Home Regional Waode Nurhayati Ingin Nyagub di Sultra Tanpa Dukungan Parpol

Waode Nurhayati Ingin Nyagub di Sultra Tanpa Dukungan Parpol

Publik-News.com – Sejumlah nama Bakal Calon Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk Pilkada 2018 terus bermunculan. Mantan anggota DPR RI Waode Nurhayati adalah salah satunya.

Waode ingin bertarung untuk menjadi orang nomor satu di Provinsi Sultra tanpa partai politik. Pada pesta demokrasi lima tahunan itu, dia memilih maju melalui jalur independen atau perseorangan. Waode sudah memiliki relawan untuk mengumpulkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai persyaratan untuk nyagub.

“Dengan ucapan bismillah, saya pamit dan menyatakan diri untuk mengikuti agenda perhelatan politik lokal Sultra yakni ikut pilgub Sultra 2018,” kata Waode Nurhayati kepada wartawan di Kendari, Kamis (14/9/2017).

Ia mengatakan, untuk mendapatkan dukungan kartu tanda penduduk (KTP) sebagai syarat mendaftar di KPU, maka saat itu ia melakukan gerilya di semua kabupaten kota di daerah itu.

“Saya mendatangi warga di kabupaten kota untuk meminta dukungan KTP untuk menjadi bahan atau prasyarat saya mendaftar di KPU. Saya harus mendapatkan minimal 170 ribu dukungan KTP atau 10 persen dari wajib pilih Sultra, tetapi saya menargetkan akan mencari dukungan 200 ribu orang,” katanya.

Saat ini dukungan KTP yang sudah terkumpul, kata dia, baru 30 ribu orang, itupun baru dari satu kabupaten yakni Wakatobi.

Meskipun baru memulai gerilya, namun ia merasa belum terlambat untuk memulai mendekati masyarakat atau memperkenalkan diri untuk maju sebagai cagub Sultra.

“Karena fakta yang ada bahwa belum ada satupun kandidat yang mendapatkan rekomendasi partai. Mulai hari ini saya akan turun full road show ke setiap desa mencari dukungan. Dan saya juga katakan tetap akan konsisten melalui jalur independen pada pilgub nanti,” katanya.

Ia juga mengaku sudah memiliki calon wakilnya sebagai 02 pada pilgub Sultra mendatang yakni berasal dari wilayah daratan Sultra untuk melengkapi keterwakilan geografis, karena dirinya berasal dari wilayah kepulauan yakni Wakatobi.

“Tetapi namanya belum bisa saya sampikan kepublik. Ada saatnya, yang jelas orangnya lebih senior dari saya,” katanya.

Ia juga mengaku siap menghadapi cibiran dari masyarakat yang menyatakan dirinya adalah seorang mantan narapidana (napi).

“Bagi saya, hukuman penjara selama 5,6 tahun itu merupakan ketetapan yang kuasa yang tidak bisa saya hindari dan telah memberi banyak hikmah. Atas dasar itulah yang semakin menguatkan saya untuk tampil di Pilgub Sultra,” katanya.

Meskipun pernah dipidana kata dia, tetapi tidak terbukti pernah mencuri uang rakyat atau ada kerugian negara sebagaimana vonis yang ia terima yakni penjara 6 tahun tanpa ada kerugian negara. (Ts).

Comment