Survei Charta Politik Indonesia Tempatkan Elektabilitas Agus-Syilvi Tertinggi

Survei Charta Politik Indonesia Tempatkan Elektabilitas Agus-Syilvi Tertinggi

SHARE

Publik-News.com – Charta Politika Indonesia kembali menyelenggarakan survei refrensi politik masyarakat DKI Jakarta menjelang Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta periode 2017-2022. Jumlah sumple sebanyak 733 responden dari 800 yang direncakan, yang tersebar di wilayah kota administrasi dan satu Kepulauan.

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Widjaya mengatakan, survei ini digelar pada 17-24 November 2016 melalalui wawancara tatap mula dengan menggunakan kuisener terstruktur. Survei ini dianggap menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margir of eror 3,5 perseb pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam survei ini, Yunarto memaparkan tingkat elektabilitas tiga pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI. Dalam temuan survei itu, kata dia, dari elektabilitas top of maid (pertanyaan terbuka) Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni berada di atas dua rival politiknya.

“Tingkat elektabilitas simulasi Cagub-Cawagub, dengan pertanyaan bila Pilkada DKi dilangsungkan hari ini, pasangan Agus-Sylviana memperoleh 29,5 persen. Disusul Ahok-Djarot 28,9 perseb dan Anis-Sandiaga 26,7 persen,” kata Yunarto, Selasa (29/11/2016).

Sedangkan yang belum menentukan dalam survei ini, kata dia, sebanyak 14,9 persen. Dengan demikian, menurut Yunarto, survei ini menunjukkan bahwa jika Pilkada DKI digelar hari ini, maka berpotensi menjadi dua putaran, karena perolehan elektabiltas masing-masing calon masih di bawah 50 persen +1.

Sementara tingkat elektabilitas yang tidak terlalu berbeda ketika dilakukan dengan menggunakan simulasi kertas suara, Agus-Sylviana memperoleh 30,4 perseb, Ahok-Djarot 29,3 perseb dan Anis-Sandiaga 26,9 persen.

“Sedangkan yang belum menentukan pilihan sebanyak 14,4 persen,” pungkasnya.

Alasan tingginya elektabiltas Agus-Sylviana karena dinilai tegas 23,1 persen, ganteng 19,4 persen, berwibawa 11,1 persen. Sedangkan AHY tidak dipilih karena belum berpengalaman 23,3 perseb, belum terbukti 3,7 persen dan belum dikenal 3,3 persen.

Sedangkan Ahok dipilih karena dinilai kerja nyata 34,0 persen, tegas 23,6 persen, bagus 6,1 persen. Sementara yang tidak memilih Ahok karena alasan bicaranya kasar 17,1 persen, beda agama 15,9 persen dan penista agama 6.0 persen.

“Kemudian Anis dipilih karena dinilai ramah 18,4 persen, baik dan tegas 13,8 persen, pinter 11,7 persen. Sedangkan Anis tidak dipilih karena dinilai belum berpengalaman 6,1 persen, tidak dikenal 5,0 persen dan gila jabatan 2,2 persen,” paparnya.

Menurut Yunarto, sebanyak 32,3 persen perempuan memilih pasangan Agus-Sylviana, sementara laki-laki lebih memilih pasangan Ahok-Djarot 30,2 persen. Pasangan Agus-Syilviana unggul pada katagori usia 30-39 tahun, pasangan Ahok-Djarot pada katagori usia 20-29 tahun.

“Sementara Anis-Sandiaga unggul pada katagori pemilih pemula, 40-49 dan diatas 50 tahun,” katanya.

Adapun dalam hal segmen profesi, Agus-Sylvi unggul dengan segmen petani 25,0 persen, pedagang 33,3 persen, profesional 42,9 persen, dan Ibu Rumah Tangga 33,8 persen. Sementara Ahok-Djarot unggul pada segmen pekerjaan pengusaha 35,6 persen, pegawai swasta 31 persen, pensiunan 31,8 persen dan mahasiawa/sekolah 41,3 persen.

“Sedangkan Anis-Sandi unggul pada segmen pekerjaan Buruh/tukang 37, 5 persen, tidak bekerja 37,5 persen dan lainnya 38,5 persen,” katanya. (HR)

SHARE
Comment