The Three Axis : Joko-SBY-Prabowo

The Three Axis : Joko-SBY-Prabowo

SHARE

Landscape politik Indonesia ditandai relasi tiga axis: Joko-SBY-Prabowo.

Ferdinan Hutahean teringat Gerobak Nasi Goreng pasca pertemuan 27 Juli 2017 di Puri Cikeas. Dua Poros Utama bertemu malam itu.

Saya mencatat beberapa poin. SBY nyata bilang koalisi tidak perlu dibentuk. Jadi, pertemuan ini baru dalam tahap komunikasi. Rakyat berharap unifikasi Poros SBY-Prabowo sebagai kekuatan paling potensial menumbangkan Poros Joko. “We have no better alternative”, kata Alhadi Muhammad.

Pertemuan SBY-Prabowo, bagi saya, mirip “Unanticipated Mao-Nixon meeting” tanggal 21 Februari 1972. Publik tidak menyangka Mao dan Nixon bisa ketemu. Demikian juga antara SBY dan Prabowo.

Pagi harinya, Joko terintimidasi. Sama seperti sikap Soviet Union merespon pertemuan Mao-Nixon. Joko masih terintimidasi dengan sebuah rilis esok harinya. Istana bilang tidak mungkin ada kediktatoran di Indonesia. SBY dan Prabowo jelas mengindikasikan ada tendensi government goes unchecked.

Publik tidak sepenuhnya tau apa yang dibicarakan SBY dan Prabowo. Biasa begini dalam kultur politik Indonesia. Mereka ngobrol kurang lebih sama dengan durasi Mao-Nixon meeting. Sekitar 65 menit, dari rencana hanya 10 menit.

Dalam pertemuan itu, Mao apresiasi laporan intelijen USA, peran Amerika dalam konflik India-Pakistan. Mao juga merilis cracking Joke dan ironic observations terkait Soviet Union, Perang Vietnam dan sebagainya.

Presiden Nixon membuat remarks atas pertemuan itu sebagai “a journey for peace”. Dia sanggup mengakhiri 20 tahun permusuhan antara China dan Amerika.

Rencana pertemuan dengan Chairman Mao Zedong bikin posisi Nixon rentan dicerca. Dia bisa diserang kelompok konservatis anti komunis mau pun liberal. Persis dengan SBY dan Prabowo. Pengikut Poros Joko pasti mencibir. Plus loyalis SBY, mau pun Prabowo, pasti tetap saling cibir. Dan benar saja. Di beberapa grup WA, Pro Demokrat SBY masih tetap ngebully Prabowo dan Gerindra. Terutama hasil meeting tersebut mengambang. Tidak tegas.

Saya berharap dua poros bisa belajar dari Mao-Nixon meeting.

Pertemuan 1972 itu sukses mengurung ambisi imperialistik komunis Soviet. China dan USA mendapat banyak manfaat. China bisa rilex di soal Taiwan Issue. Nixon bisa mengakhiri Perang Vietnam yang menjadi beban tersendiri. Akibat perang ini, Amerika mesti bayar mahal, in lives, in money, and in reputation.

Mao Zedong mulai cemas setelah Soviet nyerang Czechoslovakia (Agustus 1968). PM Zhou Enlai tegas bilang itu adalah socialist imperialism. Leonid iLyich Brezhnev mengembangkan doktrin sendiri dan menyatakan USSR adalah “developed socialism”. Mao mencibirnya sebagai “skeleton socialism”.

China dan Soviet Union saling curiga. Akibat takut Chinese Invension, Soviet menempatkan 1.18 juta orang tentara sepanjang perbatasan Sino-Soviet. Pemberangusan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah bagian strategi USSR menetralisir anti soviet united front.

Di awal tahun 1970-an, Mao mulai menyadari China could not fight on more than one side at a time. Karena itu, dia kasi sinyal. Henry Kissinger menangkap sinyal yang diberikan Chairman Mao. Dan “Unanticipated Mao-Nixon meeting” akhirnya berhasil digelar.

Komunis Soviet makin gerah dengan Sino-Japan Treaty on Peace and Friendship tanggal 23 Oktober 1978. China dan Jepang sepakat melawan hegemoni komunis Soviet. Treaty ini bisa terjadi karena membaiknya relasi Sino-USA. Soviet Union merespon dengan menanda-tangani “25 year mutual defense treaty” dengan Vietnam pada tanggal 03 November 1978.

Dengan treaty ini, Vietnam resmi menjadi “linchpin” ambisi Soviet mengurung China. Dengan beking Soviet Union, Vietnam semakin percaya diri dan berambisi mengembalikan kejayaan Kerajaan Champa dengan menjajah seluruh Asia Tenggara.

Ambisi Vietnam sebagai penguasa Asia Tenggara dan mobilisasi Soviet Union bikin gerah Deng Xiao Ping. Pada tanggal 1 Januari 1979, Comrade Deng berkata kepada Presiden Jimmy Carter. Dia bilang,”the little child (Vietnam) is getting naughty, it’s time he get spanked”. Sebulan kemudian, Perang Sino-Vietnam meletus. Saigon segers dikuasai PLA China.

Dengan memainkan “USA Card”, China bikin Soviet Union gagal memenuhi janji Soviet-Vietnam Treaty. Soviet hanya nonton tentara China melabrak Vietnam. Soviet hanya bisa bantu alat dan informasi intelijen. Mereka kirim 400 tank, 500 mortar artillery, 50 rocket launcher, 800 misil anti tank, dan 20 jet fighter.

China improved relasi dengan ASEAN. Promise to protect Thailand and Singapore from Vietnamesse aggression.

Dari sejarah ini, Poros SBY dan Prabowo mestinya sadar juga. Mesti ada lawan tunggal yang dihadapi. Ngga bisa merilis “two-front war” di waktu bersamaan.

Oleh: Zeng Wei Jian

SHARE
Comment