Terkoyaknya Kanopi Suci di Langit Jakarta

Terkoyaknya Kanopi Suci di Langit Jakarta

SHARE

Agama mestinya menjadi kanopi suci. Menaungi seluruh dimensi kehidupan makhluk ciptaan-Nya. Keniscayaan seperti itu hanya mungkin terjadi jika manusia menyadari asal dan tujuan keberadaannya di persada Bumi. Keyakinan akan kehidupan yang kekal di hari kemudian, membawa manusia pada suatu ajaran bahwa keberadaan di bumi ini adalah suatu rangkaian perjalanan menuju keabadian.

Kehidupan di muka bumi ini sungguh sementara. Maka menjadi kerugian bagi siapapun yang abai terhadap waktu yang dimilikinya. Karena sesungguhnya waktu itulah sumber daya paling penting diantara semua sumber daya yang dianugerahkan sang pencipta kepada manusia.

Anda boleh memiliki banyak harta, namun seberapa banyak waktu yang anda miliki untuk menikmatinya itu jauh lebih penting daripada kepemilikian harta tersebut. Boleh, dan sah saja anda memperebutkan aneka jabatan untuk berkuasa dan berkehendak atas apa yang anda ingin lakukan, namun seberapa banyak waktu yang anda miliki untuk menjalankan kekuasaan yang berhasil anda rebut.

Karena itulah para Nabi, Rasul, Lama, Rohaniawan, Pandita, Wali dan mereka yang memahami dengan baik makna dari kehadirannya di muka bumi ini mengajarkan bahwa kebermaknaan atas apa yang menjadi tindakan sangat ditentukan sejauhmana tindakan itu dilakukan sesuai “titah penguasa langit”.

Bangsa Indonesia, adalah bangsa yang berketuhanan yang Maha Esa. Bangsa yang religious. Demikian para founding fathers menyebut secara tegas dalam rumusan disaat memproklamirkan berdirinya Negara Republik Indonesia. Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, demikian bunyi penggalan kalimat dalam mukaddimah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang senantiasa kita baca dalam setiap pelaksanaan upacara.

Namun, alih-alih nilai-nilai yang terkandung dalam makna pembukaan itu telah diejawantahkan dalam kehidupan kenegaraan dan kebangsaan kita, yang terjadi justru sungguh jauh dari khakikat makna yang dimaksudkan. Agama sebagai ajaran, norma hidup  mestinya menjiwai seluruh gerak perjuangan bangsa Indonesia dalam mengisi pembangunan.

Untuk itu, tidak diperlukan perda, pergub, perpres dan aneka jelimet peraturan. Yang diperlukan hanyalah penyerahan diri secara total kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Bagaimanapun juga, tempat dari agama bukanlah gedung yang mewah, bukan apartemen, bukan di mall, bukan di masjid, di gereja, di sekolah, digunung, disungai, dilangit, bukan. Tempat agama adalah didalam lubuk hati manusia yang terdalam. Karena itu tidak memerlukan apa-apa. Agama telah sempurna dan disempurnakan oleh sang Pencipta. Karena itu, agama tidak memerlukan rekayasa genetic, tidak memerlukan inovasi, tidak memerlukan kreatifitas. Agama hanya memerlukan keikhlasan manusia untuk sami’na wa ato’na terhadap apa yang telah digariskan dalam kitab-kitab suci, atas apa yang dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul-Nya.

Agama bukanlah budaya yang senantiasa memerlukan inovasi dan kreatifitas agar peradaban manusia lebih baik. Tentu saja, budaya yang baik, lahir dari tangan-tangan kreatif dan inovatif dari mereka yang jiwanya bersih, akal pikirannya sehat.

Hari-hari terakhir ini kanopi suci di “langit” Jakarta nampaknya terkoyak-koyak. Orang-orang berebut pengaruh dengan mencoba memanipulasi agama. Suatu perbuatan yang amat tercela, tidak terpuji dan sia-sia. Agama mereka jauhkan dari tempat yang seharusnya berada, didalam hati. Agama mereka tempatkan di spanduk, di meme, di brosur-brosur demi memperoleh kedudukan duniawi. Mereka ingin menipu dengan menggunakan ayat-ayat Allah, padahal sesungguhnya merekalah yang sedang tertipu. Mereka ingin disebut dekat kepada Allah, padahal sebenarnya mereka makin menjauh dari Allah. Yang mereka sebut agama sebenarnya hanya budaya, tradisi. Lalu yang tidak sependapat dengan mereka, mereka anggap kafir. Saling mengkafirkan atas klaim agama, padahal yang mereka sebut agama, tidak lebih hanya budaya. Apa bedanya agama dengan budaya ? agama bersemayam didalam hati yang terdalam, tidak terjangkau oleh iblis, maupun jin, yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, tempat dimana hanya ada ketunggalan tanpa dualitas. Tidak terikat oleh hukum sebab akibat, dan tidak memerlukan pembenaran apalagi penyucian. Sempurna dalam kesempurnaannya.

Berbeda dengan budaya, yang berada pada dimensi akal aktif manusia, akal budi dan pikiran yang menuntut adanya dualitas dari hukum sebab akibat. Jika agama hanya mengenal kebajikan, keselamatan, kedamaian, kasih sayang, cinta, welas asih dan hal-hal yang berdimensi positif, maka budaya memiliki kecenderungan dualitas yang berdimensi negative dan positive.

Politik adalah salah bentuk kebudayaan. Dan karena itu aktifitas politik adalah aktifitas budaya. Tentu saja cahaya agama memberi pengaruh kepada aktifitas budaya, seperti halnya politik. Namun politik sebagai budaya, tidak dengan sendirinya berarti bersumber dari agama.

Pemilihan Gubernur atau kepala daerah adalah aktifitas politik, bagian dari budaya yang semestinya dipengaruhi oleh dimensi agama itu, seharusnya berlangsung dalam suasana yang nyaman, damai, penuh kasih, jauh dari fitnah, propaganda yang saling mencederai. Semoga hari-hari kedepan situasinya makin membaik.

Wallahu a’lam bi al shawab

Oleh: Hasanuddin, Penggiat di The Wisdom Institute

SHARE
Comment