Surat Terbuka Untuk Buya Syafii Maarif Bikin Ummat Islam Terharu

Surat Terbuka Untuk Buya Syafii Maarif Bikin Ummat Islam Terharu

SHARE

Publik-News.com – Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif selalu membela dan menyanjung Gubenerur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Kali Terakhir Buya menyanjung dan membela Ahok pada saat dihubungi presiden ILC, Karni Ilya pada acara bertajuk “Setelah Ahok Minta Maaf”.

Dalan pernyataannya, Buya mengatakan Ahok adalah orang jujur dan harus dimaafkan karena Ahok sendiri sudah meminta maaf kepada umat Islam setelah melakukan penistaan agama, khususnya Surat Al Maidah Ayat 51.

Sikap Buya yang menyanjung dan membela Ahok ini kemudian mndapat sorotan dari sejumlah pihak, tak terkecuali dari generasi muda Muhammadiyah. Bahkan ada generasi muda yang melayangkan surat terbuka kepada Buya.

Berikut isi lengkap surat terbuka dari generasi muda Muhammadiyah yang ditujukan kepada Buya Syafii Maarif.

Assalamualaikum Wr Wb.

BUYA Syafii Maarif yang saya hormati.

Terlebih dahulu saya mendo’akan agar Buya senantiasa selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin. Sebelum saya melanjutkan surat terbuka ini, saya memohon maaf yang setulus-tulusnya kepada Buya atas kelancangan saya menulis surat terbuka ini kepada Buya. Semoga Buya berkenan dan Allah SWT memberkahi kita semua.

Buya Syafii Maarif yang saya hormati.

Setelah mendengar dan menyimak apa yang Buya sampaikan dalam sebuah acara talk show yang di siarkan secara live oleh sebuah stasiun Televisi swasta pada Selasa malam (11/10), sebagai generasi muda Pergerakan Muhammadiyah sekaligus sebagai putra kelahiran Sijunjung Sumatera Barat, kebetulan juga daerah kelahiran Buya, secara pribadi saya sangat menyayangkan apa yang Buya sampaikan dengan gamblang di hadapan ratusan juta pasang mata yang menyaksikan acara tersebut.

Apa yang Buya sampaikan tersebut ditanggapi beragam oleh masyarakat di banyak media sosial. Pada umumnya mereka sangat menyayangkan penyataan Buya tersebut.

Pernyataan Buya yang seakan menambah luka sebagian umat muslim di Tanah Air, yang sudah terlanjur tersakiti oleh arogansi seorang Gubernur di ibukota Republik ini. Di mana kebebasan beragama telah dinodai, mencabik asa persatuan yang selama ini dibina.

Pernyataan Buya pada acara tersebut meninggalkan tanda tanya besar di kepala saya, ada apa dengan Buya…??

Buya…

Saya kasihan melihat Buya dihujat, dicaci bahkan dibenci oleh saudara Buya sendiri, yaitu umat muslim yang merasa dilecehkan kitab sucinya. Mereka yang merasa terluka oleh pernyataan seorang Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, yang nota bene sorang nonmuslim. Pernyataan Buya yang bernada membela Ahok membuat kami gelisah dengan sikap Buya sekaligus bertanya mengapa dan ada apa dengan Buya kami.

Pernyataan Buya juga mengingatkan saya pada sebuah tulisan salah seorang anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat yaitu Ustadz Irsyad Syafar beberapa waktu lalu.

Ada baiknya Buya kembali membaca serta “mainokmanuangkan” tulisan yang berjudul “Pulanglah Buya”. [Klik: Pulanglah Buya]

Apa yang ada dalam tulisan itu mungkin ada juga benarnya. Sudah saatnya Buya harus pulang ke kampung halaman kita.

Untuk sekedar melepas kepenatan Buya di tengah gegap-gempita kota Metropolitan. Adakalanya Buya sejenak harus meninggalkan hinggar bingar serta hiruk-pikuk perpolitikan Nasional. Sudah saatnya Buya berhenti sejenak, dan pulang kekampung halaman kita.

Berdakwah dari “pondok sawah” yang satu “kepondok sawah” yang lain. Untuk sekedar menyapa generasi muda kita dari

“Dangau ke Dangau”

Menyelamatkan moral generasi muda kita yang sudah sangat jauh melenceng dari nilai nilai Agama. Atau setidaknya melepaskan kerinduan kami terhadap Buya. Atau mungkin memang Buya sudah lupa atau bahkan tidak peduli lagi dengan Sumpur Kudus, Sujunjung, Sumatera Barat.

Semoga Buya masih peduli dengan tanah kelahiran Buya sendiri,walau sering kali Buya hadir dalam jamuan makan malam bersama mereka, di hotel berbintang dan Restoran mewah. Menikmati makanan lezat sambil tertawa bersama.

Buya adalah sahabat sekaligus guru dari orang tua saya. Bukan bermaksud menggurui Buya, tapi hanya sekedar mengingatkan. Kalau apa yang Buya sampaikan pada acara tersebut, sangat tidak mencerminkan ucapan seorang ulama sekaliber Buya. Atau memang faktor usia membuat Buya banyak lupa.

Mungkin Buya masih ingat dengan sebuah pepatah minang: Jalan diasak urang lalu, urang batandang mambaok lapiek, cupak dipapek urang panggaleh”.

Semoga apa yang kami cemaskan, tidak terjadi terhadap bangsa yang bernama Indonesia ini. Jangan sampai anak cucu Buya menjadi tamu di negeri sendiri.

Dan akhirnya saya atas nama putra kelahiran Ranah Langsek Manih mengimbau pulang lah Buya. Unggan, Silantai, Tanjung Bonai Aur merindukan kehadiran Buya. Insya Allah..! 

Hendry Patopang
Generasi muda pergerakan Muhammadiyah & Putra Sijunjung Ranah Lansek Manih

Comment