep dan mengambil gambar di sana. Kalau ini bagian dari great design untuk menghancurkan moral masyarakat Sumenep dan menginjak wibawa bapak sebagai bupati yang berasal dari pesantren, maka saya berharap dengan sangat segera ditelusuri dan diberikan tindakan yang pantas.

Bapak Bupati yang terhormat…! 

Dengan kejadian seperti itu tentunya saya berharap segera diatasi jangan sampai berkembang bahasa-bahasa negative untuk Sumenep, seperti bahasa “Sumenep akan menjadi kota paha dan BUJEL” karena kalau itu berkembang, maka harga diri Sumenep akan jelek di republik ini dan itu pasti menyakiti hati masyarakat.

Demikian surat ini saya tulis, saya berharap bapak bijak menyikapinya. Sekali lagi mohon maaf atas kelancangan saya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh. (TK/PN)

SHARE
Comment