Tinggikan Agama, Anakku

Tinggikan Agama, Anakku

SHARE

Guru, dimanakah tempat agama?
Ini dunia serba maju.
Handphone di tangan kiri.
Kebebasan di tangan kanan.
Bukankah segala hal,
selesai oleh percakapan rasional manusia?

Di padepokan sore itu.
Seperti sore sebelumnya.
Mereka kumpul bersama.

Di angkasa, burung bebas terbang.
Di samudra, ikan bebas hilir mudik.
Di lereng gunung, tumbuhan bebas mencari akar.
Guru dan para murid, bebas bercakap.

Sang Guru menjawab.
Agama berada di tempat tertinggi, anakku.
Di ketinggian puncak gunung hatimu.
Dari sana kau rangkai seluruh hidup.
Memberi makna.
Memberi harapan.
Agar cinta menjadi matahari.
Di situlah tempat agama,
menjawab mengapa dan untuk apa kau dilahirkan?

Jangan kau rendahkan agama untuk kendalikan ilmu pengetahuan.
Biarkan ilmu bebas dalam komunitas.
Riset dan perdebatan kitab sucinya.

Jangan kau rendahkan agama untuk arahkan dunia politik.
Lepaskan kebebasan politik pada kumpulan.
Ruang publik dan pemilihan umum menjadi kitab suci.

Jangan kau rendahkan agama untuk kendalikan negara.
Biarkan negara diatur rakyat.
Keberagaman warga, itu kunci.
Konstitusi kitab sucinya.

Jangan kau rendahkan agama untuk mengkotak-kotakkan manusia.
Karena Tuhan satu,
manusia juga satu.

Keyakinan tak bisa kau seragamkan, anakku.
Sebagimana tak bisa kau seragamkan malam dan siang,
tinggi dan rendah,
panjang dan pendek,
riuh dan sepi.

Tinggikan agama, anakku.
Lihatlah kedalam hatimu.
Jika kau penuh cinta,
Jika kau rindu Tuhan,
Jika kau cinta sesama,
Jika kau ingin bangun bumi untuk semua,
Kau sudah sangat beragama.

Oleh: Denny JA

SHARE
Comment