Home Agama Ustadz Felix Siauw Berbicara Kewajaran Pemimpin

Ustadz Felix Siauw Berbicara Kewajaran Pemimpin

Publik-News.com – Ustadz Felix Siauw kembali berbicara tentang kepemimpinan. Ada kewajaran dan kepantasan ketika seseorang mengembang status “pemimpin” seperti itu.

Pemimpin tidak hanya hanya ada dalam bernegara. Misalnya, ustadz Felix mencontohkan seorang pemimpin yang disebut ustadz. Sang ustadz itu, kata Ustadz Felix, harus paham ajaran Islam karena hal itu kewajaran.

Tentang Kepemimpinan tersebut di tulisan oleh ustadz Felix melalui fanpage Facebooknya. Berikut tulisan dia selengkapnya yang dikutip Publik-News.com, Rabu (28/2/2018).

Kewajaran Pemimpin

Menjadi, mengklaim atau dianggap sebagai sesuatu, itu memang punya konsekuensi. Yakni sesuatu kewajaran atau kepantasan ketika kita mengemban hal itu

Misalnya seorang sarjana pertanian, konsekuensinya dia harus tahu tentang dunia pertanian, maka bila dia mengetahui tentang tanaman itu wajar, bila tidak ya tidak pantas

Ada lagi yang mengaku ustadz, meminta masyarakat menyebut dirinya dengan kata ‘ustadz’, konsekuensinya ya harus paham ajaran Islam, itu kewajaran dan kepantasannya

Misal, bila seseorang sudah menempuh jalan dakwah, ya sudah menjadi kewajaran bila ia selalu menuntut ilmu. Tidak istimewa, sudah wajar dan memang seharusnya begitu

Boleh saja seorang ulama membaca komik, hanya bila itu dilakukan di tengah majelis ilmu, di hadapan jamaah tatkala meteka sedang belajar, itu tak etis, tak wajar dan tak pantas

Pemimpin pun punya kepantasan, sebab ia diharap-harap, ummat punya anggapan tertentu terhadapnya. Pemimpin punya konsekuensi, punya kewajaran tertentu

Boleh saja pemimpin bermewah sebab dia kaya sedari awal, tapi di tengah kemelaratan ummat, sangat tak pantas. Boleh saja pemimpin menikmati hiburan, tapi di tengah masalah?

Lihatlah Umar Al-Faruq, dia merasa berdosa saat masih ada satu keluarga dibawah kepemimpinannya yang tak mampu menikmati makanan secara wajar

Khalifah Umar pun menolak semua kemewahan yang diberi baginya, padahal dalam batas kewajaran melihat prestasinya itu, tapi ia memilih mencontohkan yang sederhana

Sebab menjadi pemimpin itu, konsekuensinya engkau ditiru, engkau jadi sorotan, engkau bakal dikritik, engkau punya pertanggungan ekstra di hadapan Allah kelak

Tapi penguasa sekarang punya pendukung di sosial media yang ghaib dan tak tahu malu, akan ada banjir komentar, “Ustadz kok suka nyinyir, jangan cuma suudzann, berbuat sesuatu dong!”

Bro, kalau kamu berprasangka baik, ambil nasihat sebagai pengingat, nasihat itu sebab masih peduli dan masih sayang. Jangan baper dan anti kritik, kita masih manusia

Dan bro, kenapa orang lain yang disuruh melakukan tugasnya? lantas untuk apa dia jadi pemimpin? Ah, sudahlah, pemimpin tak wajar memang pendukungnya biasanya kurang mau belajar. (PN)

Comment