“Underbow PKI”

“Underbow PKI”

SHARE

Sebagai sebuah partai di masa itu, PKI tentunya punya underbow atau organisasi sayap di segala bidang dan lapisan. Organisasi organisasi itu ada yang jelas dan tegas menyatakan diri sebagai organ PKI dan ada juga yang samar samar karena mengunakan cover sehingga disebut mantelmantel PKI.

Dikalangan perempuan PKI punya sayap namanya GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia). Dikalangan buruh ada SOBSI (Sentral Organisasi buruh Seluruh Indonesia). Dikalangan petani ada BTI (Barisan Tani Indonesia). Dikalangan budayawan dan seniman ada LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat).

Dikalangan mahasiswa punya CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia). Dikalangan pelajaran punya IPI (Ikatan Pelajar Indonesia). Dikalangan pemuda punya PR (Pemuda Rakyat) yang merupakan metamorfosa dari PESINDO (Pemuda Sosialis Indonesia).

Di majalah dan surat kabar, PKI punya Suara Rakyat dan Harian Rakyat. Dan sekolah, akademi, universitas PKI punya.

“Anda PKI?”, sebuah pertanyaan diajukan kepada anggota organisasi onderbow PKI.

“Bukan, pak, saya BTI”, begitu jawabannya biasanya.

“Anda anggota PKI?”, sebuah pertanyaan diajukan Kivlan Zein kepada Bedjo Untung. “Bukan saya anggota IPI”, jawab Bedjo.

Orang yang kurang wawasan sejarah PKI dan berbagai organisasi onderbow dibawahnya tentu tak paham dengan dialog diatas. Kalau dia anggota BTI atau CGMI dan seterusnya sudah tentu dia kader PKI. Makanya Jenderal Kivlan saat berhasil membuat Bedjo mengaku bahwa dirinya anggota IPI, itu sudah cukup sebagai bukti walau dengan membantah bukan PKI.

Generasi sekarang karena tak paham sejarah banyak yang mengkritik film Gerakan Kudeta PKI 30 september 1965. Mereka kritik momen penyiksaan sebagian jenderal AD di Lubang Buaya. Padahal kekejian dan kekejaman PKI itu fakta dan nyata.

Bahkan penangkapan, penyiksaan, pembunuhan, dan pembantaian kaum komunis adalah bagian dari sejarah kelam mereka diseluruh dunia. Berapa puluh juta muslim dibantai Lenin dan Stalin? Jadi jangan gagal fokus. Saat tahun 60an ayah saya adalah aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia) di Kota Surabaya.

Tahun 1965 ayah saya sudah selesai sekolah menengah kejuruan. Akibat aktifitasnya rumah kakek saya di Surabaya pernah didatangi satu peleton pasukan ARSU lengkap dengan senjatanya. Namun ayah saya berhasil lolos dan melarikan diri. Dan selama berhari hari beliau jadi gelandang tak berani pulang ke rumah. Waktu melaporkan kejadian itu ke KODIM tak mendapat respon yang berarti.

Generasi sekarang tak pernah alami rumah mereka tiap hari didemo kaum BTI, PN, dan GERWANI sambil diteriaki “gayang kapbir”. Mereka tak pernah melihat sengitnya konflik sosial akibat kader kader PKI mematok dan menyerobot tanah tanah pesantren, pak haji, dan orang kaya di desa.

Mereka juga tak pernah alami bagaimana setiap malam rumah rumah kiai, haji, dan orang anti PKI diawasi kader kader PKI dengan baju hitam dan bawa golok atau arit. Situasi gelam dan mencekam.

Tak berani keluar malam. Tak berani buka pintu kalau ada ketokan di malam hari. Jelang Kudeta PKI 30 september 1965 kader kader PKI sudah siapkan pembantaian. Mereka sudah siapkan sumur sumur maut.

Mereka sudah siap membantai lawan-lawan PKI. Di kampung ibu saya mereka sudah siap melakukan penjagalan. Berhubung kudeta gagal total dan PKI dipukul maka sumur sumur itu berbalik menjadi kuburan kaum PKI. Jangan kasih kesempatan kepada PKI untuk bangkit lagi. Ketika lemah PKI biasa memelas (playing victim). Dan ketika sudah kuat mereka akan melibas lawan lawan politiknya. Fa’tabiruu yaa ulil abshar !

Oleh: Hafidin Achmad Luthfie

SHARE
Comment