Tolak Cuti, Ahok Bicara Fenomena La Nina

Tolak Cuti, Ahok Bicara Fenomena La Nina

SHARE

Publik-News.com – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali menghadiri sidang gugatan UU Pilkada tentang aturan cuti bagi petahana di gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Sidang ini merupakan yang kedua kali setelah Ahok mempebaiki materi gugatannya.

Alasan Ahok keberatan cuti dalam Pilkada DKI karena Ahok ingin menyelesaikan penanganan banjir yang sering melanda DKI. Sebab, hujan yang melanda Jakarta diprediksi sampa Maret 2017 ini. Itu sebabnya, Ahok keberatan jika dirinya dilarang cuti.

“Antisipasi banjir, rob dan genangan,” ujar Ahok di gedung MK, Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016).

Dalam kesempatan itu, Ahok juga memaparkan tentang fenomena alam La Nina. Menurutnya, puncak fenomena alam la nina pada Oktober sampai Februari 2017 yang akan datang.

Untu diketahui dan dilansir dari ikdf.bogor.net, La Nina merupakan suatu kondisi dimana terjadi penurunan suhu muka laut di kawasan Timur equator di Lautan Pasifik, La Nina tidak dapat dilihat secara fisik, periodenya pun tidak tetap. Ada proses terjadinya La Nina.
Pada saat terjadi La Nina angin passat timur yang bertiup di sepanjang Samudra Pasifik menguat ( Sirkulasi Walker bergeser ke arah Barat ). Sehingga massa air hangat yang terbawa semakin banyak ke arah Pasifik Barat. Akibatnya massa air dingin di Pasifik Timur bergerak ke atas dan menggantikan massa air hangat yang berpindah tersebut, hal ini biasa disebut upwelling.

Dengan pergantian massa air itulah suhu permukaan laut mengalami penurunan dari nilai normalnya. La Nina umumnya terjadi pada musim dingin di Belahan Bumi Utara Khatulistiwa

Intensitas La Nina dapat dilihat dari anomali suhu muka laut (SST) La Nina Lemah , yang ditetapkan jika SST bernilai <- 0.5 dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut. La Nina sedang, yang ditetapkan jika SST bernilai antara – 0.5 s/d -1 dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut. La Nina kuat, yang ditetapkan jika SST bernilai > -1 dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.

(Hurri Rauf)

Comment