Takwil Ibn ‘Arabi

Takwil Ibn ‘Arabi

SHARE
http://www.takrim-alquran.org/wp-content/uploads/2013/10/1632440AlQuran780x390.jpg
http://www.takrim-alquran.org/wp-content/uploads/2013/10/1632440AlQuran780x390.jpg

 

Oleh Mohd. Sabri AR

 

 

 

Ini adalah nubuwat: terbit dari jenius terbesar tradisi ‘irfani, Ibn ‘Arabi. Pandangannya tentang teks suci Alquran ibarat senandung dengan napas alegorisma yang kukuh. Membaca idenya, membawa kita ke makna teks yang paling purba. Disana, kata-kata menjadi demikian bertenaga, nyaris magis. Ibn ‘Arabi memang sosok istimewa, yang mampu setiap kali mengembalikan energi yang mengejutkan pada kata. Baginya, amsal dan metafora adalah sisi misteri bahasa, kata-kata yang diselimuti selubung, agar makna tak ditaklukkan cahaya langsung kebenaran. Di ruang sadar ini, Ibn ‘Arabi berbicara soal takwil.

 

Karena Alquran aktual yang diwahyukan adalah manifestasi rahmat dan petunjuk Ilahi, Ibn ‘Arabi memperlihatkan penghormatan demikian tinggi pada teks suci ini. Bentuk linguistik teks, baginya, mesti didahulukan daripada semua bentuk penyingkapan makna Alquran. Tak sedikit peneliti memosisikan Ibn ‘Arabi sebagai seorang pengguna utama takwil, yang menjadikan teks suci sebagai pintu untuk menerobos alam misterium-transendental. Di titik ini, Ibn ‘Arabi mengembangkan interpretasi teks bedasarkan metode penyingkapan-intuitif (kasyf) yang melampaui kemacetan kognitif manusia.

 

Ada dua jenis ilmu dalam pendakuan Ibn ‘Arabi, merujuk napas Qs. 5:66: “pemberian” (mawhûbah) dan “perolehan” (muktasabah). Pertama, “pemberian” adalah jenis ilmu hasil takwa via penyucian spiritualitas, sebagaimana firman Allah, “Bertakwalah kepada Allah, dan Dia akan mengajarimu” (Qs. 2:282). “Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan bagimu pembeda (furqân)” (Qs. 8:29). “Yang Maha Pengasih mengajarkan Alquran” (Qs. 55:1-2). Kedua, jenis ilmu yang “diperoleh” dengan kerja keras,  perihal menafsir teks maupun pengalaman.

 

Ibn ‘Arabi menolak takwil Alquran yang bersumbu pada jenis ilmu “perolehan” yang mengandaikan penalaran, pemikiran, refleksi, dan hasrat. Sebaliknya, Ibn ‘Arabi menerima takwil seseorang yang dibimbing oleh Allah melalui “pemberian” langsung pemahaman-mendalam, maksud yang dikandung oleh Kitab-Nya. Mereka adalah yang diberi oleh Allah ‘ilm al-hudhûrî, yang dalam Qs. 3:7 disebut, “orang-orang berakar kukuh dalam ilmu” (al-râsikhûna fî al-’ilm).

 

Itu sebabnya, dalam Futuhât al-Makkiyah Vol.4:432, Ibn ‘Arabi mengandaikan takwil sejati adalah yang menautkan “teks-dunia kode-makna”. Dengan demikian, Ibn ‘Arabi tetap memelihara kesesuaian antara arti tekstual dan arti transendenta-spiritual. Takwil seperti ini senapas dengan pesan kudus Nabi Muhammad, “Dalam setiap ayat Alquran ada makna lahir dan ada makna batin”. Takwil, sebab itu, mengandaikan terpeliharanya kesatuan organik antara syariat-hakikat, eksoterik-esoterik, imanen-transenden dari tarian makna dalam gelombang cahaya teks Alquran

SHARE
Comment