Surat Untuk Jokowi dari Anak Seorang Ulama Pariaman Terkait Persekusi Ustadz Abdul...

Surat Untuk Jokowi dari Anak Seorang Ulama Pariaman Terkait Persekusi Ustadz Abdul Somad

SHARE

Publik-News.com – Dipersekusinya Ustadz Abdul Somad oleh beberapa oknum ormas tertentu, yang mengatasnamakan warga Bali, membuat Asrul Khairi, anak seorang ulama kampung di Pariaman, melayangkan surat terbuka dan ditujukan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Mewakili umat Islam, Asrul Khairi mengaku tidak terima dengan sikap sekolompok oknum ormas terentu yang memberlakukan Ustadz Abdul Somad tersebut. Tidak hanya mencaci maki, sekolompok orang dari ormas tertentu tersebut juga memerintahkan alumnus Al Azhar Cairo Mesir itu untuk mencium bendera, dilakukan upaya PERSEKUSI, dihadang, disumpah serapahi, didatangi dengan membawa senjata tajam, dipaksa mengikuti kehendak, dan pengajiannya diancam dibubarkan.

Dalam surat terbukanya kepada Jokowi, Asrul Khairi juga mengaku dari Pondok Pesantren Dinul Ma’ruf Sungai Janiah. Berikut surat teruka dia yang dilayangkan kepada Jokowi selengkapnya.

 

Surat Terbuka untuk Yang Mulia Presiden RI
Ir. H. Jokowi Dodo
Di
Istana Negara

Sebelumnya kami mendoakan semoga Yang Mulia Presiden selalu diberikan kesehatan jiwa raga baik dalam berfikir, beraktivitas menjalankan rutinitas kenegaraannya.

Miris, setelah sekian lama peristiwa kelam bangsa ini G-30S/PKI berlalu, barulah di rezim Yang Mulia ini kita mendapatkan ulama diperintahkan cium bendera, dilakukan upaya PERSEKUSI, dibubarkan dalam pengajian, dihadang, dicaci, dimaki, disumpah serapahi, didatangi dengan membawa senjata tajam, dipaksa mengikuti kehendak tanpa otoritas, dilabelkan bersalah tanpa “in kracht” Pengadilan dan asas Praduga Tak Bersalah.

Sungguh Yang Mulia, ini bukanlah tontonan dagelan lucu hidup berbangsa. “Pembiaran” kegilaan secara berlebihan yang dilakukan oleh orang-orang normal dengan cara yang tidak wajar, Dan itu terus berulang.

Kami sudah coba diam dan menahan saudara kami yang lainnya berharap keadaan tidak memburuk, tapi malah dibalik diam kami mereka terus menumbuhkan taring tajamnya untuk mencabik-cabik marwah ulama kami. Atau mungkin, ini pertanda bahwa diam bukanlah sebuah pilihan lagi? Na’udzubillahi Min Dzalik.

Yang Mulia, mungkin mereka lupa tentang peran ulama kami dalam memerdekakan NKRI yang tengah mereka nikmati sampai sekarang ini.

Jasmerah bung!!! (Jangan sekali-kali melupakan sejarah) Kutipan pidato bung Karno, 1966.

Dan kini tiba-tiba entah kenapa yang kami rasakan Perppu ORMAS (No. 2 tahun 2017) mandul seketika.

Apa iya, Perppu sakti mandraguna ini sudah tumpul sekali tebas dan sudah tidak tajam lagi? Ah, Rasanya tidak mungkin. Seperti memesan makanan cepat saji, lekas basi, cukup “sekali pakai”, selesai. Wallahu A’lam Bishawab, hanya terlintas dipikiran awam kami, semoga Yang Mulia bisa meluruskannya.

Sebagai seorang anak yang dilahirkan dari seorang ulama pimpinan pondok pesantren, saya kerap kali terlibat langsung melihat dan menyaksikan upaya keras ulama dalam berikhtiar mewujudkan negeri “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur”, Namun hari ini saya melihat sendiri mereka meneteskan air mata, sembari sesekali menyapu keringat lelah dengan surban tuanya.

Tegasnya Yang Mulia, saya ingin menyampaikan, setiap tetes air mata kesedihan ulama kami adalah luka membara umat islam, hentikan pembiaran ini jangan sampai luka umat ini membesar sehingganya menjadi lidah api yang sulit untuk di padamkan.

Melalui Surat Terbuka dipagi Subuh ini kami *”MENGECAM KERAS”* tindakan agresif oknum yang mengakunya toleran ini, meminta kepada Yang Mulia untuk penegakan hukum yang se adil-adilnya, Dan terakhir memohon negara hadir bersama ulama, bersama umat, bersama masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke demi keutuhan NKRI yang sama-sama kita jaga dan kita bela sampai titik darah penghabisan ini. NKRI HARGA MATI!. (HR/PN)

Comment