Ulasan Rocky Gerung Tentang Logika dan Kedunguan

Ulasan Rocky Gerung Tentang Logika dan Kedunguan

SHARE

Publik-News.com – Ketua Perhimpunan Indonesia Baru (PIB), Rocky Gerung mengulas soal logika, nalar, dan kedunguan. Bagi dia, tidak ada manusia yang dungu. Yang dungu, katanya, adalah cara berpikir manusia.

Menurut Rocky, kedunguan berpikir manusia karena disebabkan tak menggunakan prosesur sehingga cara berpikir manusia semacam itu menyesatkan. Negara bisa hancur karena pola pikir yang sesat.

Dosen Filsafat Universitas Indonesia (UI) ini mengaitkan menegaskan bahwa tak ada pikiran yang separoh logis. Pikiran itu punya prosedur. Salah prosedur, salah seluruhnya. Karena itu dalam berlogika, nilai anda hanya mungkin A atau E.

Logika, nalar, dan kedunguan itu diulas oleh Rocky melalui akun Twitternya @rockygerung. Ada dua puluh cuitan Rocky. Berikut kulwit Rocky tersebut selengkapnya, dikutip Publik-News.com, Rabu (16/1/2017).

1. Logika itu urusan ketepatan prosedur penalaran. Bukan motif bernalar atau moralitas personal. Dungu itu bukan orangnya, tapi cara berpikirnya.

2. Kedunguan dalam bernalar terjadi karena prosedur bernalar “diintervensi” oleh “logical fallacies” (sesat nalar). Intervensi terjadi karena prosedur tak ketat. Jadi, sesat nalar itu harus dicari di dalam prosedur, bukan diada-adakan dari luar.

3. Tak ada pikiran yang separoh logis. Pikiran itu punya prosedur. Salah prosedur, salah seluruhnya. Karena itu dalam berlogika, nilai anda hanya mungkin A atau E.

4. Logika itu tampak dalam kalimat efisien. Bukan dalam banyaknya referensi atau artikel comotan.

5. Kalimat menjadi efisien bila “forma”nya tak dibebani moral. Kalimat moralis tak memerlukan prosedur logika.

6. Logika adalah aktivitas pikiran. Ia otonom. Tak memerlukan dukungan gerombolan untuk jadi logis. Mengundang pihak lain pertanda pikiran anda lemah.

7. Logika tak mungkin dibela dengan referensi. Sekali susunan pikiran diajukan, logika akan menilai dirinya sendiri: lurus atau bengkok.

8. Logika dapat dilatih dengan tiga syarat: anda bukan pemuja kekuasaan, anda bukan pemaksa kebenaran, anda bukan pengumpul pdf comotan.

9. Deteksi logical fallacies justru tumbuh dalam upaya kaum sofis membela rakyat kecil dalam debat klaim atas tanah berhadapan dengan elite Athena. Di sini, “kaum sofis” telah dipahami sebagai “buruk”. Lain kali saya terangkan salah kaprah ini.

10. Logika yg buruk, punya efek inflasi pada upaya “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Karena itu, pemimpin yang tak berpikir, bukan saja dungu, tapi sekaligus melanggar konstitusi. Sekian dulu twips, lain waktu saya sambung. Tks. #BerbagiSiang

11. Logika itu praktek berpikir individual. Hanya dituntun oleh koherensi argumen. Bukan ngadu atau mencari bantuan warga sekolam.

12. Dalam logika, pikiran disebut logis bila tak mengandung kontradiksi. Jadi, logika adalah aktivitas menghindari kontradiksi. Dalam dialektika, kontradiksi justru diperlukan untuk menghasilkan pikiran baru. Dua cara berpikir itu menumbuhkan sikap kritis. Seharusnya begitu.

13. Dalam logika, sekali proposisi diajukan, konklusi tak bisa dibantah oleh fakta. Penalaran logis hanya terikat pada keabsahan metode penarikan kesimpulan. Bukan verifikasi faktual, atau menuntut manfaatnya bagi orang banyak. Itu urusan non logika.

14. Logika “berguna” untuk menemukan hoax dalam argumentasi seseorang. Tapi tak perlu logika untuk menyatakan kesederhanaan seseorang sebagai hoax. Karena inkonsistensinya sudah kasat mata.

15. Jadi, logika itu adalah mata nalar. Fallacies ditemukan oleh nalar sebagai kontradiksi, karena itu disebut “logical fallacies”. Bukan “factual fallacies”. Banyak yg tak paham bedanya, tapi ngotot dan ngamuk:)

16. Tentu ada istilah “logika” dalam pengertian umum, yaitu sebagai “pengawas” kebohongan. Misalnya: “Bong, darimana logikanya impor beras bila stok surplus?”. Ini bukan ad hominem, karena dungunya faktual.

17. Bila dalam argumentasi seseorang mengalihkan debat ke arah kebencian personal, maka itu bukan logical fallacy. Itu memang orangnya suka ngamuk. Cukup dilem di tembok. Fallacies adanya di penalaran, bukan di pelataran.

18. Logika bukan ilmu untuk membangun infrastruktur. Tapi logika adalah infrastruktur rasio. Tanpa itu, pemimpin hanya mampu membangun hoax.

19. Belajar logika itu bukan belajar mengutip dan menggangguk-angguk pada kutipan pdf comotan. Belajar logika justru harus mulai dengan menggeleng pada tumpukan kutipan itu.

20. Jadi, ad hominem, itu adanya di dalam susunan argumen. Dicari di situ, bukan mengincar orangnya. Itu logika geng motor yg kecebur kolam.
Segitu dulu twips, lain kali sambung lagi. Tks. #BerbagiSiang (PN)

 

SHARE
Comment