Talk Show Mahasiswa dan Pemuda Soal Komitmen Pancasila Sudah Final

Talk Show Mahasiswa dan Pemuda Soal Komitmen Pancasila Sudah Final

SHARE

Publik-News.com – Sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi dan organisasi kepemudaan (OKP) menggelarTalk Show Dialog Nasional bertajuk “Mengulas Sejarah Kemerdekaan Indonesia Guna Meneguhkan Komitmen Kebangsaan”.

Acara tersebut digelar di Hotel Mega Proklamasi-Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (25/8/2017). Ada empat narasumber yang hadir pada acara yang dihadiri puluhan orang ini.

Mereka adalah Wakil Ketua Umum IPI KH. Achmad Imron, Dekan UHAMKA Dr. Desvian Bandarsyah, Ketum Fornas Bhineka Tunggal Ika Dr. Syaiful Rahim, dan Guru Besar HTN Prof. Zaenal Arifin. Secara bergantian, mereka membicarakan ideologi dan nilai-nilai Pancasila dari berbagai perspektif.

KH. Imron memaparkan ideologi Pancasila dalam perspektif teologis. Disebutkan bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa sudah final dan tidak perlu diperdebatkan kembali. Keberagaman di Indonesia adalah sebuah keniscayaan yang harus dirawat dan dilestarikan.

“Sudah final NKRI ini. Kalau misalnya tidak ada yang beres maka mari kita benahi secara bersama-sama. Pancasila adalah konsensus bersama,” paparnya.

Hal yang sama juga dikatakan Dr. Desvian Bandarsyah. Menurutnya, sejumlah problema bangsa yang datang silih berganti disebabkan karena adanya ketidak adilan sosial. Misalnya, dia mencontohkan munculnya isu komunis dan gerakan separtis yang berpotensi menimbulkan disintegrasi karena kesejahteraan sosial yang kurang dipedulikan.

“Kesejahteraan adalah intinya sehingga ada isu komunis. Padahal komunis sudah bubar di negeri induknya. Selain itu, ketidakadilan sosial juga memunculkan masalah sosial,” katanya.

Zarnal Arifin juga memaparkan hal serupa. Menurutnya, rumusan tentang ideologi Pancasila sebagai dasar negara pernah diperdebatkan secara akademik para founding father.

“Ada suatu perdebatan akademik waktu itu. Para perumus ini saling memberikan masukan dan akhirnya menjadi suatu rumusan. Rumusan itu akhirnya menjadi konsensus,” ujarnya.

Lantas dari mana ajaran konsensus para founding father dalam merumuskan ideologi bangsa itu? Menurutnya, hal itu karena adanya pengarus nilai-nilai keagamaan di hati para founding father bangsa tersebut.

“Agama selalu menjadi sumber nilai membangun negara, membangun tatanan sosial dan keadilan. Maka di sinilah letaknya aspek teologis itu,” tuturnya. (HR)

SHARE
Comment