Ternyata Sudah Dua Kali Kemenpora Bohongi KMHDI

Ternyata Sudah Dua Kali Kemenpora Bohongi KMHDI

SHARE

Publik-News.com – Tanpa bantuan dana dan kehadiran Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Kongres Mahasbha ke-X Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) berjalan sukses. Kongres KMHDI itu digelar pada 25-28 Agustus 2016 di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Meski Kongres sudah selesai, kekecewaan kader KMHDI belum redah. Sebab, KMHDI sebagai organisasi mahasiswa Hindu tingkat nasional sudah dua kali di kecewakan. Kali pertama organisasi kemahasiswaan yang dirikan pada 1993 silam, ini terjadi saat Menteri Imam Nahrawi membatalkan hadir pada acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) XII KMHDI di Lampung, pada Agustus 2015 lalu.

“Satu tahun yang lalu kami pernah di PHP (pemberi harapan palsu) karena satu jam sebelum acara pak Menteri batal hadir dalam kegiatan nasional kami di Lampung,” ujar Presidium KMHDI Putu Wiratna saat dihubungi Publik-News.com, Senin (29/8/2016).

Perlakukan diskriminatif Kemenpora terus belanjut sampai Kongres Mahasbha X KMHDI. Putu menuturkan KMHDI dua kali melayangkan surat kepada Kemenpora sebelum Kongres KMHDI di Kendari, Sulawesi Tenggara dilaksanakan. Surat pertama yang dilayangkan sekitar Mei dan surat kedua dilayangkan sekitar Juli 2016. Menurut Putu, surat pertama adalah permohonan audiensi sementara surat yang kedua berisi perihal permohonan kahadiran Menpora Imam Nahrawi untuk membuka Kongres.

“Tapi sama sekali tidak ada tanggapan meski sudah difollow up ke Kementerian. Saya bolak-balik ngurus surat itu. Saya masukkan surat di TU, dan beberapa kemudian karena tidak mendapat balasan kami cek langsung ke sana (Kemenpora) dan oleh petugas di sana kami diarahkan ke resepsionis. Tapi resepsionis mengatakan sudah di TU meja Menteri,” cerita Putu.

Tak puas mendapatakan jawaban demikian, Putu kemudian mendatangi pihak resepsiones Kemenpora kembali. Di sana, Putu sempat berdebat dan menanyakan kemana surat yang dimasukkan KMHDI dimasukkan. Menurut Putu, petugas resepsionis menjawab bahwa surat KMHDI yang berisi permohonan audiensi tersebut dimasukkan ke Deputi II Kemenpora.

“Surat kami diarahkan kemana mbak,” tanya Putu. “Diarahkan ke deputi II,” jawab petugas Resepsionis.

“Ternyata dideputi II tidak masuk surat permohonan kami itu. Jadi benar apa yang disampaikan alumni kami bahwa benar kami dipingpong,” katanya.

Putu menambahkan, ada pihak Kemenpora yang menghubungi dirinya melalui telpon seluler setelah Kongres KMHDI digelar. Pihak Kemenpora itu, kata Putu, mengatasnamakan Syahyan (Asmara Deputi II Kemenpora). Mereka meluruskan pemberitaan tentang kronologis tudingan Kemenpora yang dianggap memberlakukan KMHDI diskriminatif.

“Iya ada (Telpon) semalam. Ada pegawainya. Ada Sesmenpora juga, mengatasnamakan pak syahyan,” pungkasnya.

Putu berharap kepada Kemenpora kedepannya tidak memberlakukan KMHDI sebagai organisasi nomor dua di negara ini. Meski sebagai organisasi minoritas, Kemenpora diminta menyambut positif setiap organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan menyelenggarakan kegiatan.

“Harapannya kami diberlakukan sama dan kami membutuhkan orang tua yang dapat diterima dengan baik. Sebenarnya bukan kami saja, tapi semua organisasi diberlakukan sama. jadi anak kandunglah,” tutup Putu.

(Hurri Rauf)

Comment