Wawancara Ibnu Munzir Soal Penataan Masa Depan Golkar

Wawancara Ibnu Munzir Soal Penataan Masa Depan Golkar

SHARE

Publik-News.com – Airlangga Hartanto sudah dikukuhkan menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar melalui forum Munaslub. Ada banyak yang sudah diagendakan oleh Airlangga selama menahkodai partai berlambang pohon beringin ini. Massa jabatan Airlangga sebagai Ketum sampai 2019 dan dapat diperpanjang sampai 2022.

Golkar, kata Menteri Perindustrian (Menperin) ini harus solid dan bekerja keras untuk menaikan kembali elektabilitas yang sedang ajlok, akibat yang salah satunya, sejumlah kadernya yang terjerumus pada kasus hukum. Di bawah kepemimpinan Airlangga, kebangkitan Golkar akan diuji pada Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019 yang akan datang.

Bagaimana rencana Golkar untuk menaikkan elektabilirasnya pasca Munaslub ini? Apakah susunan kepengurusan DPP Golkar akan mempengaruhi untuk menaikkan elektabitas? Kemudian Apakah Golkar akan menarik dukungan dari Pansus Hak Angket KPK sebagai salah satu cara meraih simpati dari rakyat?

Beberapa pertanyaan diatas dan pertanyaan lainnya terkait masa depan Golkar dijawab oleh Ketua Steering Committee (SC) Munaslub, Ibnu Munzir melalui sesi wawancara dengan Publik-News.com, di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (21/12/2017.

Golkar sedang terpuruk. Sejauh mana Anda yakin Airlangga dapat menaikkan elektabilitas Golkar?

Airlangga kan memang sudah punya perencanaan. Yang pasti ada hal yang beliau siapkan untuk program itu. Tapi yang pasti dalam pikiran dia, ini membenahi trust rakyat ini penting artinya. Itu kan dukungan pihak nasional selama ini juga memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap elektabilitas partai kan.

Kemudian yang kedua dari sisi konsulidasi internal partai ke bawah diaggap sebagai upaya elektoralnya partai untuk meningkatkan elektabilitas juga dilakukan secara bersamaan.

Saya lihat beliau ini sudah merancang itu, jadi termasuk mungkin juga struktur kepengurusan yah. Kemungkinan ya, analisa saya, dia akan sesuaikan dengan basis-basis elektoralnya partai Golkar. Jadi kecenderungannya orientasinya itu kepada struktur, itu pembilangan yang mengarah kepada upaya untuk meningkatkan efektivitas dan kinerja kepengurusan itu yang bersentuhan langsung dengan rakyat.

Kemudian mungkin ada terobosan-terobosan yang sudah dia siapkan, apalagi khususnya yang berkaitan dengan istilah mencoba menangkap peluang-peluang dikalangan generasi melineal itu. Itu juga bagian dari beliau akan usahakan itu. Karena kurang lebih dari seluruh penduduk itu 23 persen kalau gak salah itu adalah generasi melineal ini. Artinya kurang lebih 80 juta ya dari sekitar 250 juta penduduk. Berati itu kan ini potensi yang luar biasa yang harus disentuh, dan Airlangga sudah mempersiapkan itu ke sana.

Golkar akan menarik dari Hak Angket itu, kira-kira itu apakah akan mempengaruhi untuk menaikan elektabilitas?

Iya bisa jadi, iya kan kita tahu bagaimana pemihakan masyarakat terhadap KPK kan, walaupun kawan-kawan mengatakan DPR itu bekerja secara objektif segala macam, tetapi itu dianggap sebagai bagian dari pelemahan kan.

Memang diawal sebenernya Fraksi Partai Golkar itu gak mau mengirimkan anggotanya untuk terlibat dalam Pansus itu. Tetapi ya entah bagaimana kawan-kawan yang lain kemudian atas perintahnya Wakil Ketua Umum ya, keluar juga surat.

Nah, sekarang itu ada kesadaran bahwa salah satu faktor yang ikut juga menjadi pemicu turunnya elektabilitas partai itu antara lain kasus pansus KPK itu. Nah memang ada ide yang muncul dikawan-kawan itu bagaimana kalau kita menarik diri. Itu kan pasti Ketua Umum harus mengajak koordinasilah kawan-kawan secepatnya untuk terkait hal itu. Karena ini ada di DPR ini kan, di Fraksi yang pasti menjadi perpanjangan tangan partai yang ada di parlemen itu harus mengambil langkah cepat dan antisipatif tentu saja untuk keluar

Untuk menaikan elektabilitas Partai ini butuh orang yang pemikir dan pekerja. Apa saran ada?

Saya kira begini, yang ada saat ini ya dikepengurusan itu kan kompetensinya cukup. Ada yang tipe pekerja, ada yang tipe pemikir kan. Nah tinggal bagaimana mengkombinasikan dua itu di dalam kepengurusan nantinya dan kemudian mampu menangkap pesan-pesannya Ketua Umum ini dalam upaya mencapai target dari peningkatan elektabikitas kita. Saya kira memang faktor utama yang sangat berpengaruh itu soal trust rakyat ini. Itu dulu saya kira.

Kalau misalnya soal rekomendasi yang sudah dikeluarkan sebelum pak Airlangga terpilih sebagai Ketua Umum, apakah rekomendasi yang sudah dikeluarkan Golkar akan dicabut atau dilanjutkan?

Sekarang ada kesepakatan kita, sepanjang rekomendasi itu dikeluarkan secara benar prosedurnya, maka itu mungkin tidak akan menjadi soal. Tapi kalau secara ada cara-cara yang tidak benar yang tentu saja tidak melampaui prosedur dan proses yang baik dan kemudian juga tidak mendorong untuk dalam pencapaian target yang kurang bagus itu mungkin aja terpikirkan untuk dievaluasi.

Berapa target kemenangan Golkar di Pilkada 2018 nanti?

Kemenangannya kalau masih yang kemarin menjadi patokan kita ya diatas 60 persen.

Selama ini Anda digadang-gandang sebagai Sekjend untuk mendampingi Airlangga. Tanggapan anda?

Iya terimakasih banyak kalau ada yang menggadang-gadang saya, tapi kan yang punya keputusan itu formatur tunggal itu. Iya kalau pengamat dan temen-temen wartawan iya saya tetap untuk berterimakasih. Tapi kan keputusannya gak di situ, bisa jadi di formatur ya kita tunggu.

Munsalub ini berjalan sukses mengingat waktu yang cukup singkat. Apa tantangan dan hambatan Anda sebagai Ketua Steering Committee (SC)?

Kan begini, justru saya tidak memiliki tantangan, justru mudah dan mudah. Lebih sulit menjadi SC ketika Munaslub itu normal. Kenapa, karena kompetitor untuk menjadi Calon Ketua Umum itu banyak. Iya yang kedua pasti masing-masing melihat semua apa namanya tahapan-tahapan itu penting bagi upaya mensukseskan calon Ketua Umumnya kan.

Nah kalau ini, arahnya semua sama ingin perbaikan partai, tidak mau lagi bertikai, iya kan. Dan tentu saja ini memudahkan proses sehingga apa yang kita jalankan dalam Munaslub ini, itu agak liner jalannya karena didahului dengan Rapat Pleno dan Rapimnas kemudia masuk ke Munaslub. Sehingga ini tidak saya anggap sulit, walaupun memang paling sulit sebenernya waktu. Selain waktu yag singkat, ini memang kita harus menyiapkan segalanya. Bisa dibayangkan tiga hari mempersiapkan Munaslub sebesar ini. Kan Alhamdulillah sukses.

Apa saran Anda setelah Munaslub ini kepada kader Golkar?

Iya pasca Munaslub saya kira kita mungkin ada beberapa perbedaan pendapat sebelumnya iya, tapi kemarin saya kira menjadi titik awal ada titik berangkat yag sangat baik. Karena begitu kita aklamasi dan kemudian semua mengapresiasi itu terhadap semangat yang tinggi berdiri dan segala macem. Ini saya kira titik awal yang sangat baik bagi kita. Nah kita manfaatkan momentum ini.

Jadi bagi kader, apalagi ya kita lihat dukungan pihak kita kepada Pak Jokowi dan tentu saja perhatian Pak Jokowi Presiden maupun wakil presiden kepada Partai Golkar ini cukup besar. Karena ini kan dianggap salah satu stabilisator dari pada ekonomi Indonesia. Kalau Golkar ini bagus, maju, dan diakan bisa menjadi stabilisator perekonomian dan politik nasional. Iya saya ikut mendorong, tapi kalau dia (Golkar) kacau kan bisa membahayakan kepentingan nasional. Nah saya kira momentum ini harus dimanfaatkan, dibawah didaerah bagaimana meningkatkan konsolidasi kemudian ikut berkontribusi sekecil apapun terhadap proses pembangunan ini dan stabilitas ini akan memberikan pengaruh yang sangat positif bagi bangsa. (TK/PN)

SHARE
Comment