Yang Banyak Tapi Tidak Membahayakan

Yang Banyak Tapi Tidak Membahayakan

SHARE

Sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan hari-hari awal Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu ketika di Madinah. Ketika itu Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu datang dalam keadaaan miskin, tidak membawa harta. Saat itu dia hendak dibantu oleh seorang sahabat yang telah dipersaudarakan dengan Rasul, yaitu Saad bin Robiah al-Anshori radhiallahu ‘anhu, salah satu sahabat yang kaya di Madinah.

Tetapi Abdurrahman menolak secara halus dengan mengatakan, “Barakallahu laka fi ahlik wal malik.” “Semoga Allah memberkahi hartamu dan keluargamu. Tunjukan saja saya di mana pasar.” Maka ditunjukkanlah pasar Bani Qainuqo. Abdurrahman masuk ke pasar dan pada hari itu dia langsung mendapatkan keuntungan, berupa minyak samin dan makanan.

Suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melihat Abdurrahman bin Auf terlihat klimis, rapi, dan ada bekas minyak wangi. Maka Nabi bertanya, “Apa ini, Ya Abdurrahman?” Abdurrahman menjawab, “Ya Rasulullah saya menikah dengan seorang wanita dari Anshor.”

Nabi bertanya, “Apa maharnya?” Abdurrahman bin Auf berkata, maharnya adalah nawa dan mizzahab. Nawa dan mizzahab menurut Anas bin Malik beratnya adalah seperempat dinar. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ath-Thabrani.

Nabi kemudian berkata, “Buatlah walimahnya, walau hanya dengan seekor kambing.” Ini untuk mensyukuri. Masa ini terjadi ketika Abdurrahman masih miskin. Hartanya masih sedikit, maharnya hanya nawa dan mizzhab, dan walimahnya pun dibuat hanya dengan seekor kambing.

Akan tetapi, Allah memberikan kekayaaan yang melimpah ruah pada Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu di kemudian hari. Ini bisa kita lihat dari kekayaan Abdurrahman yang ditinggalkan pada masa khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Salah satu istrinya mendapatkan 100 ribu dinar. Subhanallah, satu dinar sama dengan 4.25 gram emas. Sedangkan istrinya berjumlah 4 orang, sehingga ada 400 ribu dinar yang diberikan pada istrinya. Dan itu baru seperdelapan dari kekayaan Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu.

Sepanjang hidupnya, hartanya Abdurrahman dibagikan dalam jumlah yang tidak terbatas. Dia pernah berinfak fii sabilillah 50 ribu dinar. Abdurrahman pernah memberikan harta kepada para sahabat yang ikut Perang Badar, saat itu yang masih hidup ada 100 orang, dan masing-masing mendapatkan 400 dinar. Abdurrahman pernah menginfakkan 1000 kuda fii sabilillah. Ini semua fi sabilillah. Sebegitu besar dan kayanya, tetapi penuh dengan keberkahan. Sebab Abdurrahman bin Auf sangat menjaga kehalalan rezekinya. Bagian ini perlu kita garis bawahi.

Kemudian, Abdurahman adalah adalah tipe orang yang sangat kaya, tetapi sangat takut dalam hidupnya karena terlalu kaya. Sampai Abdul Hayajz berkata, “Saya pernah melihat orang tawaf di sekekliling Ka’bah. Orang itu selalu berdoa, ‘Ya Allah… Lindungi aku dari pelitnya diriku.’ Abdul Hayajz bertanya, ‘Siapa orang itu?’ Mereka menjawab ‘Abdurrahman bin Auf.’”

Selain takut sekali menjadi orang yang kikir dan pelit, Abdurrahman juga sangat takut menjadi orang yang sangat kaya. Sebab dia khawatir kekayaan ini menjadi bukti bahwa kebaikannya telah dihabiskan di dunia, dan di akhirat ia tidak mendapatkan kebaikan.

Berkali-kali hal tersebut terjadi dalam hidupnya. Pernah suatu ketika ia ingin makan bersama para sahabat, dan dia ingat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Abdurrahman berkata, “Rasulullah tidak pernah makan seperti kita, sehebat kita makan hari ini, semewah kita makan hari ini.” Bahkan ketika mau meninggal pun ia menangis. Menangis sejadi-jadinya, kemudian dia mengingat orang-orang baik yang meninggal terlebih dahulu darinya. “Mush’ab bin Umair dan Hamzah lebih baik, bahkan mereka tidak mendapati kafan. Sedangkan saya orang kaya, saya takut ini adalah kebaikan yang dipercepat.”

Maka dari itulah, mari kita raih keberkahannya. Ketika ia banyak tetapi tidak membahayakan. Dan inilah salah satu makna keberkahan. Semoga Allah memberkahi kita semuanya.
Oleh: UST. BUDI ASHARI, LC.
Sumber: Akademisiroh

SHARE
Comment