Surat Terbuka untuk Kapolri Tito Karnavian Ini Berisi Keluh Kesah

Surat Terbuka untuk Kapolri Tito Karnavian Ini Berisi Keluh Kesah

SHARE

Kepada Yth. Bapak Tito Karnavian
Mamak kito Urang sikumbang….

Hari ini Rabu, 03 Mei 2017. Setelah sebelumnya beredar di medsos ajakan untuk mengirim bunga kepada Kapolri, Panglima TNI dan Presiden, kami membaca berita-berita tentang kantor Bapak yang kebanjiran bunga. Seingat kami, beberapa waktu lalu, hujan karangan bunga juga memenuhi Balai Kota Jakarta.

Selama Republik ini, barangkali baru kali ini terjadi fenomena banjir karangan bunga tanpa sebab-sebab yang jelas. Sesuatu yang tdk lazim. Kami menduga banjir karangan bunga ini, besar kemungkinan dikirim oleh orang-orang yang memiliki kelebihan uang, bukan dari rakyat biasa yang untuk makan sehari-hari saja sudah sulit.

Kami melihat dan mendengar komentar Bapak tentang kiriman bunga tersebut yang kami anggap “sedikit aneh”. Bahwa ini bentuk dukungan kepada Bapak dan Bapak merasa lebih termotivasi dalam bekerja.

Atas komentar “sedikit aneh” tersebut, perkenankan kami mengingatkan beberapa hal, sebagai sesama muslim, sebagai sesama anak bangsa dan sebagai sesama orang yang ingin Indonesia menjadi negara maju, adil dan makmur.

Pertama tentang tujuan hidup

Sebagai muslim, tujuan hidup kita adalah mardhatillah atau mencari dan mendapatkan ridha Allah SWT. Kita berikhtiar maksimal semata-mata agar Allah SWT ridha, senang dan suka dengan apa-apa yang kita kerjakan. Inilah tujuan hidup tertinggi setiap muslim. Inilah motivasi tertinggi dalam kehidupan kita.

Kedua tentang negara hukum Indonesia

Kemerdekaan Indonesia dihasilkan oleh perjuangan segenap bangsa. Para pejuang kemerdekaan didominasi oleh para Kyai dan Ulama sebagai pimpinan dan umat Islam sebagai pasukan serta laskar-laskar. Sejarah ini terjadi belum lama. Masih kurang dari 100 tahun.

Para Pendiri Republik Indonesia dengan berbekal ilmu, pengalaman dan visinya yang jauh ke depan telah menetapkan bahwa Negara Republik Indonesia adalah negara hukum. Bukan negara kekuasaan. Hukum adalah panglima tertinggi.

Menurut hemat kami, selaku Kapolri, Bapak bertanggung jawab atas tegaknya hukum dan perundang-undangan di negeri kita Indonesia. Bapak wajib berada di atas segala golongan masyarakat, bukan berpihak pada sekelompok kecil masyarakat. Apalagi berpihak kepada teman, saudara dan handai tolan. Bapak wajib menjaga jarak terhadap siapa pun termasuk kepada orang atau kelompok yang telah mempromosikan Bapak menjadi Kapolri.

Ketiga tentang demokrasi

Pak Tito, para Pendiri Republik juga telah memilih jalan demokrasi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan politik di negara ini. Sekurang-kurangnya dalam demokrasi, suara mayoritas wajib lebih dihargai dibandingkan suara minoritas.

Dalam negara demokrasi Indonesia, tidak ada dominasi mayoritas maupun tirani minoritas. Semua orang sama kedudukannya dalam hukum dan perundang-undangan. Sekalipun demokrasi belum bisa menjamin kesejahteraan rakyat, kita yakin jalan ini adalah pilihan terbaik bagi kita.

Keempat tentang Jabatan Kapolri

Kalau boleh memberi saran, perkenankan kami mengingatkan bahwa jabatan Kapolri tidak akan Bapak sandang selamanya. Kekuasaan akan dipergilirkan diantara manusia. Oleh karena itu, alangkah indahnya apabila kekuasaan yg Bapak miliki didayagunakan semaksimal mungkin untuk mencari ridha Allah SWT, untuk mempertinggi kualitas negara hukum Indonesia dan untuk mempersubur demokrasi kehidupan masyarakat.

Pak Tito…
Ketika Bapak turun dari jabatan Kapolri, Bapak akan kembali menjadi rakyat biasa seperti kami semua rakyat Indonesia. Saat itu, Bapak akan dikenang sebagai apa? Sejarah akan mencatat semua yang Bapak lakukan, baik maupun buruk. Semoga Bapak termotivasi mencatatkan diri dalam sejarah Indonesia sebagai Kapolri yg memegang amanah dengan baik dan sarat dengan prestasi.

Semoga Allah SWT senantiasa akan memberi petunjuk, bimbingan dan perlindungan kpd Bapak dalam menjalankan tugas mulia selaku Kapolri.
Aamiin.!

Dari saudaramu Sujana Sulaeman

SHARE
Comment