Home Opini Tafsir Ulang Hewan Qurban

Tafsir Ulang Hewan Qurban

Sudah kegaliban, menjelang Hari Raya Idul Adha (Qurban), umat Islam sibuk menyiapkan hewan qurban. Menyembelih hewan qurban diyakini sebagai manifestasi eskatologis, yakni adanya ekspektasi pahala dari Tuhan dan sekaligus merupakan wujud keikhlasan untuk memberi sesuatu yang dicintai berupa hewan qurban. Selain aspek eskatologis, sejatinya diyakini sebagai manifestasi sosiologis-humanis agar perintah Tuhan kepada Nabi Ibrahim bersifat fungsional di bumi. Tentu hal ini terkait dengan keyakinan bahwa ajaran Tuhan bersifat rahmat lil ‘alamin, yakni universalisme dan kosmopolitanisme agama.

Reorientasi Qurban

Idul Qurban sesungguhnya merupakan simbol pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail yang luar biasa. Pengorbanan yang dilakukan itu menstimulasi turunnya rahmat dan keridhaan dari Tuhan Maha Penebar Kasih. Tuhan kemudian mengganti Ismail dengan seekor domba. Ismail sendiri selamat karena yang kemudian disembelih adalah domba yang diturunkan Tuhan sendiri. Ihwal ini terekam dalam surah Ash-Shaffat ayat 105 – 110; “Wahai Ibrahim, perintah yang engkau dapati dalam mimpi itu telah engkau kerjakan. Kami tentu memberikan balasan kepada orang-orang yang baik seperti itu. Sesungguhnya, ini adalah ujian yang sangat besar. Untuk itu, kami ganti pengorbanan itu dengan sembelihan yang agung. Nama Ibrahim akan Kami kekalkan bagi umat-umat setelahnya. Salam bagi Ibrahim. Kami berikan pahala bagi kebaikan seperti ini. Ia termasuk di antara hamba-hamba-Ku yang beriman”.

Dengan demikian hikmah ibadah qurban jelas berorientasi membersihkan hati agar menjadi lahan yang subur untuk tumbuh dan bersemainya iman dan taqwa. Keikhlasan untuk memberi sesuatu yang manusia cintai merupakan kata kunci (key word) dari semangat pengorbanan ibadah Qurban. Dengan keikhlasan, seseorang dapat mewujudkan amal sejati. Kesejatian setiap amal diukur dari sikap keikhlasan yang melandasinya. Dengan semangat berqurban berarti mengurangi penyakit mental keserakahan dan kerakusan yang kini menggelayuti negeri tercinta ini. Mengganasnya korupsi dan perampasan hak-hak yang bukan miliknya, merupakan wujud dari kurangnya keikhlasan mendistribusikan sesuatu yang dicintai, yakni kerakusan harta.

Perintah berqurban jelas berdimensi sosiologis-humanis dalam rangka mengkristalkan rasa kemanusiaan dan mengasah sensitivitas nurani sosial manusia. Ini artinya, keyakinan menjalankan perintah agama seharusnya berdimensi sosial universal. Jika tidak, manusia akan dituduh oleh Tuhan sebagai pendusta agama, karena tidak mampu mewujudkan nilai-nilai sosial (QS; 107:1-3).

Instrumentasi Dana

Ilmu ekonomi adalah taksonomi dari ilmu sosial. Sebagai bagian dari ilmu sosial, ilmu ekonomi harus mampu memecahkan persoalan-persoalan sosial yang berdimensi peningkatan kesejahteraan umat manusia. Hanya persoalannya, dalam realitas saat ini ilmu ekonomi telah berdeviasi jauh sehingga kehilangan roh kemanusiaannya, dan digantikan roh pragmatisme dan kerakusan. Tidak heran, jika ilmu ekonomi saat ini didakwa sebagai ilmu yang telah menjerumuskan umat manusia. Sehingga mengaitkan ilmu ekonomi dengan keyakinan keagamaan, termasuk perintah ibadah qurban akan dipersepsikan sebagai komersialisasi ibadah qurban di pasar publik.

Sebagai ilmu yang sejatinya berorientasi pada peningkatan kesejahteraan umat manusia, tentu ilmu ekonomi mempersepsikan keyakinan keagamaan sebagai perintah Tuhan. Agama yang diturunkan Tuhan bukan untuk Tuhan tapi untuk kepentingan umat manusia. Agama sebagai wadah pengabdian kepada Tuhan. Dengan demikian, agama seharusnya sebagai wadah untuk mengawal manusia mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Demikian pula ilmu ekonomi, semestinya menjadi instrumen ilmu untuk peningkatan kesejahteraan manusia.

Dalam kaitan itulah, perintah Tuhan kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail, seyogianya ditafsirkan sebagai ibrah (pelajaran) kepada umat manusia agar aset yang dicintainya bukan semata milik pribadi (private domain), tapi milik umat manusia secara keseluruhan (public domain). Ismail adalah aset Ibrahim, tapi demi kepentingan public domain, Ibrahim ikhlas meredistribusikannya.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, apakah simbol hewan qurban untuk konteks saat ini hanya satu-satunya sebagai instrumen dalam ibadah qurban? Apakah tidak ada peluang simbol aset private domain lainnya yang bisa dijadikan instrumen ibadah qurban? Saya rasa, hal ini perlu ditafsir ulang. Persoalannya, hewan qurban pada beberapa sisi kurang memberi kemaslahatan untuk peningkatan kesejahteraan para mustahiq (penerima hewan kurban). Apakah kemiskinan, kemelaratan, maltrunisi, rendahnya tingkat pendidikan umat, seyogianya dijawab dengan dengan distribusi hewan qurban? Bukankah momentum ibadah qurban di mana umat Islam pada umumnya rela dan ikhlas melepaskan hartanya untuk membeli hewan qurban agar bisa dijadikan instrumen peningkatan kesejahteraan umat?

Momentum ibadah qurban seyogianya diarahkan pada pemberian ke mustahiq berupa instrumen yang mampu mengeluarkan mereka dari jeratan kemiskinan, kemelaratan, maltrunisi, dan pendidikan yang rendah. Hewan qurban pada beberapa sisi memang diakui bisa menggembirakan secara instan mereka yang membutuhkan. Tapi dalam konteks jangka panjang, apakah tidak sebaiknya hewan qurban dikonversi menjadi instrumen yang secara riil langsung bersentuhan dengan kebutuhan riil mustahiq. Oleh karena itu dibutuhkan need assessment terutama oleh institusi keagamaan, jauh sebelum pelaksanaan distribusi hewan qurban.

Bagi mustahiq yang anggota keluarganya melarat, kebutuhan mereka seyogianya bukan dengan hewan qurban tapi dalam bentuk akses ataukah dalam bentuk dana. Dana bisa dijadikan oleh mereka untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Bagi mustahiq yang anggota keluarganya putus sekolah, seyogianya mereka diberi biaya sekolah dari dana hewan qurban. Jadi pada dasarnya, dana persiapan hewan qurban bisa dikonversikan dalam bentuk lain sesuai dengan kebutuhan riil dan obyektif mustahiq.

Dengan demikian, momentum ibadah qurban tidak menjadi sia-sia dalam rangka proses pemberdayaan dan kesejahteraan umat manusia. Memang diakui bahwa instrumen fungsional pemberdayaan dalam ajaran dan keyakinan agama Islam cukup banyak, seperti zakat, infaq dan sadaqah (ZIS). Instrumen-instrumen tersebut sudah berjalan, tapi rasanya belum cukup efektif, yang bisa jadi disebabkan oleh faktor manajemen pemungutan dan distribusi. Namun demikian, bukankah momentum banyaknya hewan qurban menjelang Idul Qurban bisa dijadikan alasan percepatan proses pemberdayaan melalui konversi hewan qurban sehingga bisa sesuai dengan kebutuhan riil dan obyektif mustahiq.

Jika diandaikan, bahwa dalam momentum hewan qurban setiap kabupaten/kota menyembelih hewan kurban minimal 300 ekor sapi dikalikan dengan jumlah 500 kabupaten/kota dikalikan lagi harga sapi rata-rata Rp 15.000.000 [lima belas juta rupiah], diperoleh angka Rp 2.250.000.000.000.000 (dua triliun dua ratus lima pulih miliar rupah). Hewan qurban ini belum termasuk dengan domba dan kambing yang menjadi tradisi penyembelihan di berbagai tempat.

Data jumlah domba dan kambing secara nasional sulit ditemukan secara pasti, namun jika diandaikan bisa jadi lebih dari 5 kali lipat dari jumlah hewan sapi qurban. Boleh dikatakan bahwa setiap momentum ibadah qurban, paling tidak ada Rp 5 triliun yang disiapkan umat Islam di antero Nusantara ini. Apakah dana sebesar ini yang terkumpul tiap tahunnya tidakkah selayaknnya diredistrusikan pada program pemberdayaan dalam rangka peningkatan kesejahteraan umat manusia?

Cukup banyak umat manusia yang ingin keluar dari jeratan kemiskinan dan kemelaratan. Jika diobati dengan hewan qurban, rasanya kurang tepat sasaran dan bisa jadi hewan qurban yang sudah disembelih akan mubazir. Momentum penyembelihan hewan qurban seyogianya dipikirkan ulang sesuai kebutuhan riil dan obyektif mustahiq. Sehingga momen-momen seperti ini karena diikat oleh keyakinan ajaran keagamaan, maka sepantasnya ajaran tersebut difungsionalkan sehingga mampu memberdayakan. Jangan sampai, karena ekspektasi pahala yang bakal diterima pemberi hewan qurban ternyata sia-sia karena justru memelaratkan umat manusia. Wallahu ’alam.

Oleh: Mukhaer Pakkanna
(Penulis adalah Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta)

Comment